Kebun Edukasi Eptilu Garut Jadi Contoh Pertanian Modern, Teknologi Dongkrak Produktivitas Cabai hingga Panen Rutin Tiap Pekan

oleh -46 Dilihat
Melalui perpaduan metode alami dan teknologi, kawasan ini mampu menghasilkan komoditas pertanian seperti cabai dan tomat dengan kualitas unggul serta produksi yang melimpah. (Foto: Dani)

KabarBaik.co, Garut – Kebun Edukasi Eptilu (F3/Fresh From Farm) di Desa Mekarsari, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Jawa Barat, berkembang menjadi salah satu percontohan pertanian modern berbasis hortikultura di Indonesia. Melalui perpaduan metode alami dan teknologi, kawasan ini mampu menghasilkan komoditas pertanian seperti cabai dan tomat dengan kualitas unggul serta produksi yang melimpah.

Keberhasilan tersebut tidak lepas dari penerapan teknologi tepat guna, pengelolaan irigasi yang baik, serta sistem budidaya modern yang diterapkan secara konsisten di lahan pertanian Eptilu.

Owner Eptilu, Rizal Fahreza, menjelaskan bahwa kebun edukasi ini sengaja dirancang sebagai ruang pembelajaran bagi petani maupun masyarakat umum. Di lokasi tersebut diterapkan dua model pertanian sekaligus, yakni metode alami dan pertanian berbasis teknologi.

“Supaya pengunjung bisa melihat langsung perbedaannya. Pertanian alami seperti apa hasil dan pertumbuhannya, dan yang menggunakan teknologi seperti apa perkembangannya,” ujar Rizal saat menerima kunjungan media Jawa Timur, Minggu (15/2).

Perbedaan hasil terlihat jelas pada budidaya cabai rawit. Tanaman yang dibudidayakan secara alami memiliki masa tanam sekitar delapan bulan, terdiri dari empat bulan masa pertumbuhan dan empat bulan masa produksi. Kondisi daun cenderung kecil, keriting, dan mudah menguning.

Sementara itu, cabai rawit yang ditanam menggunakan teknologi mampu bertahan hingga dua sampai tiga tahun. Tanaman tumbuh lebih tinggi, bahkan mencapai lebih dari 1,5 meter, dengan daun lebar berwarna hijau segar serta buah cabai yang lebih besar dan panjang.

Rizal mengungkapkan, teknologi budidaya tersebut diadaptasi dari Amerika Serikat. Sistem penanaman dilakukan di dalam greenhouse, sementara penyiraman tanaman diatur melalui aplikasi digital yang dapat dikendalikan menggunakan ponsel.

Pembangunan greenhouse berkapasitas sekitar 4.000 tanaman itu mendapat dukungan Bank Indonesia sejak 2022. Hasilnya, produktivitas meningkat signifikan dengan kualitas panen yang lebih stabil.

Greenhouse tersebut telah memasuki dua siklus tanam. Pada penanaman pertama, tanaman mampu bertahan hingga tiga tahun. Bahkan, setelah tiga bulan masa tanam awal, panen sudah dapat dilakukan secara rutin setiap pekan.
“Setiap minggu bisa panen, dan sekali panen hasilnya di atas satu ton,” kata Rizal.

Produksi cabai, tomat, dan komoditas hortikultura lainnya awalnya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar. Namun karena hasil yang melimpah, Eptilu kini mampu memperluas pasar melalui kerja sama antar daerah, sehingga produk pertanian mereka dapat dipasok hingga ke DKI Jakarta dan Banten.

Selain menjual produk segar, Eptilu juga mengembangkan berbagai produk olahan untuk meningkatkan nilai tambah hasil panen. Langkah ini menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pertanian terpadu dari hulu hingga hilir.

Sejak berdiri pada 2019, Eptilu terus menunjukkan perkembangan pesat. Dari awalnya hanya mengelola lahan seluas 5 hektare, kini area pertanian yang dikelola telah berkembang menjadi sekitar 75 hektare.

Transformasi Eptilu menjadi bukti bahwa penerapan teknologi, edukasi, dan kolaborasi mampu menghadirkan wajah baru pertanian Indonesia yang lebih modern, produktif, dan berkelanjutan. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Dani
Editor: Hairul Faisal


No More Posts Available.

No more pages to load.