Karnaval HUT RI Makin Modern, Seniman Jombang Ingatkan Jangan Lupakan Budaya

oleh -117 Dilihat
Seniman Jombang Mohammad Akhyak mengingatkan agar kemeriahan karnaval HUT RI tetap mengedepankan nilai budaya dan edukasi.(istimewa)
Seniman Jombang Mohammad Akhyak mengingatkan agar kemeriahan karnaval HUT RI tetap mengedepankan nilai budaya dan edukasi.(istimewa)

KabarBaik.co, Jombang – Karnaval budaya menjadi salah satu tradisi yang paling dinantikan masyarakat setiap perayaan HUT Kemerdekaan RI. Namun, kemeriahan tersebut dinilai tetap harus dibarengi dengan upaya menjaga nilai sejarah dan budaya yang ditampilkan.

Seniman Jombang Mohammad Akhyak menilai karnaval budaya tidak semestinya hanya menjadi ajang hiburan. Menurutnya, kegiatan tersebut juga bisa menjadi ruang edukasi bagi masyarakat, terutama generasi muda untuk mengenal sejarah dan kekayaan budaya Nusantara.

Akhyak yang dikenal sebagai Pelukis Pasir Jombang mengatakan perkembangan kreativitas dalam karnaval merupakan hal positif. Musik modern, tata cahaya, multimedia, hingga konsep pertunjukan kekinian dinilai sah digunakan untuk membuat acara lebih menarik. Namun, inovasi tersebut jangan sampai menghilangkan unsur budaya.

“Modernitas tidak boleh menghapus identitas. Kemajuan tidak boleh membuat kita lupa siapa diri kita,” kata Akhyak dalam keterangannya, Senin (10/8).

Menurutnya, penggunaan istilah karnaval budaya memiliki konsekuensi terhadap materi yang ditampilkan. Unsur budaya seharusnya menjadi bagian utama, bukan sekadar pelengkap.

Karnaval juga bisa menjadi media pembelajaran yang menyenangkan bagi anak-anak. Mereka dapat dikenalkan dengan pakaian adat, tarian tradisional, tokoh perjuangan, rumah adat, alat musik tradisional, permainan rakyat, batik, tenun, hingga cerita sejarah dan kepahlawanan.

“Kalau dikemas dengan baik, karnaval bukan hanya tontonan. Anak-anak bisa penasaran dan kemudian bertanya kepada orang tua tentang apa yang mereka lihat,” ujarnya.

Akhyak juga mengenang karnaval pada masa lalu yang menurutnya lebih banyak mengangkat tema perjuangan kemerdekaan dan kekayaan budaya daerah.

Saat itu, peserta karnaval kerap memerankan tokoh perjuangan, petani, nelayan hingga masyarakat biasa. Berbagai miniatur candi, gunungan hasil bumi, rumah adat dan kesenian daerah turut ditampilkan. Konsep tersebut dinilai mampu memunculkan rasa ingin tahu anak-anak.

“Mereka kemudian bertanya tentang pakaian adat, tarian, atau tokoh yang diperankan. Menurut saya, munculnya pertanyaan itu justru menjadi salah satu keberhasilan karnaval budaya,” jelasnya.

Menurut Akhyak, karnaval seharusnya mampu menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk mengenal sejarah dan tradisi.

Selain substansi budaya, Akhyak juga mengingatkan penyelenggara agar memperhatikan kenyamanan masyarakat di sepanjang rute karnaval.

Menurutnya, ruang publik yang digunakan untuk perayaan kemerdekaan juga menjadi tempat beraktivitas masyarakat dengan berbagai kondisi. Ada bayi, lansia, warga yang sedang sakit hingga anak-anak.

Karena itu, kemeriahan acara harus tetap memperhatikan lingkungan sekitar dan hak masyarakat lain untuk menikmati perayaan secara nyaman.

“Kemerdekaan tidak hanya berbicara tentang kebebasan berekspresi. Kemerdekaan juga mengajarkan penghormatan kepada hak orang lain,” tegasnya.

Akhyak menegaskan kritik tersebut bukan untuk menyalahkan panitia maupun generasi muda. Sebaliknya, ia mendorong kreativitas anak muda tetap diberi ruang, tetapi diarahkan untuk memperkuat identitas budaya.

Ia berharap penyelenggara karnaval di Jombang lebih banyak melibatkan seniman daerah, sanggar tari, kelompok karawitan, komunitas pencak silat, pelaku UMKM dan komunitas budaya lainnya.

Berbagai tema juga dapat diangkat, mulai dari perjuangan kemerdekaan, sejarah desa, legenda lokal, permainan tradisional, batik, tenun, hasil bumi, kerajinan hingga kendaraan hias bertema pendidikan dan budaya.

Dengan konsep tersebut, karnaval kemerdekaan bisa menjadi ruang bertemunya kreativitas generasi muda dengan warisan budaya lokal.

Akhyak berharap karnaval budaya di Jombang ke depan tidak berhenti sebagai tontonan semata.

“Masyarakat yang datang menyaksikan diharapkan dapat menikmati seni, mengenal sejarah, memahami tradisi, sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas bangsa,” katanya.

Ia menilai kemeriahan karnaval hanya berlangsung sesaat. Sementara nilai pendidikan dan kecintaan terhadap budaya dapat menjadi investasi jangka panjang bagi generasi penerus.

Karena itu, ia mengajak pemerintah, panitia penyelenggara, tokoh masyarakat, seniman, pemuda dan warga bersama-sama mengevaluasi konsep karnaval budaya.

“Harapannya, setiap perayaan kemerdekaan tidak hanya berlangsung meriah, tetapi juga memiliki nilai pendidikan dan budaya,” harapnya.

Menurut Akhyak, menjaga budaya bukan berarti menolak modernitas. Justru teknologi dan kreativitas dapat dimanfaatkan untuk mengemas budaya Nusantara agar semakin menarik bagi generasi muda.

Ia berharap karnaval budaya Jombang dapat berkembang menjadi panggung yang mempertemukan seni, sejarah, tradisi dan kreativitas masyarakat.

“Dengan demikian, karnaval tidak hanya dikenang karena kemeriahannya, tetapi juga karena mampu memperkenalkan dan memperkuat jati diri budaya Indonesia kepada generasi berikutnya,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Teguh Setiawan
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.