KabarBaik.co, Jombang – Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari Tebuireng, Jombang, menjadi ruang diskusi sejarah dan kebangsaan, Sabtu (28/2) sore, puluhan peserta mengikuti diskusi dua buku yang mengulas jejak awal kehidupan Presiden pertama RI, Soekarno.
Sebanyak 70 peserta hadir dalam kegiatan tersebut. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari akademisi, santri, pegiat literasi, hingga masyarakat umum.
Diskusi menghadirkan dua penulis, yakni Gus Binhad Nurrohmat dengan bukunya Titik Nol Soekarno 1902 serta Ach. Faisol melalui karya Menemukan Bung Karno di Jombang. Kedua buku sama-sama mengangkat pertanyaan lama dalam historiografi Indonesia terkait lokasi kelahiran Soekarno.
Dalam pemaparannya, Gus Binhad menyampaikan bahwa penelitiannya menunjukkan Soekarno lahir di Ploso, Jombang, tepatnya di Gang Buntu, Desa Rejoagung, pada 6 Juni 1902.
“Kesimpulan ini bukan klaim tanpa dasar. Ada dokumen yang bisa diverifikasi,” kata Gus Binhad.
Ia menjelaskan salah satu bukti penting adalah Buku Induk Soekarno di Institut Teknologi Bandung (ITB) yang mencantumkan tanggal lahir 6 Juni 1902.
Selain itu, terdapat catatan pribadi ayah Soekarno, Raden Soekarni, yang menuliskan tanggal kelahiran putranya secara langsung.
Pada masa tersebut, Raden Soekarni diketahui bertugas di Ploso sebagai mantri guru di sekolah Ongko Loro milik pemerintah kolonial Belanda.
Hal itu diperkuat dengan dokumen stanboek atau surat keputusan penugasan tertanggal Desember 1901 yang menunjukkan Raden Soekarni sudah berada di Ploso beberapa bulan sebelum kelahiran Soekarno.
Tak hanya mengandalkan arsip, Gus Binhad juga menekankan pentingnya sejarah lisan. Menurutnya, ingatan kolektif warga Ploso tentang masa kecil Soekarno masih hidup dan relevan sebagai bagian dari rekonstruksi sejarah.
Sementara itu, Ach. Faisol menyampaikan bahwa bukunya menelusuri jejak sosial dan kultural Soekarno di Jombang. Ia menilai, penggabungan data arsip dan cerita masyarakat menjadi kunci untuk menghadirkan gambaran sejarah yang lebih utuh.
“Sejarah tidak hanya hidup di dokumen, tetapi juga dalam ingatan masyarakat,” ujar Faisol.
Diskusi berlangsung dinamis hingga menjelang azan Magrib. Acara ditutup dengan doa bersama dan dilanjutkan dengan buka puasa.
Melalui kegiatan ini, peserta berharap kajian tentang awal kehidupan Soekarno terus berkembang dan mendorong penelitian lanjutan.
Diskusi tersebut juga dinilai memperkuat posisi Jombang dalam narasi sejarah kelahiran Sang Proklamator. (*)






