Kisah Tentara Pelajar Jombang, Remaja Kota Santri Berjuang Lawan Belanda dengan Bambu Runcing

oleh -50 Dilihat
Monumen mastrip Jombang
Monumen Mastrip di Jombang mengenang tentara pelajar melawan penjajah Belanda (Teguh Setiawan)

KabarBaik.co – Sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia tak hanya ditulis oleh para pejuang senior di medan perang. Di jantung Kota Santri, Jombang, tersimpan kisah heroik Tentara Pelajar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan pasca-Proklamasi 1945.

Mereka adalah para pemuda tangguh yang rela meninggalkan bangku sekolah demi mengangkat senjata melawan kembalinya penjajah Belanda.

Faisol, pemerhati sejarah asal Jombang, mengungkapkan bahwa perjuangan ini merupakan bagian dari Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) kesatuan yang dibentuk untuk menampung semangat para pelajar dan pemuda yang ingin turut mempertahankan kedaulatan bangsa.

“Setelah kemerdekaan diproklamasikan, situasi Indonesia masih labil. Pasukan Sekutu yang datang bersama NICA memicu banyak pertempuran. Di Jombang, semangat juang juga membara,” jelas Faisol, Sabtu (3/1).

Para pelajar dari berbagai sekolah di Jawa Timur bersatu di bawah komando Mas Isman. Mereka enggan menjadi penonton dalam perjuangan bangsa. Dengan semboyan ‘Merdeka atau Mati’, terbentuklah laskar-laskar pelajar yang kemudian dikonsolidasikan menjadi TRIP Jombang.

Tentara Pelajar Jombang ini tidak bertempur secara konvensional. Dengan sumber daya terbatas, mereka menggunakan taktik gerilya, memanfaatkan hutan, lereng Gunung Anjasmoro, hingga kompleks pesantren sebagai basis perjuangan.

Faisol menceritakan beberapa aksi penting yang dilakukan para pelajar tersebut, antara lain. Pertempuran di pinggiran kota, menghadang konvoi Belanda yang hendak memasuki pusat kota Jombang.

Lalu penyergapan pos-pos Belanda, menyerang secara mendadak untuk melumpuhkan logistik dan moral musuh. Kemudian penggalangan informasi, menyamar dan mengumpulkan intelijen agar tak mudah dicurigai oleh pasukan Belanda.

“Senjata mereka sederhana, mulai dari rampasan, bambu runcing, hingga kepercayaan diri yang luar biasa. Meski minim pelatihan militer formal, semangat dan kecerdikan mereka sering membuat Belanda kewalahan,” ujar Faisol.

Menurut Faisol, perjuangan Tentara Pelajar Jombang bukanlah aksi nekat tanpa arah, melainkan wujud nasionalisme yang tertanam kuat. Lingkungan pesantren dan pendidikan moral membentuk karakter para pejuang muda ini.

“Banyak dari mereka gugur di medan perang. Nama mereka mungkin tak tercatat dalam buku sejarah, tapi pengorbanannya menjadi fondasi kemerdekaan yang kita nikmati hari ini,” tuturnya.

Kini, monumen dan makam pahlawan di Jombang menjadi saksi bisu perjuangan mereka. Kisah heroik ini terus dijaga agar tetap hidup di hati generasi muda.

“Pesan kami sederhana, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Semangat juang dan cinta tanah air seperti yang ditunjukkan para anggota TRIP harus terus hidup dalam bentuk yang berbeda di era sekarang,” pungkas Faisol.

Untuk mengenang jasa para pejuang muda tersebut, dibangunlah Monumen Mastrip di Jalan KH Wahid Hasyim, tepat di selatan Lapas Jombang. Di lokasi itu dahulu tiga anggota TRIP gugur dalam pertempuran.

Monumen tersebut diresmikan oleh Mayjen Imam Utomo, saat menjabat Pangdam V/Brawijaya pada tahun 1995. Dua patung prajurit berdiri tegak di sana, menjadi simbol keberanian dan pengorbanan generasi muda Jombang.

“Dengan dibangunnya monumen itu, kita tidak hanya menghormati jasa pahlawan, tetapi juga menyalakan kembali api semangat untuk terus memajukan Indonesia,” kata Faisol. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Teguh Setiawan
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.