BAGI publik Inggris, kalimat “Football is coming home” bukan lagi sekadar lirik lagu. Tapi, juga simbol harapan yang selama enam dekade belum sepenuhnya terwujud. Inggris baru saja memastikan tempat di babak perempat final Piala Dunia 2026 setelah kemenangan dramatis 3-2 atas Meksiko di Stadion Azteca. Capaian ini kali ketiga berturut-turut The Three Lions menembus babak delapan besar.
Namun, di tengah konsistensi era modern ini, lemari trofi mereka di Wembley tetap kosong sejak satu-satunya kejayaan pada tahun 1966. Kisah satu-satunya gelar juara itu pun selamanya terikat dengan salah satu cerita kriminal paling eksentrik dalam sejarah olahraga Britania Raya, pencurian Trofi Jules Rimet.
Maret 1966 silam, empat bulan sebelum Bobby Moore mengangkat trofi di Wembley, Inggris menanggung malu yang tak terukur. Trofi emas lambang supremasi sepak bola dunia dipamerkan di Methodist Central Hall, Westminster, dalam sebuah pameran prangko komersial. Pengamanan saat itu sangat longgar.
Di ruangan yang sama, terdapat koleksi prangko langka senilai £3 juta yang dijaga ketat, sementara trofi emas dunia ditinggal begitu saja tanpa pengawal saat malam hari.
Minggu, 20 Maret 1966, lemari kaca itu dibobol maling. Publik Inggris terperangah. Scotland Yard mengerahkan divisi elite mereka, The Flying Squad, hanya untuk dipecundangi oleh surat tebusan senilai £15.000 yang dikirim melalui seorang perantara bernama Edward Betchley. Betchley ditangkap dalam sebuah penyergapan. Namun, ia bungkam, menolak berbicara. Identitas sang dalang utama tetap menjadi misteri selama puluhan tahun.
Baru pada 2018, sebuah investigasi jurnalistik The Daily Mirror mengaitkan dalang pencurian dengan gangster lokal London bernama Sidney Cugullere dan adiknya. Menurut laporan tersebut, motif Sidney mencuri itu diduga lebih karena dorongan sensasi (the thrill) setelah melihat lemahnya sistem pengamanan lokasi pameran.
Trofi itu disebut sempat disembunyikan di sebuah gudang batu bara sebelum akhirnya dibuang ketika para pelaku mulai panik. Pelaku Sidney juga dikabarkan kerap menyombongkan diri di bar lokal dengan menyebut bahwa dirinya sebagai “Orang Inggris pertama yang mengangkat Piala Dunia.”
Sidney kemudian meninggal pada 2005 tanpa pernah dijerat hukum atas kasus kriminalitas yang menguncang publik Inggris tersebut.
Hidung Tajam Seekor Anjing dan Takdir 1966
Pahlawan penyelamat muka Inggris saat itu bukanlah detektif andalan London. Tapi seekor anjing ras Collie berbulu hitam-putih bernama Pickles. Saat sedang berjalan sore bersama pemiliknya, David Corbett, di Beulah Hill, Pickles mengendus sebuah paket koran bekas di bawah pagar tanaman. Di dalam bungkusan itulah Trofi Piala Dunia Jules Rimet ditemukan kembali.
Berkat hidung tajam Pickles, turnamen dunia itupun tetap berjalan. Beberapa bulan kemudian, Inggris keluar sebagai juara dunia untuk kali pertama, dan hingga saat ini belum juara lagi.
Karena jasa itu, si anjing Pickles bahkan mendapat kehormatan menghadiri jamuan resmi timnas Inggris. Pickleas menjadi bagian dari perayaan yang kemudian dikenang sebagai salah satu kisah paling unik dalam sejarah Piala Dunia.
Enam puluh tahun berlalu sejak drama batu bara dan hidung tajam Pickles. Ingatan kolektif itu kini berubah menjadi tekanan bagi skuad asuhan Thomas Tuchel di Piala Dunia 2026. Inggris modern adalah tim yang tangguh, penuh bakat seperti Jude Bellingham, dan dipimpin kapten Harry Kane.
Di bawah kepemimpinan Tuchel, mereka melaju ke perempat final setelah melewati “Pengepungan Azteca” yang tidak mudah melawan tuan rumah Meksiko.
Namun, statistik menunjukkan Inggris telah beberapa kali terhenti di babak perempat final Piala Dunia, menjadikan fase ini sebagai salah satu rintangan yang paling sering menggagalkan langkah mereka. Mereka selalu lolos ke delapan besar dalam tiga edisi terakhir ini. Tapi, trofi emas baru—yang menggantikan Trofi Jules Rimet yang dihancurkan pencuri di Brasil pada 1983—belum pernah kembali ke London.
