Tak Sekadar Tuan Rumah, Kini Meksiko Menjelma Kandidat Serius Juara Piala Dunia 2026

oleh -460 Dilihat
GILBERTO MORA
Gilberto Mora, Wonderkid pemain timnas Meksiko.(IST)

KabarBaik.co, Jakarta – Selama puluhan tahun, Meksiko selalu identik dengan label “tim yang sulit dikalahkan di kandang sendiri”. Tetapi. nyaris tak pernah benar-benar diperhitungkan sebagai calon juara dunia. Nah, tampaknya pada Piala Dunia 2026 perlahan mengubah narasi tersebut.

Di hadapan puluhan ribu pendukung yang memenuhi Stadion Azteca, El Tri kembali menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar penggembira. Setelah menyapu bersih seluruh laga fase grup, Meksiko juga tampil meyakinkan di babak 32 besar. Meksiko pun mengalahkan Ekuador 2-0.

Jika tren positif ini berlanjut, Meksiko bukan lagi sekadar kuda hitam, melainkan kandidat serius untuk mengangkat trofi Piala Dunia FIFA untuk kali pertama dalam sejarah.

Perjalanan Meksiko menuju fase gugur dibangun bukan lewat keberuntungan, melainkan konsistensi. Tim asuhan Javier Aguirre menutup Grup A dengan poin sempurna setelah memenangi tiga pertandingan secara beruntun.

Pada laga pembuka, Meksiko membuka turnamen dengan kemenangan atas Korea Selatan. El Tri kemudian melanjutkan dominasinya dengan mengalahkan Afrika Selatan sebelum menutup fase grup lewat kemenangan telak 3-0 atas Republik Ceko. Hasil tersebut memastikan Meksiko menjadi juara Grup A dengan rekor tiga kemenangan dari tiga pertandingan, sekaligus menjadi salah satu dari sedikit negara yang mampu menyapu bersih seluruh laga grup pada Piala Dunia 2026.

Lebih menarik lagi, kekuatan Meksiko musim ini tidak hanya tercermin dari hasil akhir. Statistik memperlihatkan mereka menjadi salah satu tim dengan organisasi pertahanan terbaik di turnamen. Dalam tiga pertandingan fase grup, El Tri tidak sekali pun kebobolan. Ketangguhan lini belakang dipadukan dengan efektivitas serangan membuat Meksiko tampil sebagai salah satu tim paling konsisten sepanjang fase grup.

Nama-nama seperti Julián Quinones, Raul Jimenez, Mateo Chavez hingga Alvaro Fidalgo mampu bergantian menjadi pembeda. Di lini tengah, Edson Alvarez menjadi jangkar permainan yang menjaga keseimbangan antara bertahan dan menyerang.

Yang tak kalah menarik adalah munculnya generasi baru. Gilberto Mora, gelandang muda berusia 17 tahun, menjadi salah satu sensasi turnamen. Penampilannya yang matang jauh melampaui usianya membuat banyak pengamat mulai menilai Meksiko tidak lagi hanya mengandalkan pengalaman pemain senior, tetapi juga memiliki regenerasi yang menjanjikan.

Momentum tersebut berlanjut di babak 32 besar menghadapi Ekuador. Menghadapi salah satu tim dengan organisasi pertahanan yang disiplin, Meksiko ternyata tampil percaya diri sejak menit awal. El Tri mampu mengendalikan tempo permainan, memanfaatkan transisi dengan efektif, dan akhirnya mengamankan kemenangan 2-0 untuk memastikan tiket ke babak 16 besar.

Keberhasilan itu membuat banyak pengamat mulai memasukkan Meksiko ke dalam daftar kandidat juara bersama Brasil, Prancis, Spanyol, dan Argentina. Alasannya sederhana, turnamen besar tidak selalu dimenangkan oleh tim dengan deretan bintang terbanyak, melainkan oleh tim yang paling stabil.

Meksiko saat ini memiliki hampir seluruh elemen yang dibutuhkan untuk menjadi juara. Mereka memiliki pelatih berpengalaman, skuad yang seimbang di setiap lini, pertahanan yang disiplin, produktivitas gol yang terus meningkat, serta keuntungan psikologis sebagai tuan rumah.

