Khidmat di Lereng Anjasmoro, Ratusan Umat Hindu Jombang Gelar Prosesi Melasti

oleh -6 Dilihat
WhatsApp Image 2026 03 15 at 4.10.43 AM
Ratusan umat Hindu mengikuti upacara Melasti di sumber air Dusun Tegalrejo, Wonosalam, Jombang (Teguh Setiawan)

KabarBaik.co, Jombang — Ratusan umat Hindu di Jombang menggelar prosesi Upacara Melasti sebagai rangkaian menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948.

Ritual penyucian diri dan benda-benda sakral pura tersebut dilaksanakan di sumber mata air Dusun Tegalrejo, Desa Jarak, Wonosalam, yang berada di lereng Gunung Anjasmoro.

Sejak pagi, umat Hindu berjalan beriringan membawa berbagai sarana upacara dari Pura Giri Anjasmara menuju lokasi sumber air. Arak-arakan berlangsung khidmat dengan iringan doa dan sesaji yang dibawa oleh para pemangku serta umat.

Setibanya di lokasi, rangkaian upacara Melasti dilanjutkan dengan pengambilan tirta suci, persembahyangan bersama, hingga pelarungan sesaji hasil bumi ke aliran sungai sebagai bentuk persembahan kepada Sang Hyang Widhi.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Jombang, Juwadi, mengatakan Melasti merupakan ritual penting bagi umat Hindu menjelang Hari Raya Nyepi.

“Melasti adalah upacara untuk membuang kotoran pikiran dan perilaku buruk atau karma buruk agar manusia kembali suci. Dalam ritual ini kita memohon kekuatan untuk menjalankan Catur Brata Penyepian,” ujar Juwadi, Minggu (15/3).

Ia menjelaskan secara tradisi Melasti biasanya dilakukan di laut. Namun bagi umat Hindu di Jombang yang berada jauh dari wilayah pesisir, ritual tersebut dilakukan di sumber mata air yang tetap dianggap suci.

“Meski tidak di laut, tujuannya tetap sama, sampai kepada Sang Hyang Baruna atau Sang Hyang Wisnu melalui aliran sungai yang mengalir dari sumber ini,” katanya.

Selain membawa perlengkapan upacara, umat Hindu juga mempersembahkan berbagai sesaji serta hasil bumi sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan.

Juwadi menambahkan, perayaan Nyepi tahun ini mengusung tema “Vasudhaiva Kutumbakam: Nusantara Harmoni, Indonesia Maju”, yang memiliki makna bahwa seluruh manusia di dunia adalah satu keluarga.

Tema tersebut, menurutnya, sejalan dengan ajaran Tri Hita Karana, yakni menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, serta alam semesta.

“Kita diajarkan untuk menjaga keharmonisan bukan hanya dengan sesama umat Hindu, tetapi dengan semua manusia. Semua ciptaan Tuhan adalah saudara,” katanya.

Menariknya, perayaan Nyepi tahun ini berpotensi berdekatan dengan Hari Raya Idul Fitri. Kondisi tersebut justru dinilai sebagai momentum untuk memperkuat toleransi antar umat beragama di Jombang yang dikenal sebagai Kota Santri.

Pihak PHDI Jombang pun telah berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan serta masyarakat terkait kemungkinan bersamaan antara malam takbiran Idul Fitri dengan pelaksanaan Catur Brata Penyepian.

“Kesepakatannya, umat Hindu tetap menjalankan Catur Brata Penyepian, sementara saudara kita umat Muslim juga menjalankan malam takbiran. Kita saling menghormati dan menjaga keamanan lingkungan,” kata Juwadi.

Ia juga mengimbau umat Hindu di Jombang untuk terus menjaga sikap toleransi, mengingat jumlah mereka yang relatif sedikit di daerah tersebut.

“Kita ini minoritas. Jadi saya menghimbau kepada umat Hindu agar tetap menjaga keharmonisan dan tidak menegur pihak lain jika ada kegiatan keagamaan di lingkungan sekitar. Yang penting kita tetap menjalankan ajaran dengan damai,” tuturnya.

Berdasarkan data PHDI Jombang, jumlah umat Hindu di kota kelahiran Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tersebut sekitar 900 jiwa yang tersebar di sejumlah kecamatan, seperti Wonosalam, Bareng, Ngoro, dan Jombang Kota.

Sebagian di antaranya merupakan warga pendatang dari Bali yang telah lama menetap di Jombang.

Saat ini tercatat ada sekitar delapan pura di Jombang yang menjadi pusat kegiatan keagamaan umat Hindu. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Teguh Setiawan
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.