KabarBaik.co, Jember – Taman Nara Bestari di Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember, menjadi saksi bisu kemeriahan Pagelaran Seni Budaya Pekan Kunang-Kunang Kebudayaan 2026 yang digelar pada Sabtu (11/7) malam.
Mengusung konsep pertunjukan berbasis lanskap, festival ini sukses meleburkan seni pertunjukan lintas disiplin dengan isu kelestarian lingkungan dalam satu ruang ekspresi komunal.
Sederet sajian mulai dari pameran seni rupa, instalasi artistik, performa teater, tari, musik, hingga seni digital berhasil memikat perhatian masyarakat, pelajar, seniman, dan komunitas yang hadir berkolaborasi.
Founder Rumah Budaya Nara Bestari, Hadi Poernomo, menjelaskan bahwa tolok ukur kesuksesan festival ini bukan sekadar kemegahan acara, melainkan pada kualitas proses dan dampak jangka panjang yang dihasilkan. Menurutnya, program ini terbukti mampu membuka ruang diskusi publik terkait ekologi budaya sekaligus memperkuat kapasitas generasi muda di bidang seni.
“Lewat tema ‘Jember Menyala, Seribu Cahaya’, kita diajak melihat kebudayaan sebagai kekuatan pemantik kesadaran ekologis, penguat identitas lokal, serta jembatan kolaborasi antargenerasi,” ujar Hadi.
Ia menambahkan, festival ini menorehkan warisan berharga berupa metode pembinaan, jejaring kolaborasi, serta praktik pengelolaan festival mandiri yang bisa menjadi cetak biru pengembangan budaya berbasis masyarakat ke depan.
“Ketika cahaya menjadi bahasa, seni menjadi gerakan, dan alam menjadi panggung, lahirlah ekosistem kebudayaan baru yang tumbuh dari pengetahuan, kolaborasi, dan kecintaan terhadap alam,” tuturnya filosofis.
Apresiasi tinggi juga datang dari Dinas Pendidikan Kabupaten Jember. Hadir mewakili Kepala Dinas Pendidikan Arief Tyahyono, Kepala Seksi Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Kasi PTK) SMP, Rahayuningsih, menyebut acara ini sukses memicu nostalgia sekaligus refleksi mendalam mengenai kondisi lingkungan saat ini.
Rahayuningsih sempat berbagi cerita unik masa kecilnya tentang mitos lokal terkait serangga malam tersebut.
“Dahulu, masyarakat mengaitkan kunang-kunang sebagai penjelmaan kuku orang yang telah meninggal, sebuah cerita yang sempat membuatnya takut saat kecil,” ungkapnya.
Berbekal latar belakang pendidikan biologinya, Rahayuningsih menegaskan bahwa secara sains, kunang-kunang adalah indikator biologis (bioindicator) lingkungan yang bersih.
Kehadiran mereka menandakan kualitas udara yang baik, tinggi oksigen, dan bebas polusi.
Pihak Dinas Pendidikan menyayangkan tren pembangunan modern yang membuat kunang-kunang kian langka di kawasan perkotaan Jember. Oleh karena itu, konsep festival ramah lingkungan ini dinilai sangat krusial sebagai stimulus pemulihan habitat alami mereka.
“Kami berharap esensi dari Pekan Kunang-Kunang ini tidak berhenti sebagai perayaan seni semata, melainkan mampu memicu kesadaran kolektif untuk menjaga keaslian alam. Semoga lingkungan yang bersih kembali terwujud, sehingga kunang-kunang bisa marak lagi mewarnai malam di seluruh pelosok Jember,” harap Rahayuningsih.(*)






