KabarBaik.co – Jatim kini berada dalam sorotan tajam setelah ditetapkan sebagai wilayah dengan temuan kasus tertinggi influenza A (H3N2) subclade K, atau super flu. Berdasarkan data Kemenkes hingga akhir Desember 2025, Jawa Timur menduduki peringkat pertama dari delapan provinsi yang terdampak di Indonesia.
Kondisi ini memicu reaksi keras dari parlemen. Wakil Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur, Jairi Irawan, menyoroti kinerja Dinas Kesehatan (Dinkes) Jatim yang dinilai kurang responsif dalam memitigasi ancaman infeksi pernapasan tersebut.
Anak-Anak Jadi Kelompok Paling Terdampak
Hingga pengujung tahun 2025, Kemenkes mencatat total 62 kasus Super Flu yang terdeteksi melalui 88 sentinel Influenza Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infections (SARI) di seluruh Indonesia. Jawa Timur memimpin jumlah kasus, disusul oleh Kalimantan Selatan dan Jawa Barat.
Data laboratorium menunjukkan profil pasien didominasi oleh perempuan (64%), sementara kelompok usia 1 hingga 10 tahun menyumbang 35% dari total kasus. Tingginya angka pada anak-anak menjadikan kelompok ini sebagai yang paling rentan terhadap serangan virus subclade K tersebut.
Juru Bicara Kemenkes RI, Widyawati, menyatakan bahwa meskipun daya tular virus ini tinggi, masyarakat diharapkan tetap tenang namun waspada. la menekankan agar pemerintah daerah, khususnya di wilayah dengan kasus tinggi, segera memperketat langkah pencegahan.
DPRD Jatim: Dinkes Harus Lebih Agresif
Menanggapi status Jawa Timur sebagai episentrum, Jairi meminta Dinkes Jatim tidak pasif. Politisi Partai Golkar ini mendesak agar promosi kesehatan dan penyebaran informasi dilakukan secara masif mengingat tingginya mobilitas penduduk di Jatim.
“Promosi dan informasi ke masyarakat harus diperbanyak. Jangan sampai warga tidak paham risiko dan gejala Super Flu. Edukasi itu kunci pencegahan,” ujar Jairi saat memberikan keterangan di Surabaya, Selasa (6/1).
Selain edukasi, Jairi mendorong Dinkes Jatim untuk menghidupkan kembali secara masif program Cek Kesehatan Gratis. Menurutnya, langkah ini sangat efektif sebagai deteksi dini agar pasien tidak masuk dalam kondisi berat yang membebani fasilitas rumah sakit.
“Cek kesehatan gratis perlu dimasifkan lagi. Ini penting untuk memotong risiko penularan sejak awal,” tegas legislator yang membidangi kesehatan dan kesejahteraan rakyat tersebut.
Pencegahan Proaktif Sebelum Krisis
Jairi menilai pendekatan promotif dan preventif harus berjalan seimbang. Sosialisasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta dorongan vaksinasi influenza harus menjadi prioritas utama Dinkes Jatim, terutama untuk melindungi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
“Kalau Dinkes aktif turun ke masyarakat, sekolah, dan fasilitas publik, dampaknya akan besar. Jangan menunggu lonjakan kasus baru bergerak. Ini momentum bagi Dinkes Jatim untuk menunjukkan kinerja yang sigap, responsif, dan proaktif. Kesehatan masyarakat tidak boleh menunggu sampai krisis,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat diimbau untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala gangguan pernapasan akut dan tetap menerapkan protokol kesehatan di ruang publik. (*)






