KabarBaik.co, Jakarta- Jugen Habermas, filsuf dan sosiolog yang menjadi salah satu pemikir paling berpengaruh di abad ke-20 dan 21, meninggal dunia pada 14 Maret 2026 di Starnberg, dekat Munich, Jerman. Meninggal di usia 96 tahun.
Kabar duka ini dikonfirmasi oleh penerbitnya, Suhrkamp Verlag, dan dilaporkan luas oleh media internasional seperti The New York Times, The Guardian, NPR, BBC, serta sumber Indonesia.
Kepergiannya meninggalkan kekosongan besar dalam filsafat kritis, teori sosial, dan pemikiran demokrasi modern.
Habermas bukan sekadar akademisi. Ia adalah intelektual publik yang memperjuangkan ruang publik yang rasional, dialog antarmanusia yang bebas dominasi, dan demokrasi deliberatif. Ide-ide yang terasa sangat dekat dan mendesak bagi masyarakat sosial kekinian yang digempur polarisasi media sosial, hoaks, populisme, serta krisis kepercayaan terhadap demokrasi.
Masa Kecil di Bayang-Bayang Rezim Nazi
Nama lengkapnya Friedrich Ernst Jurgen Habermas. Lahir pada 18 Juni 1929 di Dusseldorf, Republik Weimar. Ia dibesarkan di Gummersbach, kota kecil dekat Cologne, dalam keluarga Protestan taat. Ayahnya bergabung dengan Partai Nazi sejak 1933. Seperti anak sebayanya, Habermas kecil bergabung dengan Deutsches Jungvolk (bagian junior Hitler Youth) dan bahkan naik pangkat.
Lahir dengan bibir sumbing sehingga harus operasi dua kali. Gangguan bicara itu justru menjadi benih pemikirannya tentang ketergantungan manusia pada komunikasi mendalam. Pada usia 15 tahun (1944–1945), ia menjadi Flakhelfer—remaja yang membantu operasi meriam anti-pesawat
Pengalaman itu jadi titik balik. Setelah perang, melihat sidang Nuremberg dan film kamp konsentrasi, ia berkata: “Kami sadar telah hidup dalam sistem politik kriminal.” Rasa malu kolektif atas Nazi membentuk komitmen seumur hidupnya terhadap pencerahan, rasionalitas, dan penolakan totalitarianisme.
Masa Muda: Dari Kritik Heidegger hingga Frankfurt School
Pasca-perang, Habermas belajar filsafat di Universitas Göttingen, Zürich, dan Bonn. Ia meraih doktor pada 1954 dengan disertasi tentang Schelling. Ia mengkritik Martin Heidegger yang masih membela “kebenaran batin” Nazisme.
Pada 1956, ia menjadi asisten Theodor W. Adorno di Institut Penelitian Sosial Frankfurt, pusat Mazhab Frankfurt generasi kedua. Ia menyerap teori kritis, tapi berbeda. Sementara Adorno pesimis terhadap Pencerahan, Habermas percaya proyek Pencerahan adalah “proyek yang belum selesai” dan bisa diselamatkan melalui komunikasi rasional.
Karier Gemilang dan Pemikiran Utama
Tahun 1961, ia menyelesaikan habilitasi dengan karya fenomenal Strukturwandel der Öffentlichkeit (Transformasi Struktural Ruang Publik). Buku ini jadi landasan bahwa ruang publik adalah tempat warga biasa bertemu bebas untuk membentuk opini publik rasional. Bukan dikendalikan negara atau pasar. Di era media massa, ia sudah memperingatkan bagaimana ruang publik bisa “terkolonisasi”.
Bayangkan dulu di warung kopi atau musala setelah salat, orang dari berbagai latar (sopir angkot, guru, pedagang) ngobrolin masalah kampung seperti banjir atau harga sembako. Semua boleh bicara, tak ada yang dominan karena duit atau jabatan. Mereka debat pakai alasan logis, akhirnya sepakat membangun got bareng. Itulah ruang publik ideal. Di zaman sekarang: media sosial, grup WA RT, atau demo damai, tapi sering rusak karena echo chamber, hoaks, atau buzzer berbayar yang “mengkolonisasi” ruang itu.
