Mikel Merino, Datang dari Cadangan tapi Spesialis Penyelamat Muka Spanyol

oleh -53 Dilihat
MIKEL MERIONO

TAK semua pahlawan lahir dari pemain yang paling sering mencuri perhatian. Ada kalanya, seorang gelandang yang bekerja senyap justru menjadi pembeda ketika pertandingan memasuki detik-detik paling menentukan. Di Piala Dunia 2026, nama Mikel Merino ada dalam barisan narasi itu.

Lagi-lagi, pemain berusia 30 tahun itu menjadi penyelamat Spanyol.

Saat menghadapi Belgia pada laga perempat final Piala Dunia 2026 di SoFi Stadium, Los Angeles, Sabtu (11/7) dini hari WIB, La Roja sebenarnya tampil sesuai karakternya. Penguasaan bola, mengendalikan tempo, dan lebih dulu membuka keunggulan melalui Fabián Ruiz pada menit ke-30.

Namun, keunggulan tersebut tak bertahan lama. Belgia, yang tampil disiplin dan mengandalkan serangan balik cepat, berhasil menyamakan kedudukan lewat Charles De Ketelaere menit ke-41. Gol tersebut sekaligus mengakhiri rekor pertahanan Spanyol yang sebelumnya tak kebobolan sepanjang turnamen.

Skor 1-1 membuat jalannya pertandingan berubah. Dominasi Spanyol tak lagi berarti banyak. Sebab, Belgia semakin percaya diri, sementara ancaman perpanjangan waktu mulai membayangi. Ketika pertandingan tampak akan memasuki babak tambahan, Mikel Merino kembali muncul di saat yang paling dibutuhkan.

Memasuki menit ke-88, Pau Cubarsí melepaskan tembakan keras yang tak mampu ditangkap sempurna oleh kiper pengganti Belgia, Senne Lammens. Bola muntah mengarah ke depan gawang. Langsung disambar Merino hingga gol kemenangan. Perusak mimpi panjang Belgia untuk dapat terus melaju berebut takhta.

Gol sederhana, tetapi bernilai luar biasa.

Skor berubah menjadi 2-1. Spanyol pun memastikan satu tempat di semifinal untuk menghadapi Prancis. Seisi stadion bergemuruh. Sebaliknya, para pemain Belgia hanya bisa terduduk lesu menyaksikan impian mereka pupus hanya dua menit sebelum waktu normal berakhir. Momen itu tentu menjadi pukulan telak bagi Belgia yang sebenarnya tampil kompetitif sepanjang pertandingan.

Yang membuat gol itu terasa semakin istimewa adalah karena ini bukan kali pertama Merino menyelamatkan Spanyol.

Pada babak 16 besar melawan Portugal, pemain berusia 30 tahun itu juga menjadi pahlawan kemenangan lewat gol pada masa injury time. Sebiji gol itupun cukup mengantar La Roja melaju ke delapan besar, sekaligus mengubur asa Cristiano Ronaldno dan kawan-kawan. Dan, di perempat final, skenario yang hampir serupa kembali terjadi. Ketika pertandingan butuhk seorang penentu, nama Merino kembali muncul di papan skor.

Sejumlah media asing seperti Associated Press bahkan memilih menjadikan Merino sebagai tokoh utama dalam laporannya. Bukan sekadar menulis bahwa Spanyol lolos ke semifinal. Fokusnya sederhana bahwa Merino kembali melakukannya. Dua pertandingan fase gugur, dua gol penentu, dua tiket menuju babak berikutnya.

Padahal, sebelum gol kemenangan itu lahir, Belgia sempat mencatatkan pencapaian yang tak mampu dilakukan lima lawan Spanyol sebelumnya. Sundulan De Ketelaere mengakhiri rangkaian lebih dari 650 menit tanpa kebobolan yang dibukukan La Roja sejak fase kualifikasi hingga babak gugur Piala Dunia 2026. Rekor pertahanan kokoh Spanyol pun akhirnya runtuh, meski hanya sesaat.