Sejarah Kuat El Tri

Optimisme tersebut juga tidak lepas dari fondasi sejarah sepak bola Meksiko yang telah melahirkan banyak pemain besar dunia. Nama Hugo Sánchez menjadi ikon terbesar setelah sukses membawa Real Madrid mendominasi Liga Spanyol dan lima kali meraih gelar top skor La Liga. Di lini belakang, Rafael Marquez dikenang sebagai salah satu bek terbaik dunia yang sukses menjuarai Liga Champions Eropa bersama Barcelona serta tampil dalam lima edisi Piala Dunia.

Selain itu, ada pula Jorge Campos, penjaga gawang eksentrik dengan seragam warna-warni yang menjadi ikon sepak bola dunia, Cuauhtemoc Blanco dengan teknik “Cuauhtemiña” yang melegenda, Jared Borgetti yang dikenal sebagai salah satu penyerang terbaik Meksiko berkat kemampuan sundulannya, Antonio Carbajal sebagai pemain pertama dalam sejarah yang tampil pada lima edisi Piala Dunia, Claudio Suarez yang dijuluki “Kaisar Pertahanan”, hingga Andres Guardado yang menjadi simbol konsistensi El Tri selama hampir dua dekade.

Kini, tongkat estafet itu berada di tangan generasi baru yang dipimpin Edson Alvarez, Raal Jimenez, Julian Quinones, Johan Vasquez, Luis Chavez, Alvaro Fidalgo, Mateo Chavez, hingga wonderkid Gilberto Mora. Kombinasi pengalaman dan darah muda inilah yang membuat Meksiko tampil lebih matang dibandingkan edisi-edisi sebelumnya.

Jalan menuju trofi tentu tidak mudah. Berdasarkan bagan resmi fase gugur FIFA, apabila mampu mempertahankan performa terbaiknya, Meksiko akan menghadapi tantangan yang semakin berat pada setiap fase.

Di babak 16 besar, El Tri dijadwalkan menghadapi pemenang pertandingan Inggris melawan Republik Demokratik Kongo. Apabila berhasil lolos, lawan berikutnya di perempat final berpotensi berasal dari jalur Amerika Serikat, Belgia, Senegal, maupun Bosnia dan Herzegovina.

Jika mampu melewati rintangan tersebut, Meksiko akan melangkah ke semifinal dengan kemungkinan menghadapi salah satu kekuatan besar dari jalur lain seperti Portugal, Spanyol, Argentina, Kolombia, Swiss, Ghana, Mesir, Aljazair, Australia, maupun Tanjung Verde, tergantung hasil pertandingan pada masing-masing jalur.

Meski demikian, melihat performa yang diperlihatkan sejak fase grup hingga babak gugur, peluang Meksiko untuk menciptakan sejarah bukanlah sesuatu yang mustahil. El Tri tampil sebagai tim yang disiplin, efektif, dan memiliki mental bertanding yang kuat, karakteristik yang selama ini identik dengan tim-tim juara dunia.

Sejarah memang belum berpihak kepada Meksiko. Prestasi terbaik mereka di Piala Dunia hanyalah mencapai perempat final pada edisi 1970 dan 1986, dua turnamen yang sama-sama berlangsung di tanah Meksiko. Namun, Piala Dunia 2026 menghadirkan nuansa yang berbeda.

Untuk kali pertama dalam beberapa dekade terakhir, Meksiko tidak hanya menjadi tuan rumah yang menikmati atmosfer pesta sepak bola. Mereka kini memiliki kualitas permainan, kedalaman skuad, momentum, serta dukungan publik yang cukup untuk bermimpi lebih besar.

Jika mampu mempertahankan konsistensi permainan dan melewati lawan-lawan berat pada fase gugur, bukan tidak mungkin Meksiko akhirnya memecahkan kutukan puluhan tahun. Untuk kali pertama, impian menjadi juara dunia tidak lagi terdengar seperti angan-angan, melainkan target yang realistis.

Dan jika itu benar-benar terjadi, Piala Dunia 2026 akan dikenang bukan hanya sebagai turnamen yang digelar di Meksiko, tetapi juga sebagai panggung lahirnya juara dunia baru dari kawasan CONCACAF. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: F. Noval
Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.