KabarBaik.co, AS- Malam yang seharusnya menjadi pesta sepak bola Amerika Serikat (AS) justru berubah menjadi panggung kekecawaan nasional. Harapan besar untuk melihat kejutan tuan rumah di Piala Dunia 2026 kali ini sirna setelah AS dibantai Belgia dengan skor telak 1-4 pada babak 16 besar di Seattle Stadium, Selasa (7/7) pagi WIB.
Kekalahan itu sekaligus mengakhiri perjalanan seluruh negara tuan rumah pesta sepak bola sejagad ini. Setelah Kanada dan Meksiko lebih dulu tersingkir, AS menjadi benteng harapan terakhir kawasan Amerika Utara. Sayangnya, langkah Negara Adiddaya itu juga terhenti. Kini, tiga tuan rumah Piala Dunia 2026 harus puas hanya menyaksikan perebutan trofi dari luar lapangan.
Sebelum laga dimulai, atmosfer Seattle dipenuhi optimisme. Generasi baru AS yang dipimpin Christian Pulisic, Weston McKennie, Tyler Adams, dan Folarin Balogun dianggap memiliki peluang untuk menulis sejarah baru. Mauricio Pochettino bahkan mempertahankan susunan pemain yang sama seperti saat menang atas Bosnia dan Herzegovina, sebuah tanda bahwa sang pelatih percaya penuh pada formula skuadnya.
Namun Belgia datang dengan pengalaman dan efektivitas yang lebih matang. Mereka tidak hanya bertahan menghadapi tekanan tuan rumah, tetapi menghukum setiap celah yang muncul di pertahanan AS.
Belgia langsung menunjukkan ancaman sejak menit awal. Serangan cepat dan kombinasi lini depan membuat pertahanan Amerika Serikat bekerja keras. Gol pembuka lahir pada menit ke-9 melalui Charles De Ketelaere. Penyerang Belgia itu memanfaatkan umpan silang mendatar Nicolas Raskin yang melintasi kotak penalti. De Ketelaere berada di posisi tepat dan menyelesaikan peluang dari jarak dekat untuk membawa Belgia unggul 1-0.
AS mencoba bangkit, tetapi kesulitan menciptakan peluang bersih. Belgia tampil lebih tenang dalam mengontrol permainan dan memaksa tuan rumah kehilangan ritme. Akan tetapi, AS menemukan jalan kembali. Pada menit ke-31, Malik Tillman mencetak gol penyama kedudukan. Bola yang mengalami defleksi membuat kiper Thibaut Courtois kehilangan kesempatan untuk melakukan penyelamatan.
Gol tersebut sempat menghidupkan kembali stadion. Para pendukung tuan rumah kembali percaya bahwa momentum pertandingan bisa berubah. Namun kegembiraan itu hanya bertahan singkat. Hanya sekitar dua menit setelah gol penyama kedudukan, Belgia kembali memimpin. De Ketelaere menjadi aktor utama. Ia mencetak gol keduanya.
Gol tersebut menjadi pukulan psikologis besar bagi AS. Mereka berhasil menyamakan kedudukan, tetapi gagal mempertahankan momentum.
Memasuki babak kedua, Belgia semakin nyaman. Pengalaman bermain dalam pertandingan besar terlihat jelas. Mereka tidak terburu-buru menyerang, tetapi menunggu kesalahan lawan. Kesalahan itu akhirnya datang.
Pada menit ke-57, Belgia memperbesar keunggulan menjadi 3-1 melalui Hans Vanaken. Gol bermula dari kerja keras De Ketelaere yang berhasil merebut bola dan membuka ruang serangan. Vanaken kemudian memanfaatkan situasi tersebut untuk menaklukkan pertahanan Amerika.
Amerika Serikat mencoba mengejar ketertinggalan. Pulisic dan kawan-kawan meningkatkan tekanan, tetapi Belgia mampu bertahan dengan disiplin. Bahkan ketika AS mulai lebih banyak menguasai bola, peluang berbahaya tetap sulit tercipta.
Pukulan terakhir datang pada masa tambahan waktu. Pada menit 90+3, Romelu Lukaku memastikan kemenangan Belgia menjadi 4-1. Gol tersebut lahir dari tekanan tinggi Belgia di area pertahanan AS. Hans Vanaken membantu merebut bola, sebelum Lukaku menerima bola dan melepaskan tembakan rendah yang bersarang ke sudut gawang Matt Freese.
Peluit panjang akhirnya berbunyi. Belgia melaju ke perempat final berhadapan dengan Spanyol, sementara AS harus menerima kenyataan pahit. Mimpi membuat kejutan di kandang sendiri berakhir di babak 16 besar.
Kegagalan AS tampaknya tidak menghapus perkembangan positif. Tim ini menunjukkan wajah berbeda dibanding generasi sebelumnya. Lebih banyak pemain yang berkarier di level elite Eropa, lebih percaya diri menghadapi lawan besar, dan memiliki fondasi kuat untuk masa depan.
Namun Piala Dunia di kandang sendiri selalu membawa ekspektasi berbeda. Dukungan publik, tekanan sejarah, dan peluang emas untuk melangkah jauh akhirnya tidak mampu diwujudkan.
Bagi Belgia, kemenangan ini menjadi bukti bahwa pengalaman masih memiliki nilai besar di panggung terbesar sepak bola dunia. Keberhasilan ini kembali mencatatkan catatan gemilangnya yang selelau sukses menembus perempat final dalam beberapa Piala Dunia terakhir. (*)






