KabarBaik.co, AS- Jika banyak laga perempat final Piala Dunia ditentukan oleh adu taktik dan kualitas individu, duel Prancis melawan Maroko pada Jumat (10/7) dini hari, pukul 03.00 WIB, menawarkan cerita yang jauh lebih dalam. Bukan sekadar pertemuan dua negara, melainkan kisah ketika “murid” datang untuk menantang “guru” yang ikut membentuk perjalanan mereka.
Narasi tersebut bukan tanpa alasan. Enam pemain timnas Maroko lahir di Prancis, sementara sejumlah pemain lainnya tumbuh melalui akademi sepak bola Prancis atau merasakan kerasnya persaingan Liga 1 Prancis, sebelum akhirnya memilih membela negara asal leluhurnya. Kini, mereka berdiri di seberang lapangan untuk menghadapi Les Bleus, salah satu kekuatan terbesar sepak bola dunia.
Hubungan kedua negara memang tidak pernah bisa dipisahkan. Dari catata sejarah, Maroko pernah berada di bawah protektorat Prancis pada 1912 hingga 1956. Setelah merdeka, hubungan keduanya tetap terjalin erat melalui pendidikan, bisnis, migrasi, hingga sepak bola. Ikatan itu kini menjadikan pertandingan Prancis kontra Maroko sebagai lebih dari sekadar perebutan tiket semifinal.
Lebih dari itu, laga ini juga bisa disebut sebagai “Prancis melawan cermin dirinya sendiri”. Selama bertahun-tahun, sistem pembinaan sepak bola Prancis menjadi salah satu yang terbaik di dunia. Akademi-akademinya melahirkan pemain-pemain berkualitas, tidak hanya untuk memperkuat Les Bleus, tetapi juga bagi negara-negara lain yang memiliki ikatan diaspora dengan Prancis.
Nah, Maroko menjadi contoh paling nyata. Sejumlah pemain Singa Atlas ditempa di akademi Prancis, tumbuh dalam kultur sepak bola Negeri Anggur, lalu memilih membela tanah leluhur mereka. Ironisnya, hasil dari sistem yang dibangun Prancis kini justru menjadi ancaman serius bagi ambisi mereka di Piala Dunia.
Salah satu contoh nyata adalah gelandang muda Ayyoub Bouaddi. Lahir di Prancis, berkembang bersama Lille, dan pernah memperkuat tim nasional Prancis kelompok umur, Bouaddi akhirnya memilih mengenakan seragam Maroko. Keputusan itu menggambarkan identitas ganda yang kini semakin lazim dalam sepak bola modern.
Di luar lapangan, hubungan personal antarpemain juga menambah warna pertandingan. Bintang Prancis Kylian Mbappe dan bek Maroko Achraf Hakimi dikenal sebagai sahabat dekat sejak sama-sama membela Paris Saint-Germain (PSG). Persahabatan mereka akan dikesampingkan selama 90 menit. Namun, menjadi simbol bahwa rivalitas di lapangan tidak selalu menghapus kedekatan di luar pertandingan.
Fakta serupa juga terlihat di tribun penonton. Meski pertandingan digelar di Boston, Amerika Serikat, komunitas Prancis dan Maroko diperkirakan hadir berdampingan. Banyak keluarga diaspora memiliki anggota yang mendukung kedua tim sekaligus. Bagi mereka, pertandingan ini lebih menyerupai reuni keluarga daripada rivalitas yang penuh permusuhan.
Dari sisi teknis, Prancis tetap datang sebagai unggulan. Juara dunia 2018 itu memiliki pengalaman, kedalaman skuad, dan lini serang yang menjadi salah satu yang paling produktif sepanjang turnamen. Kualitas individu para pemain mereka membuat Les Bleus tetap menjadi kandidat kuat untuk kembali melangkah ke semifinal.
