Kadinkes NTB: 90 Persen Pernikahan Dini Berisiko Lahirkan Anak Stunting

oleh -137 Dilihat
Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Hamzi Fikri. (Foto: Arief Rahman)

KabarBaik.co – Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Hamzi Fikri, menegaskan bahwa pernikahan usia muda menjadi salah satu faktor dominan penyebab tingginya angka stunting di daerah ini.

Ia menyebut, secara fisik dan psikologis, pasangan yang menikah di usia dini belum siap untuk memiliki keturunan.

“Fisik dan psikologis orang yang menikah di usia muda itu tidak siap. Sekitar 80 sampai 90 persen berpotensi melahirkan anak stunting,” ujar Hamzi, Selasa (6/1).

Menurutnya, kontribusi pernikahan usia dini terhadap kasus stunting di NTB mencapai sekitar 30 persen, sehingga persoalan ini harus mendapatkan perhatian serius dari semua pihak.

Hamzi memaparkan, berdasarkan data yang dihimpun Dinas Kesehatan, terdapat ketimpangan angka kelahiran remaja. Dalam setahun, tercatat sebanyak 1.000 persalinan di puskesmas banyak yang tidak terlapor karena pernikahan dilakukan di bawah tangan.

Sementara itu, jumlah ibu melahirkan di puskesmas dengan usia di bawah 20 tahun hampir mencapai 6.000 orang. “Ini ada perbedaan data. Bisa jadi banyak pernikahan usia muda yang tidak dilaporkan,” katanya.

Ia menambahkan, angka pernikahan usia dini di NTB hingga kini masih tergolong tinggi. Fenomena tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari ekonomi, sosial, hingga budaya yang sudah mengakar di masyarakat.

Karena itu, Hamzi menekankan pentingnya peran semua elemen, terutama tokoh masyarakat, tokoh agama, dan tokoh adat, dalam upaya pencegahan pernikahan dini.

“Peran tokoh masyarakat sangat penting. Ini tidak bisa dikerjakan sendiri, harus semua bergerak,” tegasnya.

Jika pernikahan usia dini sudah terlanjur terjadi, Hamzi menyarankan agar pasangan tersebut menunda kehamilan dengan menggunakan alat kontrasepsi, hingga benar-benar siap secara fisik dan psikologis.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa penanganan stunting tidak bisa hanya berfokus pada aspek gizi semata. Pernikahan usia muda masih menjadi faktor dominan, namun sanitasi dan lingkungan juga memiliki pengaruh besar.

“Stunting bukan hanya soal nutrisi. Ini penyakit kronis yang dipengaruhi banyak faktor, termasuk sanitasi dan kesiapan orang tua,” pungkasnya.(*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Arief Rahman
Editor: Andika DP


No More Posts Available.

No more pages to load.