Tradisi Idul Adha Warga Dusun Brau Kota Batu, Sapi Kurban Jadi Simbol Pengantar Doa untuk Leluhur

oleh -300 Dilihat
WhatsApp Image 2026 05 28 at 10.20.24 AM
Prosesi ritual untuk sapi yang hendak dikorbankan (foto: Putut Priyono)

KabarBaik.co, Batu – Suasana Idul Adha di Dusun Brau, Desa Gunungsari, Bumiaji, Kota Batu terasa berbeda dibanding daerah lain. Di tengah udara dingin kawasan pegunungan dan hamparan kandang sapi perah milik warga, masyarakat setempat masih menjaga sebuah tradisi turun-temurun yang sarat makna spiritual dan kekeluargaan.

Bagi warga Dusun Brau, sapi kurban bukan sekadar hewan sembelihan saat Hari Raya Idul Adha. Lebih dari itu, sapi dipercaya menjadi simbol kendaraan yang mengantarkan doa bagi anggota keluarga yang telah meninggal dunia menuju alam akhirat.

Tradisi tersebut masih terus dilestarikan hingga sekarang oleh masyarakat setempat, terutama para peternak sapi perah yang mayoritas menjadi mata pencaharian warga Dusun Brau.

Tokoh masyarakat sekaligus peternak sapi perah Dusun Brau, Muhammad Munir menuturkan ritual itu diwariskan secara turun-temurun dari para leluhur dan dilaksanakan setiap Idul Adha.

“Ini bentuk melestarikan budaya Idul Adha atau Idul Kurban yang ada di Dusun Brau. Dari dulu para sesepuh sudah mengajarkan bahwa saat kurban ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar pelaksanaannya lebih sempurna,” ujar Munir, Kamis (28/5).

Tradisi dimulai sejak sehari sebelum penyembelihan atau H-1 Idul Adha. Warga menggelar selamatan dan doa bersama untuk para leluhur serta anggota keluarga yang telah wafat.

Nama-nama keluarga yang telah meninggal kemudian disebutkan dalam doa sebagai simbol ‘menumpang’ pada hewan kurban untuk menuju akhirat.

“Jadi malam sebelumnya ada selamatan dan kirim doa kepada leluhur. Ada juga nama-nama keluarga yang diikutkan untuk menumpang kendaraan menuju akhirat,” jelasnya, jelas Munir.

Tidak hanya doa bersama, ia menambahkan, jika keluarga yang berkurban juga menyiapkan berbagai perlengkapan untuk prosesi ritual. Mulai dari kayu bakar satu pikul, kebutuhan dapur seperti gas, bumbu masakan, sayur-mayur, hingga satu karung beras.

Warga juga menyiapkan kain putih atau lawon untuk tujuh orang yang namanya didoakan dalam ritual tersebut. Sebelum disembelih, sapi kurban dihias menggunakan karangan bunga dan diarak menuju lokasi penyembelihan.

Suasana prosesi berlangsung khidmat sekaligus penuh rasa kekeluargaan. Warga berkumpul, saling membantu, dan bersama-sama menyiapkan seluruh rangkaian kegiatan kurban.

Munir mengatakan ritual tersebut hanya dilakukan untuk sapi kurban. Sementara kambing tidak menjalani prosesi khusus seperti itu.

“Sapi yang dikurbankan juga harus jantan dan sudah dewasa atau istilah peternak di sini disebut powel, artinya giginya sudah tanggal,” ungkapnya.

Menariknya, keluarga dari nama-nama yang didoakan dalam ritual tersebut tidak diperbolehkan menerima daging sapi kurban. Mereka hanya diperbolehkan menerima daging dari hewan kurban lain seperti kambing.
Bagi warga Dusun Brau, tradisi itu bukan sekadar adat, tetapi juga bentuk harapan dan doa agar dijauhkan dari musibah, penyakit ternak, serta dimudahkan dalam mencari rezeki.

Mayoritas sapi yang dikurbankan pun berasal dari peliharaan sendiri. Ada ikatan emosional yang kuat antara peternak dan hewan ternaknya.

“Kalau dari peliharaan sendiri itu rasanya nyambung di hati. Ada ikatan batin antara peternak dan sapi karena sama-sama makhluk hidup,” ungkap Munir.

Di tengah perkembangan zaman, warga Dusun Brau tetap berusaha menjaga tradisi tersebut sebagai bagian dari identitas budaya sekaligus warisan spiritual yang telah hidup selama puluhan tahun di lingkungan mereka. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Putut Priyono
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.