Masuk Bursa Ketua Umum PBNU, Jejak Prof KH Nasaruddin Umar Meniti Jalan Sejarah

oleh -61 Dilihat
NASARUDDIN UMAR
Prof KH Nasaruddin Umar.

ADA yang datang seperti petir, menggelegar, mengejutkan, lalu hilang. Ada pula nama yang tumbuh perlahan, seperti mata air di kaki gunung; nyaris tak terdengar, tetapi terus mengalir hingga menjadi sungai yang menghidupi banyak orang.

Di tengah menghangatnya dinamika menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Ponpes Tambakberas, Jombang, 27-31 Agustus 2026, nama Prof KH Nasaruddin Umar berada pada kategori kedua. Tidak lahir dari gegap gempita deklarasi politik, melainkan muncul dari percakapan para kiai, diskusi para kader, dan rekam jejak panjangnya.

Menteri Agama itu disebut-sebut sebagai salah seorang sosok yang sangat layak masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU. Ia termasuk ulama yang selama ini lebih dikenal sebagai intelektual, ahli tafsir, Imam Besar Masjid Istiqlal.

Bagi warga Nahdliyin, sejarah memang sering berjalan seperti putaran roda pedati. Jalurnya berubah, tetapi porosnya tetap. Ilmu, akhlak, dan pengabdian.

Prof Nasaruddin bukanlah nama baru dalam keluarga besar NU. Ia pernah mengemban amanah sebagai Katib Aam PBNU, posisi yang selama ini kerap disebut sebagai “dapur intelektual” organisasi. Dari ruang itulah lahir berbagai rumusan keagamaan yang menjadi penuntun jutaan warga Nahdlatul Ulama.

Jejak pengabdiannya jauh melampaui struktur organisasi.

Ia dikenal sebagai Guru Besar Ilmu Tafsir Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Rektor Universitas PTIQ Jakarta, Imam Besar Masjid Istiqlal hingga kini dipercaya Presiden Prabowo Subianto sebagai Menteri Agama RI. Rentang pengabdian tersebut menjadikannya salah satu ulama yang memadukan tiga dunia sekaligus, yaitu akademik, birokrasi, dan dakwah.

Di Kementerian Agama, pendekatan Nasaruddin juga memperlihatkan corak yang khas. Kerap mengajak masyarakat melihat agama bukan sekadar kumpulan hukum, melainkan sumber kasih sayang yang harus menghadirkan kedamaian.

Program penguatan kerukunan umat beragama, pelayanan keagamaan yang inklusif hingga peningkatan kualitas pendidikan keagamaan menjadi bagian dari agenda yang terus didorong. Visi tersebut sejalan dengan semangat Kementerian Agama untuk menghadirkan agama sebagai inspirasi bagi kehidupan kebangsaan.

Barangkali karena itulah namanya mengemuka dalam percakapan menjelang Muktamar NU.

Bukan semata karena jabatan yang disandang hari ini, melainkan karena perjalanan panjang yang telah ditempuh. Dalam tradisi NU, kepemimpinan tidak hanya diukur dari kemampuan mengelola organisasi, tetapi juga dari kedalaman ilmu, keluasan pergaulan, kematangan spiritual, dan kemampuan merawat persatuan.

Ibarat pohon yang telah lama berakar, Nasaruddin Umar dinilai telah melewati berbagai musim. Mengenal dunia pesantren, menekuni ruang akademik, berdialog dengan komunitas internasional, sekaligus mengelola birokrasi negara. Setiap fase menjadi lingkaran tahun pada batang pohon yang mempertebal pengalaman kepemimpinannya.

Meski demikian, dinamika Muktamar NU tetaplah milik para muktamirin. Penentuan Ketua Umum PBNU sepenuhnya mengikuti mekanisme organisasi melalui musyawarah dan pemilihan yang berlaku. Sejauh ini, masih belum ada penetapan resmi mengenai kandidat, sementara sejumlah nama masih terus berkembang dalam ruang aspirasi warga Nahdliyin.