Namun, Maroko bukan lagi tim kejutan seperti pada Piala Dunia 2022. Singa Atlas kini hadir dengan organisasi permainan yang semakin matang, disiplin bertahan yang solid, serta kecepatan dalam melakukan serangan balik. Kemenangan meyakinkan 3-0 atas Kanada menjadi bukti bahwa mereka memiliki kualitas untuk bersaing dengan tim-tim elite dunia.
Keberhasilan tersebut tidak lahir secara instan. Federasi Sepak Bola Maroko dalam beberapa tahun terakhir berhasil menyatukan pembinaan pemain di dalam negeri dengan pencarian bakat diaspora yang berkembang di berbagai negara Eropa. Strategi itu perlahan mengubah Maroko dari sekadar kuda hitam menjadi penantang serius di panggung internasional.
Karena itu, pertandingan ini menghadirkan ironi yang menarik. Prancis akan menghadapi tim yang sebagian kekuatannya dibentuk oleh sistem sepak bola mereka sendiri. Akademi, kompetisi domestik, hingga pengalaman bermain di Prancis menjadi bekal yang kini digunakan Maroko untuk menantang sang “guru”. Dengan kata lain, Les Bleus bukan hanya menghadapi Maroko, tetapi juga menghadapi refleksi dari keberhasilan sistem pembinaan yang selama ini mereka banggakan.
Secara kualitas, Prancis masih layak difavoritkan. Namun, jika melihat perkembangan Maroko dalam beberapa tahun terakhir, laga ini diperkirakan berlangsung jauh lebih ketat dibandingkan pertemuan kedua tim di semifinal Piala Dunia 2022 yang dimenangi Prancis 2-0.
Apapun hasil akhirnya, duel di Boston bukan hanya tentang siapa yang melaju ke semifinal. Pertandingan ini juga menjadi simbol bagaimana sepak bola mampu melampaui batas negara, menyatukan sejarah, identitas, dan diaspora dalam satu panggung terbesar dunia. Ketika peluit akhir dibunyikan, pemenang mungkin hanya satu, tetapi kisah tentang “murid” yang berani menantang “guru” akan tetap menjadi salah satu narasi paling menarik di Piala Dunia 2026.
Prediksi skor: Prancis vs Maroko 2-1. Kalau ada kejutan dengan performa Maroko lebih impresif, maka berpeluang menang dengan skor 1-0 untuk tim Hakimi dan kawan-kawan. Atau Anda punya prediksi skor lain? (*)
Prediksi Starting XI Prancis (4-2-3-1)
Pelatih: Didier Deschamps
Kiper:
- Mike Maignan
Belakang:
- Jules Koundé
- Dayot Upamecano
- William Saliba
- Lucas Digne
Gelandang:
- Manu Koné
- drien Rabiot
Gelandang Serang:
- Ousmane Dembélé
- Michael Olise
- Bradley Barcola
Penyerang:
- Kylian Mbappé (Kapten)
Catatan:
Aurélien Tchouaméni masih belum 100 persen pulih dari cedera paha sehingga diperkirakan memulai laga dari bangku cadangan. Posisinya kemungkinan diisi Manu Kone.
Prediksi Starting XI Maroko (4-2-3-1)
Pelatih: Mohamed Ouahbi
Kiper:
- Yassine Bounou
Belakang:
- Achraf Hakimi
- Oumar Diop
- Chadi Riad*
- Noussair Mazraoui
Gelandang:
- Neil El Aynaoui
- Ayyoub Bouaddi
Gelandang Serang:
- Brahim Diaz
- Azzedine Ounahi
- Bilal El Khannouss
Penyerang:
- Soufiane Rahimi
Catatan:
Ismael Saibari dipastikan absen karena cedera hamstring yang dialaminya saat melawan Kanada. Sementara Chadi Riad masih dipantau kondisinya, namun diperkirakan bisa tampil. Jika tidak fit, posisinya kemungkinan digantikan Abdel Abqar atau Nayef Aguerd, tergantung keputusan pelatih.






