KabarBaik.co, Jakarta – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) telah menyelesaikan semua rangkaian pelaksanaan ibadah haji tahun 2026. Kini, kementerian tersebut tengah melaksanakan apat Kerja Nasional (Rakernas) Evaluasi Penyelenggaraan Ibadah Haji 1447 H/2026 M di Asrama Haji Kelas I Jakarta, Sabtu (4/7).
Acara yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah (Ditjen Bina PHU) itu dilaksanakan untuk penguatan pembinaan jemaah, peningkatan kompetensi petugas, serta mitigasi pada setiap tahapan penyelenggaraan ibadah haji 1447 H/2026 M.
Mengusung tema “Berbenah Tanpa Henti: Menghadirkan Layanan Haji yang Humanis, Profesional, dan Adaptif”, acara tersebut menjadi forum untuk mengevaluasi secara menyeluruh seluruh tahapan penyelenggaraan haji, mulai dari pembinaan jemaah, pelatihan petugas, proses pemberangkatan, hingga pelayanan di Tanah Suci.
Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Puji Raharjo mengatakan, evaluasi dilakukan secara komprehensif agar setiap perbaikan yang dilakukan mampu menjawab kebutuhan jemaah sekaligus memperkuat kualitas penyelenggaraan haji pada tahun-tahun mendatang.
Menurut Puji, hasil evaluasi tersebut akan menjadi dasar penyusunan kebijakan dan langkah-langkah perbaikan yang lebih berbasis data serta pengalaman lapangan. “Pengalaman di lapangan dan data yang terkumpul menjadi landasan utama dalam merumuskan kebijakan yang lebih tepat sasaran untuk meningkatkan kualitas layanan kepada jemaah,” ujar Puji dalam rilis resmi Kemenhaj, Sabtu (4/7).
Sebagai tindak lanjut hasil evaluasi, lanjut Puji, pihaknya menyiapkan sejumlah strategi mitigasi. Seperti penguatan pembinaan manasik yang lebih terintegrasi, peningkatan kompetensi petugas, penyempurnaan layanan pada fase Armuzna, perbaikan tata kelola logistik, serta penguatan pelayanan bagi jemaah berkebutuhan khusus, termasuk pelaksanaan safari wukuf dan badal haji.
Puji menjelaskan, seluruh langkah tersebut dirancang untuk menghadirkan pelayanan yang lebih efektif, terukur, dan responsif terhadap kebutuhan jemaah. Menurutnya, evaluasi bukan sekadar mengukur capaian penyelenggaraan, tetapi menjadi fondasi dalam membangun tata kelola haji yang modern, adaptif, dan berkelanjutan.
“Kesempurnaan pelayanan jemaah tidak lahir dari kebetulan, melainkan dari mitigasi sistemik yang terencana dan tepat. Seluruh rekomendasi yang dihasilkan akan menjadi pijakan dalam menyusun kebijakan dan langkah strategis menuju penyelenggaraan ibadah haji 1448 H/2027 M yang semakin berkualitas, efektif, dan berorientasi pada kepuasan jemaah,” tandas Puji. (*)