Di sinilah letak dinamika dan keunikan Nahdlatul Ulama. Organisasi yang lahir dari rahim pesantren ini tidak sekadar memilih seorang pemimpin. Tapi, sedang menentukan nakhoda bagi kapal besar yang mengarungi samudra peradaban, ketika tantangan digital, perubahan sosial, geopolitik global, hingga krisis moral menjadi ombak yang terus bergulung.

Apakah Prof KH Nasaruddin Umar akan benar-benar melangkah menuju kursi Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35 nanti? Waktu yang akan menjawabnya. Namun satu hal yang telah menjadi fakta, nama itu kini tidak lagi sekadar terdengar di lorong-lorong ruang akademik. Namun, telah menjadi bagian dari percakapan tentang masa depan NU.

Dan, sebagaimana sungai yang tak pernah memilih ke mana akan dikenang, pengabdian panjang Prof KH Nasaruddin Umar tampaknya telah membawa dirinya sampai di sebuah tikungan sejarah, tempat dedikasi, ilmu, dan kepercayaan masyarakat bertemu dalam satu arus yang sama. (*)

Data Pribadi

  • Nama: Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA
  • Tempat, tanggal lahir: Ujung Bone, Sulawesi Selatan, 23 Juni 1959
  • Profesi: Ulama, akademisi, ahli tafsir Al-Qur’an, birokrat.

Riwayat Pendidikan

  • SD Negeri Ujung Bone (lulus 1970)
  • Madrasah Ibtidaiyah Pesantren As’adiyah Sengkang (1971)
  • PGA 4 Tahun Pesantren As’adiyah Sengkang (1974)
  • PGA 6 Tahun Pesantren As’adiyah Sengkang (1976)
  • Sarjana Muda Fakultas Syariah IAIN Alauddin Ujung Pandang (1980)
  • Sarjana Lengkap Fakultas Syariah IAIN Alauddin Ujung Pandang (1984)
  • Magister (S2) IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1992)
  • Doktor (S3) IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1999), lulus sebagai doktor terbaik.
  • Visiting Student di McGill University, Kanada (1993–1994)
  • Visiting Student di Leiden University, Belanda (1994–1995)
  • Sandwich Program di Paris University, Prancis (1995)
  • Visiting Scholar di Sophia University, Jepang (2001)
  • Visiting Scholar di SOAS University of London (2002–2003)
  • Visiting Professor di Georgetown University, Amerika Serikat (2003–2004)
  • Dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2002).

Riwayat Jabatan

  • Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (sejak 2005)
  • Rektor Universitas PTIQ Jakarta (sejak 2005)
  • Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI (2006–2012)
  • Wakil Menteri Agama Republik Indonesia (2011/2012–2014)
  • Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta (sejak 2016)
  • Ketua Umum Ikatan Persaudaraan Imam Masjid (IPIM) Indonesia (sejak 2019)
  • Ketua Umum BP4 (Badan Penasihatan, Pembinaan, dan Pelestarian Perkawinan) (sejak 2019)
  • Ketua Umum Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang (sejak 2022)
  • Ketua Yayasan Pesantren Al-Ikhlas Ujung Bone
  • Ketua Harian Badan Pengelola Masjid Istiqlal (sejak 2021)
  • Menteri Agama Republik Indonesia (dilantik 21 Oktober 2024)
  • Anggota Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan RI (2024)
  • Kelompok Ahli Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) (2024).

Kiprah Organisasi

  • Pernah menjabat Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
  • Menjadi salah satu Rais PBNU masa khidmat 2022–2027.
  • Pendiri organisasi lintas agama Masyarakat Dialog Antar Umat Beragama (MADIA).
  • Aktif dalam berbagai forum dialog antaragama tingkat nasional maupun internasional.

Penghargaan

  • Sarjana Teladan IAIN Alauddin Ujung Pandang (1984)
  • Doktor Terbaik IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1999)
  • Satyalancana Karya Satya dari Presiden RI (2001 dan 2006)
  • International Best Leadership Award (2002)
  • Penghargaan MURI sebagai penulis artikel terbanyak dan berkesinambungan (2021)
  • Berbagai penghargaan nasional dan internasional di bidang keislaman, pendidikan, dan kepemimpinan.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: F. Noval
Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.