Puncak pemikirannya pada 1981 dengan Theorie des kommunikativen Handelns (Teori Tindakan Komunikatif). Ia membedakan dua jenis tindakan:
Tindakan Strategis (seperti main catur atau jualan). Bicara untuk mengalahkan atau bmanfaatkan orang lain demi tujuan pribadi. Seorang sales bohong “stok terakhir” biar cepat laku, atau politisi janji manis saat kampanye cuma biar dipilih.
Tindakan Komunikatif, bicara supaya saling mengerti dan mencapai kesepakatan berdasarkan alasan terbaik, tanpa paksaan. Suami-istri ribut liburan, bukan marah atau ancam, tapi duduk bareng: “Kamu pengen pantai, aku gunung. Gimana kalau tempat yang ada keduanya?” Akhirnya sepakat kompromi.
Intinya, masyarakat baik lebih banyak pakai tindakan komunikatif, bukan strategis. Ini menjadikan demokrasi lebih sehat. Bukan cuma pemilu, tapi diskusi terus-menerus.
Ia juga mengembangkan situasi bicara ideal (ideal speech situation). Syarat diskusi adil,
Semua boleh ikut bicara, tak ada diskriminasi. Boleh tanya, kritik, usul. Tak ada paksaan (ancaman, duit, jabatan, atau cyberbullying). Yang menang argumen paling masuk akal, bukan yang paling kaya/berkuasa.
Rapat keluarga besar soal warisan kalau semua bicara jujur tanpa intimidasi, dan sepakat berdasarkan keadilan, itu mendekati ideal. Di dunia nyata sulit 100 persen, tapi harus diusahakan sebisa mungkin.
Hingga Usia Senja: Tetap Produktif dan Kritis
Habermas pensiun dari Universitas Frankfurt pada 1994, pindah ke Starnberg. Tetap aktif sebagai profesor tamu di AS. Ia terlibat Historikerstreit (1986) melawan relativisasi Holocaust, dialog dengan Kardinal Ratzinger (2004) tentang agama di sekuler, kritik krisis Uni Eropa, kebijakan Merkel, dan populisme.
Di usia 90-an, ia terbitkan buku penting seperti Also a History of Philosophy (2024). Ia menikah dengan Ute Wesselhoeft (guru) sejak 1955; Ute meninggal 2025. Mereka punya tiga anak: Tilmann, Rebekka (sejarawan, meninggal 2023), dan Judith.
Pemikiran yang Terasa Sangat Dekat dengan Masyarakat Sosial Kekinian
Mengapa Habermas masih relevan di 2026? Karena ruang publik yang digambarkan kini berubah jadi media sosial. Algoritma, echo chamber, cancel culture, hoaks justru “mengkolonisasi” seperti yang ia ramalkan. Teori tindakan komunikatifnya jadi obat: kita butuh dialog rasional, bukan like/retweet semata. Di era post-truth dan populisme, demokrasi deliberatif mengingatkan bahwa demokrasi bukan hanya pemilu, tapi proses diskusi setara antarwarga.
Di Indonesia, pemikirannya fondasi filosofis penegakan HAM dan demokrasi. Teorinya menjelaskan mengapa diskursus di medsos sering gagal mencapai konsensus, serta bagaimana membangun ruang publik inklusif di tengah keragaman agama, etnis, politik.
Habermas pernah berkata: “Jika ada sedikit utopia yang saya pertahankan, itu keyakinan bahwa demokrasi mampu memotong simpul Gordian dari masalah tak terpecahkan. Kita tidak tahu apakah berhasil, tapi karena tidak tahu, kita tetap harus mencoba.”
Kepergian Jurgen Habermas meninggalkan dunia lebih miskin satu suara besar. Namun warisannya—ruang publik rasional, dialog manusiawi, demokrasi tak pernah selesai—tetap hidup dan semakin mendesak di masyarakat sosial hari ini. Warisan pemikiran Habermas terus menginspirasi kita untuk “mencoba” membangun perdaban dunia ini menjadi lebih baik. (*)






