KabarBaik.co, Bojonegoro – Duka mendalam tak hanya dirasakan keluarga yang ditinggalkan, tetapi juga warga Dusun Kaligede, Desa Meduri, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro. Kondisi jalan yang rusak parah memaksa warga menandu jenazah sejauh lebih dari tiga kilometer, Rabu (4/2) petang.
Dalam kondisi gelap gulita tanpa penerangan, keluarga dan warga setempat bergantian memanggul jenazah melewati jalan tanah yang licin dan berlumpur. Ambulans yang semula mengantar dari rumah sakit tak mampu melanjutkan perjalanan karena kondisi jalan yang tak bisa dilalui kendaraan.
Peristiwa tersebut terekam dalam sebuah video berdurasi 48 detik yang kemudian beredar luas di media sosial. Dalam video itu terlihat jenazah yang telah dikafani dan ditutup kain jarik ditandu secara manual menyusuri jalan becek yang hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki.
Perekam video terdengar mengungkapkan keprihatinannya dengan logat Jawa. Mereka mengeluhkan beratnya kondisi yang harus dihadapi warga Kaligede, terutama pada malam hari tanpa penerangan.
“Jalan tidak bisa dimasuki mobil, motor saja kesulitan. Karena jalannya licin beralaskan tanah,” ujar salah seorang warga dalam video tersebut.
Ia menjelaskan, jenazah awalnya hendak diantar ke rumah duka menggunakan mobil jenazah dari rumah sakit. Namun, ambulans hanya bisa sampai di dekat Masjid Samin (Masjid Wisata Religi). Dari titik tersebut hingga ke rumah duka, jenazah harus ditandu lebih dari tiga kilometer.
“Pulang dari rumah sakit, ambulans hanya bisa sampai dekat Masjid Samin. Dari situ sampai rumah, jenazah harus ditandu lebih dari tiga kilometer,” terangnya.
Menurut warga, kondisi jalan yang berlumpur, terlebih setelah hujan, membuat kendaraan roda empat mustahil melintas. Situasi ini kerap menyulitkan aktivitas warga, terutama saat kondisi darurat pada malam hari.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Desa Meduri, Hariyono, membenarkan kejadian tersebut. Ia mengakui akses menuju Dusun Kaligede masih berupa jalan tanah dengan medan yang sangat ekstrem di wilayah perbukitan.
“Itu jalannya ikut Perhutani, dan medannya sangat ekstrem. Desa Meduri memiliki 10 dusun, semuanya tidak ada yang saling tersambung, terputus hutan dan sungai,” ungkap Hariyono, Kamis (5/2).
Ia menambahkan, pihak desa telah berulang kali mengajukan permohonan peningkatan status dan perbaikan jalan. Namun hingga kini belum ada tindak lanjut, baik dari Pemerintah Kabupaten, Provinsi, maupun Pemerintah Pusat.
“Satu Dusun Kaligede terbagi lima kelompok pemukiman atau lima bukit. Semua terputus sungai, semuanya butuh jembatan dan jalan yang layak,” tegasnya. (*)






