KabarBaik.co – Sebagai salah satu profesi yang memiliki anggota tersebar di seluruh Indonesia, wartawan memiliki ajang silaturahmi tersendiri, salah satunya melalui kompetisi olahraga antar wartawan se-Indonesia. Ajang ini disebut dengan Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas).
Namun sayang, agenda ini tercoreng dengan adanya dugaan peserta yang bukan dari kalangan wartawan. Ada oknum yang ditengarai tiba-tiba menjadi wartawan dadakan dan dipaksa diikutsertakan dengan dalih prestasi. Pemain siluman, disebutnya.
M. Ali Mahrus, anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang memegang kartu tanda kelulusan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) dan salah satu wartawan di media besar di Jawa Timur pun akhirnya angkat bicara. Ia mengungkapkan begitu banyak keresahan yang dirasakan rekan seprofesinya.
Dalam keterangan tertulisnya, Mahrus menyoroti adanya hal ganjil yang kemudian dianggap suatu kewajaran bahkan rahasia umum jika PWI di daerah merekrut atlet profesional yang kemudian “di-wartawan-kan” dan diikutsertakan dalam Porwanas. Dengan dalih demi mendapatkan prestasi lebih.
“Katanya Porwanas ini salah satu tujuan utamanya adalah ajang silaturahmi wartawan tanah air. Kok yang bukan wartawan (di)ikut(kan)? Ini sama saja penghinaan profesi kita sebagai wartawan,” ungkapnya.
Ironisnya praktik kotor di dunia jurnalis atau wartawan ini pun diketahui oleh petinggi kepengurusan PWI di sejumlah daerah. Alih-alih menghentikan atau mencegah, justru mereka cenderung membiarkan atas nama gengsi daerah masing-masing.
Tak ayal, kondisi ini pun secara tak langsung menimbulkan kekecewaan bagi kalawangan wartawan profesional yang merasa disisihkan dengan cara tak layak dari hal yang seharusnya menjadi hak mereka.
Padahal, tak sedikit wartawan di daerah yang memenuhi syarat serta memiliki kemampuan untuk ikut kompetisi justru tak mendapatkan kesempatan karena jatah mereka telah diambil oleh peserta yang “di-wartawan-kan”.
Tak hanya dalam ajang olahraga sepakbola, namun juga di sejumlah cabang olahraga lainnya yang dipertandingkan di Porwanas.
Lalu jika sudah seperti itu, dimana letak kebanggaan dan kehormatan profesi wartawan jika ajang yang seharusnya milik mereka namun demi ambisi tertentu malah diisi oleh orang yang “di-wartawan-kan”. Bukankah hal ini menciderai Porwanas itu sendiri?.
Jelang pelaksanaan Porwanas tahun 2024 ini, sudah saatnya Porwanas kembali ke khittahnya yakni sebagai ajang silaturahmi dan kompetisi olahraga antar wartawan sejati.
Diperlukan ketegasan dari pihak penyelenggara dan PWI untuk memastikan bahwa peserta Porwanas adalah wartawan profesional yang telah terverifikasi. Dengan demikian, integritas ajang ini dapat terjaga dan wartawan sejati mendapatkan kesempatan yang seharusnya menjadi hak mereka.
Kembalinya Porwanas ke marwahnya bukan hanya tentang sebuah kompetisi olahraga, tetapi juga tentang menghargai dan menjunjung tinggi profesi wartawan di Indonesia.
Sudah waktunya untuk menghentikan praktik yang telah lama berlangsung ini dan mengembalikan Porwanas sebagai ajang yang benar-benar milik wartawan Indonesia.
Menanggapi hal ini, Ketua Umum PWI Pusat, Hendry CH Bangun, menegaskan bahwa ada syarat ketat bagi peserta Porwanas. “Peserta Porwanas harus bersertifikat kompetensi dan anggota biasa PWI,” ujar Hendry saat dikonfirmasi, Sabtu (6/7) .
Hendry juga menambahkan bahwa akan ada tim keabsahan yang bertugas memverifikasi setiap atlet Porwanas. Terkait dugaan kecurangan, Hendry menegaskan siap menindaklanjuti jika ada buktinya.
“Dugaan harus ada buktinya, kalau tidak maka itu disebut informasi hoaks. Apabila ada bukti silakan disampaikan ke PWI Pusat dan akan langsung dicek,” tutupnya. (*)






