Bedah Film Pesta Babi, Aliansi Inklusi Jombang Ajak Anak Muda Kritisi Kolonialisme Modern

oleh -121 Dilihat
Diskusi dan bedah film Pesta Babi menjadi ruang refleksi bagi anak muda Jombang.(istimewa)
Diskusi dan bedah film Pesta Babi menjadi ruang refleksi bagi anak muda Jombang.(istimewa)

KabarBaik.co, Jombang – Aliansi Inklusi Jombang menggelar diskusi dan bedah film Pesta Babi sebagai ruang pendidikan kritis bagi kalangan muda untuk memahami praktik kolonialisme modern yang dinilai masih terjadi dalam berbagai bentuk hingga saat ini.

Kegiatan yang berlangsung di Jombang itu dimoderatori La Rayba Fie dari Women’s Crisis Center (WCC) Jombang. Tiga narasumber dihadirkan dalam forum tersebut, yakni Didin Ahmad Sholahudin dari ICMI Jombang, Rohmadi dari DPD KNPI Jombang, dan peneliti kebijakan publik Alfiyah Ashmad.

Melalui pemutaran film Pesta Babi, peserta diajak melihat bagaimana kolonialisme tidak sepenuhnya berakhir, tetapi bertransformasi menjadi dominasi ekonomi dan politik yang berdampak pada masyarakat adat, lingkungan hidup, hingga tata kelola pembangunan.

Rohmadi menilai masih minim organisasi masyarakat sipil di tingkat lokal yang secara serius mengadvokasi isu lingkungan hidup dan hak-hak masyarakat adat. Karena itu, ia mendorong generasi muda untuk membangun gerakan yang lebih progresif dan berpihak pada keadilan ekologis.

“Anak muda tidak cukup hanya menjadi penonton dari kerusakan yang terjadi. Harus ada keberanian membangun solidaritas, kesadaran kritis, dan gerakan sosial yang berpihak pada masyarakat terdampak,” ujarnya, Sabtu (30/5).

Sementara itu, Alfiyah Ashmad menjelaskan bahwa berbagai krisis ekologis dan konflik agraria yang terjadi saat ini tidak bisa dilepaskan dari persoalan kebijakan negara. Menurutnya, arah pembangunan yang berbasis eksploitasi sumber daya alam menjadi salah satu faktor yang memicu berbagai persoalan lingkungan.

Ia juga menyinggung kebijakan Rencana Aksi Nasional Kelapa Sawit Berkelanjutan yang ditandatangani Presiden Joko Widodo pada 2019 sebagai salah satu contoh penting untuk melihat arah pembangunan nasional.

Menurut Alfiyah, masyarakat Papua hingga kini masih menghadapi tekanan dari berbagai kepentingan, mulai dari negara, investasi, hingga kelompok yang menguasai sumber daya alam.

“Kerusakan ekologis hari ini bukan sekadar bencana alam, tetapi dampak dari kebijakan yang gagal melindungi rakyat dan lingkungan,” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, Didin Ahmad Sholahudin atau Gus Didin mengapresiasi diskusi tersebut sebagai ruang refleksi bagi generasi muda. Ia menilai kesadaran kritis perlu terus dibangun agar masyarakat mampu membaca berbagai ketimpangan sosial yang terjadi.

Gus Didin juga menyinggung kondisi yang dialami masyarakat Papua yang menurutnya jauh lebih kompleks dibandingkan yang tergambar dalam film.

“Ketika politik dibiayai oligarki, maka rakyat dan lingkungan menjadi korban. Inilah wajah kolonialisme baru yang sedang kita hadapi hari ini,” katanya.

Melalui kegiatan ini, Aliansi Inklusi Jombang berharap ruang-ruang diskusi alternatif dapat terus tumbuh untuk memperkuat pendidikan kritis generasi muda, sekaligus mendorong keterlibatan mereka dalam isu keadilan sosial dan lingkungan.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Teguh Setiawan
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.