KabarBaik.co– “Alhamdulillah… Alhamdulillah Ya Allah,” teriak spontan sejumlah relawan tim pencari setelah memastikan bahwa sesosok tubuh di hadapannya itu adalah benar-benar Syafiq Ridhan Ali, 18, pendaki Gunung Slamet, Jawa Tengah, yang hilang jejak sejak 17 hari lalu.
Syafiq ditemukan sudah dalam keadaan tidak bernyawa di jalur Gunung Malang, pada 14 Januari. Dalam video yang beredar, relawan juga menemukan sejumlah barang milik korban. Di antaranya, dompet, STNK, senter, sepatu dan sejumlah benda bawaan lainnya. Sebelum mendapati jasad Syafiq di lokasi, ada relawan yang mendapat saloko alias pertanda berupa sehelai kain mori (kafan). Karena itu, pencarian difokuskan di sekitar lokasi itu. Dan, benar jasad pelajar SMA di Magelang itu akhirnya ditemukan.
Namun, lokasi penemuan jasad yang berada di area tinggi punggungan Gunung Malang itu memunculkan tanda tanya: mengapa ia ditemukan di atas? Padahal, saksi terakhir melihatnya berjalan ke bawah?
Berdasarkan kesaksian rekannya, Himawan, Syafiq terakhir kali terlihat bergerak turun saat mereka terpisah. Syafiq hendak meminta bantuan karena kaki Himawari terkilir dan sudah tidak kuat berjalan. Namun, relawan pencari justru menemukan jasadnya di area tebing dan punggungan yang terjal di ketinggian di titik perpisahan dengan temannya.
Secara medis, kontradiksi ini bukanlah hal yang aneh bagi penyintas hipotermia ekstrem. Para ahli menjelaskan bahwa pada tahap hipotermia berat, manusia mengalami disorientasi ruang. Otak yang kekurangan suhu inti akan kehilangan kemampuan navigasi, sehingga korban seringkali salah mengira arah atas sebagai bawah, atau sebaliknya.
Selain itu, terdapat insting yang disebut Terminal Burrowing. Sebelum kehilangan kesadaran, korban hipotermia memiliki insting primitif untuk “bersembunyi” dari terpaan angin kencang. Alih-alih mengikuti jalur turun yang terbuka, korban sering mendaki ke celah-celah bebatuan atau punggungan sempit yang dirasa lebih terlindungi, meski lokasi tersebut secara logika justru lebih berbahaya dan sulit dijangkau.
Kondisi jasad Syafiq yang ditemukan dengan pakaian tidak lengkap—seperti sepatu dan kaus kaki yang terlepas—sempat memicu asumsi mistis di kalangan awam. Namun, sains memberikan penjelasan yang lebih memilukan melalui fenomena Paradoxical Undressing. Yakni, saat tubuh membeku, pembuluh darah akan mengalami kegagalan fungsi dan melebar secara mendadak. Hal ini mengirimkan gelombang panas palsu yang sangat hebat ke otak. Dalam kondisi setengah sadar (delirium), korban akan merasa tubuhnya panas dan justru melepas pakaian mereka demi mencari rasa dingin, tepat sesaat sebelum ajal menjemput.
Kemenangan Solidaritas Melampaui Batas Waktu
Sisi lain yang patut menjadi sorotan adalah dedikasi luar biasa dari para relawan. Secara administratif, operasi SAR resmi biasanya ditutup pada hari ke-7. Namun, banyak relawan dari berbagai komunitas di Jawa Tengah menolak untuk menyerah begitu saja. Selama 10 hari tambahan setelah operasi resmi berakhir, para relawan ini bergerak secara mandiri. Mereka bertaruh di tengah cuaca ekstrem Gunung Slamet hingga akhirnya berhasil mengevakuasi Syafiq di hari ke-17. Proses evakuasi pun berlangsung cukup lama. Dari titik penemuan hingga basecamp butuh waktu sekitar 15 jam.
Misi para relawan tampaknya bukan lagi masalah prosedur, melainkan soal kemanusiaan. Memulangkan Syafiq kepada keluarganya. “Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para relawan yang terus tanpa henti, tanpa kenal lelah, tutun naik setiap hari. Terima kasih juga kepada semua pihak yang membantu,” kata Dani, keluarga almarhum, kepada awak media.
Tragedi ini menjadi pengingat bagi para pendaki untuk selalu hati-hati dan waspada. Temasuk bahaya sistem pendakian tektok yang mengabaikan manajemen kelelahan. Pemahaman akan gejala awal hipotermia dan pentingnya tetap diam di tempat saat tersesat (Sit, Think, Observe, Plan) menjadi pelajaran.
Kini, Syafiq telah kembali ke rumah. Ia meninggalkan sebuah catatan penting tentang batas rapuh tubuh manusia di ketinggian, dan kekuatan ikatan persaudaraan para pendaki yang tak mampu diputus oleh aturan waktu. (*)







