KabarBaik.co, Lombok Tengah – Sebanyak 500 penenun ambil bagian dalam pembukaan Regional Event Budaya Seni Begawe Jelo Nyensek 2026 di Balai Seni dan Budaya Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, Lomvok Tengah, Selasa (7/7).
Memasuki tahun kedelapan penyelenggaraan, kegiatan ini menjadi wujud komitmen masyarakat dan pemerintah dalam menjaga kelestarian tradisi tenun khas Sasak.
Kepala Desa Sukarara Saman Budi, mengatakan Begawe Jelo Nyensek akan terus dijadikan agenda budaya tahunan. Menurutnya, tradisi menenun bukan hanya warisan leluhur, tetapi juga bagian dari identitas masyarakat Sukarara yang harus diwariskan kepada generasi muda.
“Kami bertekad untuk terus melaksanakan kegiatan ini setiap tahun. Tradisi menenun merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat, sehingga pelestariannya harus dilakukan secara berkelanjutan,” ujarnya.
Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi NTB Muhammad Ihwan, menyebut Begawe Jelo Nyensek memiliki makna lebih dari sekadar aktivitas menenun. Kegiatan ini menjadi simbol penghormatan terhadap peran perempuan Sasak dalam menjaga warisan budaya sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
Wakil Bupati Lombok Tengah M. Nursiah, menegaskan Desa Sukarara telah menjadi ikon tenun tradisional yang berkontribusi besar terhadap sektor pariwisata dan kebudayaan daerah.
“Tradisi menenun ini harus terus kita jaga sebagai kebanggaan daerah dan bagian dari kekuatan budaya Lombok Tengah. Harus terus dipertahankan, dikembangkan, dan diwariskan,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI) Kabupaten Lombok Tengah, Muhadi Dateng, berharap kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan terus diperkuat agar Begawe Jelo Nyensek semakin dikenal luas.
“Budaya turun-temurun ini harus terus dilestarikan dan dipromosikan hingga tingkat nasional maupun internasional. Agenda budaya ini telah menjadi identitas masyarakat Sukarara dan harus terus dijaga eksistensinya,” katanya.
Begawe Jelo Nyensek 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga memperkuat posisi Desa Sukarara sebagai destinasi wisata budaya unggulan di Nusa Tenggara Barat serta meningkatkan kesejahteraan para perajin tenun melalui pengembangan ekonomi kreatif.(*)






