KabarBaik.co – Banyuwangi memiliki banyak ulama kharismatik yang dihormati hingga saat ini. Meski sudah dalam pusara, sosoknya masih dikenang dan menjadi tujuan ziarah.
Salah satunya adalah makam Ki Agus Muhammad Saleh atau yang akrab disebut Kiai Saleh Lateng.
Makamnya berada di bekas pondok pesantren (ponpes) yang didirikannya, yakni di kawasan permukiman padat penduduk di Kelurahan Lateng, Banyuwangi.
Kiai Saleh merupakan salah satu tokoh pendiri Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan Nahdlatul Ulama Banyuwangi. Bahkan, di masjid Kiai Saleh Lateng Banyuwangi GP Ansor lahir, yang saat itu GP Ansor masih bernama Ansoru Nahdlatul Oelama (ANO).
ANO lahir pada momen Muktamar ke-9 NU yang digelar di Banyuwangi, tepatnya di Masjid Kiai Saleh Lateng.
Saking besar kiprahnya dalam menyiarkan NU di Bumi Blambangan banyak tokoh-tokoh besar di Indonesia yang tercatat pernah berziarah ke makam kiai yang lahir pada 7 Maret 1862 tersebut.
Melansir dari website NU Online, beberapa pejabat yang pernah singgah berziarah diantaranya Wakil Presiden RI periode 2019-2024, KH Ma’ruf Amin dan Wakil Gubernur Jatim Emil Elistianto Dardak.
Hingga kini makam Kiai Saleh Lateng pun masih banyak dikunjungi oleh peziarah. Tidak hanya kalangan pejabat, namun juga kalangan anak muda.
Salah satunya, Imam Mutaji pemuda NU asal Desa Labanasem, Kecamatan Kabat, Banyuwangi. Sebagai sosok yang mewarisi ajaran-ajaran NU, ia mengaku memang sering berziarah ke makam-makam ulama yang ada di Banyuwangi.
“Tujuan saya adalah ngalap berkah atau istilahnya berharap berkah dari para ulama-ulama tersebut,” kata Taji sapaan akrabnya.
Tentang sosok Kiai Saleh Lateng, Taji mendapat banyak cerita bahwa sosok Kiai Saleh menjadi terkenal karena kealiman dan pengabdiannya dalam mendidik para santri. Sosoknya juga dikenal memiliki jiwa kesatria.
Kiai Saleh Lateng merupakan tipikal kiai penggerak. Sosoknya memegang peranan startegis dalam mengkonsolidasi jaringan ulama-santri untuk berdakwah dan mengawal kemerdekaan Indonesia.
Ketika masa revolusi kemerdekaan, Kiai Saleh Lateng tidak hanya berperan mengirimkan para santrinya, beliau juga terlibat langsung dalam pertempuran di garda depan.
“Sehingga niat saya berziarah juga untuk meneladani sosok beliau,” ujarnya.
Karena dinilai memiliki sejarah penting di Banyuwangi, area Pondok Pesantren dan Makam Kiai Saleh rencananya bakal direvitalisasi untuk dijadikan komplek wisata religi.
Tahun lalu Balai Prasarana Permukiman Wilayah Jawa Timur telah melakukan survei langsung. Tahapannya masih terus berproses. Revitalisasi ini juga mendapat dukungan dari Pemkab Banyuwangi.
Tidak hanya bangunan, kitab-kitab peninggalannya juga kerap dipamerkan dalam agenda Festival Kitab Kuning yang diselenggarakan Pemkab Banyuwangi.(*)