Masyarakat Inggris tentu ingin tahun 1966 dikenang bukan semata karena drama pencurian trofi dan gol kontroversial Geoff Hurst di final, melainkan juga sebagai awal dari tradisi juara yang mampu diteruskan generasi berikutnya.
Minggu, 12 Juli 2026, pukul 04.00 WIB, Harry Kane dkk akan menghadapi Norwegia di Miami Stadium untuk memperebutkan tiket semifinal. Skuad The Three Lions kali ini tidak membutuhkan keajaiban seekor anjing seperti Pickles untuk menemukan trofi yang hilang. Mereka membutuhkan ketenangan, kualitas, dan mentalitas juara untuk merebutnya sendiri di atas lapangan hijau.
Benturan Gagasan Debbie Hewitt dan Lise Klaveness
Ketika laga perempat final Piala Dunia 2026 mempertemukan Inggris dan Norwegia di Miami Stadium, sorot kamera global otomatis tertuju pada adu tajam Harry Kane dan Erling Haaland. Namun, narasi menarik lainnya dari laga ini juga hadir di tribune VIP, tempat dua pemimpin federasi dengan latar belakang dan pendekatan berbeda sama-sama memimpin perubahan di sepak bola Eropa.
Pertandingan ini mempertemukan dua federasi yang dipimpin oleh sosok perempuan tangguh. Debbie Hewitt (Ketua FA Inggris) dan Lise Klaveness (Presiden NFF Norwegia). Keduanya mengukir sejarah sebagai perempuan pertama yang menduduki jabatan tertinggi di organisasi masing-masing.
Debbie Hewitt mewakili pendekatan kepemimpinan yang terukur, profesional, dan berorientasi pada tata kelola. Sejak ditunjuk sebagai Ketua FA perempuan pertama pada 2022, Hewitt membawa pengalaman panjangnya di dunia korporasi ke ruang rapat Wembley.
Bagi Hewitt, kesuksesan olahraga harus ditopang oleh stabilitas finansial dan manajemen yang kuat. Perpanjangan kontraknya hingga 2028 menunjukkan besarnya kepercayaan terhadap kepemimpinannya.
Ketika media London ramai memperdebatkan penunjukan Thomas Tuchel yang berkewarganegaraan Jerman sebagai pelatih The Three Lions, Hewitt tetap mendukung keputusan tersebut karena meyakini Tuchel merupakan sosok yang paling tepat untuk membawa Inggris bersaing memperebutkan gelar juara. Di bawah kepemimpinannya, FA berupaya membangun organisasi yang stabil sehingga para pemain dapat sepenuhnya fokus pada performa di lapangan.
Jika Hewitt identik dengan stabilitas organisasi, maka Presiden NFF Norwegia, Lise Klaveness, dikenal sebagai figur yang vokal dalam mendorong reformasi tata kelola sepak bola. Klaveness tidak datang dari ruang rapat korporasi; ia adalah mantan pemain timnas dengan 73 caps, seorang pengacara, dan mantan hakim.
Sejak memimpin federasi pada 2022, Klaveness menjadi salah satu suara paling lantang dalam mengangkat isu-isu seperti hak asasi manusia, transparansi, dan tata kelola sepak bola internasional. Pada pertengahan 2026, misalnya, ia kembali menyoroti penggunaan jet pribadi oleh Presiden FIFA Gianni Infantino selama turnamen di Amerika Utara sebagai bagian dari kritiknya terhadap akuntabilitas organisasi.
Bagi Klaveness, keberhasilan Norwegia kembali menembus perempat final Piala Dunia setelah absen selama 28 tahun menunjukkan bahwa pembangunan sepak bola melalui pembinaan, tata kelola, dan penguatan akar rumput juga mampu menghasilkan prestasi di level tertinggi.
Dan, pertemuan Hewitt dan Klaveness di bawah lampu stadion Miami menunjukkan bahwa sepak bola modern tidak hanya ditentukan oleh apa yang terjadi di atas lapangan, tetapi juga oleh arah kepemimpinan di baliknya.
Hewitt lebih dikenal dengan pendekatan organisasi yang pragmatis dan berorientasi pada stabilitas, sementara Klaveness menonjol lewat keberaniannya membawa isu-isu reformasi dan nilai-nilai tata kelola ke panggung sepak bola internasional.
Ketika laga berakhir nanti, salah satu tim memang harus menerima kekalahan. Namun, kehadiran Hewitt dan Klaveness di posisi tertinggi federasi masing-masing telah menjadi penanda penting perubahan dalam kepemimpinan sepak bola Eropa.
Dengan pendekatan yang berbeda, keduanya menunjukkan bahwa arah masa depan sepak bola semakin dibentuk oleh keberagaman pengalaman, perspektif, dan kualitas kepemimpinan. Pun begitu sebuah bangsa bukan? (*)






