KabarBaik.co, Surabaya – Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa bersama Kepala BNN RI Suyudi Ario Seto serta Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto, dan Anggota DPD RI dari Jatim Lia Istifhama menghadiri Akselerasi Asta Cita Presiden Republik Indonesia melalui Deklarasi Jawa Timur Bersih Narkoba (BERSINAR). Kegiatan ini berlangsung di Gedung Balai Pemuda, Surabaya, Jumat (14/2).
Acara ini bukan sekadar seremoni. Ia menjadi penanda dimulainya gerakan yang lebih sistematis dan masif, dengan desa sebagai simpul utama perlawanan terhadap narkoba.
Gubernur Khofifah menegaskan bahwa penguatan desa menjadi kunci utama. Menurutnya, BNN Pusat telah memberikan dukungan penuh agar desa-desa di Jawa Timur bergerak menjadi Desa BERSINAR, yaitu Desa Bersih Narkoba.
“Karena itu, kekuatan Pak Menteri Desa menjadi penting untuk membentuk dan mengawal desa-desa di Indonesia, terutama di Jawa Timur, agar benar-benar BERSINAR,” katanya.
Khofifah juga menyoroti dinamika ancaman narkoba yang terus bermetamorfosis. Ia menyebut, pengayaan dan pencerahan dari Kepala BNN RI menjadi bekal penting bagi pemerintah daerah untuk memahami perubahan bentuk dan modus peredaran narkoba yang semakin kompleks.
“Narkoba ini terus bermetamorfosis dalam berbagai bentuk yang bisa menimbulkan adiksi dan sangat mengganggu kapasitas serta kualitas sumber daya manusia kita,” tegasnya.
Bagi Jawa Timur, yang selama ini dikenal sebagai salah satu provinsi strategis secara ekonomi dan demografi, menjaga kualitas SDM adalah harga mati.
Bersama Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, BNN menginisiasi Integrasi Kurikulum Anti Narkoba ke dalam mata pelajaran seperti Biologi dan Matematika, tanpa menambah beban kurikulum.
Anak-anak, dari tingkat TK hingga SMA, akan diperkenalkan pada bahaya narkotika. Termasuk perkembangan New Psychoactive Substances (NPS) yang kini kerap disamarkan dalam bentuk makanan ringan, minuman, hingga rokok elektrik.
“Dengan edukasi ini, kita berharap anak-anak memiliki kekuatan dan keberanian untuk menolak narkotika,” kata Suyudi Ario Seto.
Sementara itu, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto menegaskan, Jawa Timur memiliki posisi strategis karena menjadi provinsi dengan jumlah desa terbesar di Indonesia, yakni 8.494 desa.
“Kalau desa-desa di Jawa Timur bebas narkoba, insyaallah Jawa Timur juga bebas narkoba,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa perang melawan narkoba membutuhkan keberanian kolektif. Masyarakat diminta tidak takut melapor dan tidak gentar menghadapi jaringan bandar.
Menurut Yandri, deklarasi ini harus menjadi ruh perjuangan yang hidup di tengah masyarakat, bukan sekadar pernyataan simbolik. “Dengan begitu, Jawa Timur bisa menjadi role model nasional sebagai provinsi bebas narkoba,” tegasnya.
Deklarasi Jawa Timur BERSINAR menjadi bagian dari dukungan terhadap Asta Cita Presiden Republik Indonesia. Dengan statusnya sebagai Gerbang Baru Nusantara, Jawa Timur dituntut bukan hanya maju secara ekonomi, tetapi juga bersih dari ancaman narkotika. Dan perang terhadap narkoba dimulai dari desa. (*)






