Kiritimati, Kota Pertama di Bumi yang Mengucap Selamat Tahun Baru 2026

oleh -213 Dilihat
KIRITIMATI

KabarBaik.co- Saat dunia masih menatap jam dengan penuh antisipasi, di ujung Pasifik ada sebuah pulau yang telah lebih dulu menyambut Tahun Baru 2026. Di mana? Kiritimati, atau yang dikenal sebagai Christmas Island. Kota ini adalah salah satu pulau atol terbesar di dunia dengan luas 388 kilometer persgi (km2). Meski jauh dari sorotan kota besar, pulau ini menjadi tempat pertama yang menyalakan kembang api Tahun Baru, jauh sebelum Jakarta, Sydney, Auckland, atau Times Square.

Jumlah penduduknya hanya sekitar satu desa di Indonesia, yakni 6.500–7.500 jiwa, Kiritimati terasa seperti komunitas intim di tengah Samudra Pasifik. Warga mayoritas adalah etnis Kiribati asli, dengan budaya Polinesia-Mikronesia yang kaya, berbahasa Gilbertese dan Inggris.

Sebagian besar warganya memeluk agama Kristen Protestan. Kehidupan sehari-hari mereka bergantung pada perikanan, pertanian, dan layanan publik. Di tengah keterbatasan fasilitas modern seperti hotel mewah dan koneksi internet terbatas, pulau ini menawarkan pengalaman Tahun Baru yang alami dan sederhana, jauh dari gemerlap kota besar.

Malam itu, pantai berpasir putih di London, Tabwakea, dan Banana Village dipenuhi warga dan wisatawan lokal. Lentera diterbangkan ke langit, kembang api sederhana meletup di atas laut, dan anak-anak berlari sambil menyalakan cahaya kecil di tangan mereka. Dentuman drum dan nyanyian tradisional mengisi udara, menciptakan atmosfer hangat yang jarang ditemui di perayaan kota besar.

Kiritimati juga menjadi pusat kehidupan satwa unik. Burung laut migran seperti red-footed booby dan berbagai jenis tern mengitari laguna besar di tengah pulau, sementara pantai menjadi lokasi bertelurnya penyu-penyu. Angin laut yang sejuk dan deburan ombak memberi latar alami bagi pesta Tahun Baru, menambah kesan intim dan damai pada malam pergantian tahun.

Sejarah pulau ini pun menarik. Dinamakan Christmas Island oleh kapten Inggris William Wales pada 25 Desember 1777, dan kini menjadi bagian dari negara Kiribati yang merdeka sejak 1979. Pulau ini memiliki Cassidy International Airport, satu-satunya jalur udara internasional, yang menghubungkan Kiritimati dengan Fiji dan Honolulu.

Meski tanpa ribuan penonton atau layar LED raksasa seperti di Times Square atau Sydney Harbour, laporan media lokal menyebut bahwa perayaan di Kiritimati penuh makna. Memberi pelajaran berharga, tidak mesti spektakuler secara global, tapi bisa juga dengan sederhana, intim, dan sarat makna. Lentera yang perlahan naik ke langit malam seolah membawa pesan universal tentang harapan, kebersamaan, dan optimisme.

Bagi para traveler yang ingin merasakan pengalaman ini, Kiritimati terletak di Samudra Pasifik Tengah, sekitar 3.300 km timur Fiji dan 3.400 km barat Hawaii. Hanya bisa dicapai lewat udara melalui Cassidy International Airport, biasanya transit di Fiji atau Honolulu. Penerbangan dari Fiji memakan waktu sekitar 3–4 jam, sementara dari Hawaii ±5–6 jam.

Biaya tiket sekali jalan berkisar USD 350–500 dari Fiji dan USD 700–1.000 dari Honolulu, dengan akomodasi lokal mulai dari USD 50–150 per malam. Transportasi lokal terbatas, sebagian besar menggunakan taxi, kendaraan sewa, atau sepeda, sehingga pengalaman menjelajahi pulau juga terasa unik dan santai.

Diketahui, Kiritimati berada di zona waktu UTC+14, menjadikannya 7 jam lebih cepat dibanding Waktu Indonesia Barat (WIB, UTC+7). Artinya, ketika di Jakarta baru pukul 17.00 WIB pada 31 Desember, di Kiritimati sudah tengah malam 1 Januari 2026, dan warga pulau itu telah resmi menyambut Tahun Baru.

Dari Kiritimati yang kali pertama menyambut Tahun Baru itu, tidak hanya menyalakan kembang api. Namun, juga menyalakan semangat untuk melangkah ke tahun baru dengan hati tenang, penuh rasa syukur, dan optimistis. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi


No More Posts Available.

No more pages to load.