KabarBaik.co, Jember – Keselamatan di jalur kereta api (KA) sangat bergantung pada pemahaman masyarakat mengenai karakteristik teknis moda transportasi ini. Berbeda dengan kendaraan kecil, kereta api memiliki sistem pengereman yang tidak dapat bekerja secara instan.
Menanggapi hal tersebut, PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 9 Jember kembali mengedukasi masyarakat mengenai mekanisme pengereman KA guna menekan angka kecelakaan di perlintasan.
Manager Hukum dan Humas Daop 9 Jember, Cahyo Widiantoro, menjelaskan bahwa kereta api menggunakan sistem rem udara (air brake system) yang bekerja secara terintegrasi pada seluruh rangkaian gerbong.
“Sistem rem kereta api bekerja melalui manipulasi tekanan udara. Tekanan normal dalam pipa rem berada pada kisaran 5 bar. Uniknya, saat Masinis melakukan pengereman, tekanan udara di pipa justru sengaja diturunkan untuk mengaktifkan sistem rem di setiap roda gerbong,” jelas Cahyo.
Mekanisme Teknis dan Jarak Pengereman Secara teknis, udara bertekanan tinggi (8–10 bar) dari reservoir utama akan mengalir ke silinder rem saat tekanan pipa dikurangi.
Proses ini menciptakan gaya gesek (friksi) yang besar antara brake block dengan roda. Namun, massa kereta yang sangat besar menciptakan inersia (gaya dorong) yang kuat, sehingga energi kinetik tidak bisa hilang seketika.
Melihat fakta bahwa kereta membutuhkan jarak hingga hampir satu kilometer untuk berhenti pada kecepatan tinggi, KAI Daop 9 Jember menegaskan pentingnya kedisiplinan masyarakat di perlintasan sebidang.
“Masyarakat harus paham bahwa Masinis tidak bisa melakukan ‘rem mendadak’ seperti mobil. Kami mengimbau dengan sangat agar tidak ada yang menerobos palang pintu atau melakukan aktivitas di sepanjang jalur rel. Keselamatan perjalanan kereta api adalah tanggung jawab kita bersama,” tegas Cahyo.
KAI Daop 9 Jember berkomitmen untuk terus menjaga keandalan sarana pengereman melalui perawatan berkala serta memberikan edukasi berkelanjutan demi menciptakan perjalanan KA yang aman, selamat, dan nyaman. (*)








