Jejak Air Mata di Bengawan Terung Sidoarjo, Kisah Pilu Raden Ayu Putri Ontjat Tondo Wurung yang Dibunuh karena Fitnah

oleh -556 Dilihat
Pesarean Raden Ayu Putri Ontjat Tondo Wurung di Terung Wetan, Sidoarjo (Yudha)

KabarBaik.co – Udara pagi itu begitu teduh di Desa Terung Wetan, Krian, Sidoarjo. Matahari belum tinggi, namun aroma bunga pandan wangi sudah menyusup di sela-sela semilir angin. Di bawah naungan dua pohon beringin yang menjulang, langkah kaki para peziarah pelan-pelan mendekati sebuah tempat yang sejak ratusan tahun lalu menyimpan cerita luka, Pesarean Raden Ayu Putri Ontjat Tondo Wurung.

Sumaji, sang juru kunci, membuka pintu kayu yang telah memudar warnanya.

“Kalau hari Jumat Legi biasanya ramai,” gumamnya sambil menunjuk batu nisan putih yang sudah dilapisi bedak wangi oleh peziarah sebelumnya, Minggu (11/1).

Di sekeliling makam, suasana begitu sunyi. Seolah waktu berhenti. Dan di situlah kisah dimulai, kisah tentang seorang putri cantik, anak tunggal seorang Adipati, yang dihukum mati oleh ayahnya sendiri karena sebuah kesalahpahaman.

Ratusan tahun silam, ketika Majapahit masih berdiri megah, Kadipaten Terung menjadi salah satu bagian wilayahnya. Raden Kusein, sang Adipati, dikenal bijak. Tapi lebih dari itu, dia sangat menyayangi anak perempuannya, Raden Ayu Putri Ontjat.

Gadis itu tak hanya cantik, tapi juga anggun dan sederhana. Hobinya menanam bunga, terutama pandan wangi, membuat halaman kadipaten selalu harum. Bunga-bunga itu tak disimpannya sendiri. Ia berikan kepada warga, sebagai bentuk cinta.

Makam Raden Ayu Putri Ontjat Tondo Wurung (Ist)

Namun sebuah kejadian mengubah segalanya. Suatu pagi, ketika ingin memanen bunga, Raden Ayu lupa membawa pisau. Ia lalu meminjam milik seorang tua sakti.

“Jangan sekali-kali letakkan di pangkuanmu,” pesan si empunya pisau.

Tapi karena terlalu larut dalam kegembiraan memotong bunga, sang Putri melupakan pesan itu. Ia meletakkan pisau di pangkuannya dan pisau itu pun hilang. Selang beberapa waktu kemudian, perutnya mulai membesar.

Desas-desus pun merebak. Orang-orang berbisik bahwa sang Putri hamil tanpa suami. Fitnah meluas seperti api membakar jerami. Dan ketika sang Ayah pulang dari perjalanan, kabar itu telah lebih dulu menghantam telinganya.

Raden Ayu menangis. Ia menyangkal semua tuduhan. Tapi hatinya hancur ketika sang Ayah, lelaki yang dulu menggandeng tangannya saat kecil, tak lagi percaya.

“Untuk kehormatan keluarga,” ucap sang Adipati dengan berat hati.

Sebelum dihukum mati, Raden Ayu sempat berkata, “Jika aku tak bersalah, darahku akan putih dan harum. Jika aku salah, maka merah dan berbau anyir. Setelah itu, larungkan jasadku ke Bengawan Terung,” pesan Raden Ayu.

Makam Raden Ayu Putri Ontjat Tondo Wurung (Ist)

Dan saat pusaka Segoro Wedang menghujam tubuhnya, darah putih dengan aroma semerbak pun mengalir. Raden Kusein jatuh berlutut. Ia merangkul tubuh anaknya, tapi sudah terlambat. Penyesalan datang ketika nyawa telah pergi.

Jenazah Raden Ayu dilarung ke sungai, namun Bengawan Terung tiba-tiba berhenti mengalir. Airnya surut, tubuh sang Putri tetap mengambang. Seolah alam menolak kehilangan dirinya. Akhirnya jenazah itu dimakamkan di tempat di mana aliran sungai berhenti. Di sinilah sekarang makamnya berada.

Hari ini, ratusan tahun setelah peristiwa itu, makam Raden Ayu tak pernah sepi dari peziarah. Mereka datang membawa doa, harapan, dan keyakinan.

Bedak yang dioleskan ke nisan dipercaya membawa berkah. Konon bisa mempercantik wajah, bahkan mempercepat datangnya jodoh bagi yang masih sendiri.

Tapi lebih dari itu, setiap langkah menuju pesarean ini adalah perjalanan untuk mengingat, betapa berbahayanya fitnah, dan betapa mahal harga sebuah kebenaran yang datang terlambat.

Makam itu tidak hanya menyimpan jasad seorang Putri. Ia menyimpan luka sejarah, keteguhan hati, dan cinta yang tak sempat diselamatkan. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Yudha Furry
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.