Pertandingan juga berubah ketika penjaga gawang utama Belgia, Thibaut Courtois, mengalami cedera paha dan harus digantikan Senne Lammens. Kehilangan sosok berpengalaman di bawah mistar, membuat pertahanan Belgia sedikit kehilangan ketenangan pada menit-menit akhir. Bola muntah yang gagal diamankan Lammens menjadi kesempatan yang langsung dimanfaatkan Merino tanpa ampun.

Bagi pelatih Luis de la Fuente, kemenangan kali ini menunjukkan bahwa Spanyol kini memiliki lebih dari sekadar permainan indah. Mereka juga mempunyai karakter untuk bertahan di tengah tekanan dan pemain yang mampu menyelesaikan pekerjaan ketika peluang terakhir datang. Dan pemain itu adalah Mikel Merino.

Dia mungkin bukan pencetak gol terbanyak, bukan pula pemain dengan dribel paling memikat. Namun, dalam dua laga knockout beruntun, Merino membuktikan satu hal bahwa dia memiliki naluri yang tak dimiliki banyak pemain. Muncul pada saat yang paling menentukan.

Jejak Panjang Kaki Merino

Lahir di Pamplona pada 22 Juni 1996, sepak bola sudah mengalir dalam darah Mikel Merino. Ayahnya, Miguel Merino, juga pernah berkarier sebagai pesepak bola profesional di Spanyol. Merino kecil tumbuh di akademi Osasuna sebelum menembus tim utama pada 2014.

Bakatnya kemudian menarik perhatian Borussia Dortmund yang merekrutnya pada 2016. Namun, persaingan ketat di Bundesliga membuatnya tak mendapat banyak kesempatan bermain. Hanya semusim di Jerman, ia hijrah ke Newcastle United di Liga Inggris. Lagi-lagi, kariernya belum benar-benar berkembang.

Titik balik terjadi ketika Real Sociedad datang pada 2018. Di San Sebastián, Merino menemukan rumah yang tepat. Bersama Sociedad, ia berkembang menjadi salah satu gelandang paling komplet di La Liga. Bukan tipe pemain yang gemar mencetak banyak gol, tetapi dikenal karena kecerdasan membaca permainan, duel udara yang kuat, kemampuan menjaga keseimbangan lini tengah, serta ketenangan dalam situasi-situasi krusial.

Performa konsisten selama enam musim bersama Sociedad akhirnya membawanya bergabung dengan Arsenal pada musim panas 2024. Di bawah Mikel Arteta, kualitas Merino semakin matang. Ia dipercaya mengisi berbagai peran di lini tengah, bahkan beberapa kali dimainkan lebih maju berkat instingnya memasuki kotak penalti pada waktu yang tepat.

Karakter itulah yang kini menjadi salah satu senjata utama Spanyol. Merino memang bukan sosok yang selalu menghiasi sampul depan surat kabar. Bukan pula pemain dengan kemampuan menggiring bola yang memukau seperti Lamine Yamal atau Pedri. Namun, memiliki satu kualitas yang sulit diajarkan, yakni naluri muncul di tempat yang tepat pada waktu yang tepat.

Tak heran bila di Piala Dunia 2026, namanya mulai identik dengan gol-gol penentu. Setelah membobol Portugal pada babak 16 besar, kini Belgia merasakan sendiri bagaimana seorang gelandang yang lebih sering bekerja dalam diam bisa menjadi penentu nasib sebuah negara hanya dalam hitungan detik.

Kini, Spanyol tinggal selangkah lagi menuju partai puncak. Tantangan berikutnya adalah Prancis, lawan yang lebih kuat dan lebih komplet. Namun bila pertandingan kembali berjalan ketat dan ditentukan oleh satu momen kecil, La Roja tahu mereka memiliki seseorang yang selalu siap mengubah cerita.

Namanya Mikel Merino.

Bukan bintang yang paling gemerlap di skuad Matador, tetapi sejauh ini, dialah spesialis yang selalu memastikan langkah Spanyol terus berlanjut di Piala Dunia 2026. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: F. Noval
Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.