KabarBaik.co, Lombok Tengah – Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Tengah Lalu Muhamad Hatta, menyatakan dukungan terhadap rencana PT Abadi Mega Angkutan Nusantara (AMAN) Air membangun terminal pesawat amfibi (seaplane) di Bendungan Batujai sebagai bagian dari pengembangan konektivitas wisata premium di daerah tersebut.
Meski demikian, Hatta menegaskan pengembangan sektor pariwisata tidak boleh mengorbankan masyarakat yang selama ini menggantungkan hidup di kawasan bendungan, khususnya para nelayan.
“Bendungan Batujai harus menjadi contoh pertama di Indonesia, yakni pengembangan seaplane yang mampu menyejahterakan nelayan, bukan justru mengusir mereka,” tegas Hatta, yang akrab disapa Bajang Atta.
Ia mendorong penerapan konsep Zona Biru-Hijau-Emas, yakni skema pengelolaan yang tetap memberikan ruang bagi nelayan sebagai pemanfaat utama kawasan perairan. Dalam konsep tersebut, masyarakat juga didorong memperoleh manfaat ekonomi baru melalui pekerjaan sebagai pengemudi perahu wisata, pemandu wisata, hingga pelaku UMKM, sementara sekitar 70 persen badan air tetap dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat.
Menurutnya, daya tarik Lombok bagi wisatawan tidak hanya terletak pada kemudahan akses, tetapi juga pada keramahan masyarakat lokal.
“Wisatawan dunia datang ke Lombok bukan hanya mencari kecepatan, tetapi juga ingin merasakan kehangatan masyarakat Lombok Tengah,” ujarnya.
Rencana pembangunan terminal pesawat amfibi di Bendungan Batujai sendiri bukanlah gagasan baru. Wacana menghadirkan layanan penerbangan amfibi sebagai penunjang konektivitas pariwisata di kawasan tersebut telah mencuat dalam beberapa tahun terakhir dan kini kembali mengemuka dengan target realisasi pada 2026.
Namun, rencana tersebut memicu penolakan dari masyarakat di sekitar Bendungan Batujai. Warga yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan mengkhawatirkan operasional pesawat amfibi akan membatasi aktivitas mereka di perairan dan berdampak pada hilangnya mata pencaharian.
Menanggapi kekhawatiran itu, Hatta menilai kehadiran terminal seaplane justru berpotensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat apabila dikelola secara inklusif. Karena itu, ia menekankan pentingnya memastikan masyarakat sekitar menjadi pihak yang pertama menerima manfaat dari investasi tersebut.
Menurutnya, pemerintah dan pengembang perlu menjamin adanya prioritas kesempatan kerja bagi warga lokal, peluang usaha baru, serta akses khusus bagi nelayan agar aktivitas mereka tetap dapat berjalan berdampingan dengan operasional pesawat amfibi.(*)






