KabarBaik.co, Lombok Tengah – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Barat (NTB) menegaskan bahwa upaya menekan angka kemiskinan ekstrem dan stunting memerlukan pendekatan yang menyeluruh. Tidak hanya melalui bantuan ekonomi maupun layanan kesehatan, tetapi juga dengan memperkuat pola pengasuhan keluarga dan meningkatkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Komitmen tersebut ditegaskan dalam peluncuran Program BKOW KUAT (Komunitas Unggul Anak Tangguh) yang dirangkaikan dengan penguatan Program Desa Berdaya di Desa Barabali, Kabupaten Lombok Tengah. Kegiatan yang dipimpin Wakil Gubernur NTB, Indah Dhamayanti Putri dan didampingi Ketua TP PKK Provinsi NTB, Sinta M. Iqbal itu menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah dalam membangun ekosistem pemberdayaan masyarakat yang mengintegrasikan sektor ekonomi, pendidikan, kesehatan, serta ketahanan keluarga.
Wakil Gubernur NTB yang akrab disapa Ummi Dinda itu mengatakan, program Desa Berdaya menjadi salah satu instrumen utama pemerintah provinsi dalam mempercepat pengentasan kemiskinan ekstrem melalui intervensi yang menyasar langsung akar persoalan masyarakat.
“Tujuan utama Desa Berdaya adalah memperkuat tiga pilar penting, yaitu ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Karena itu, kami hadir memastikan seluruh program yang telah dianggarkan benar-benar berjalan dengan baik dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, persoalan stunting tidak hanya dipengaruhi oleh faktor gizi, tetapi juga berkaitan erat dengan kondisi sosial, pola asuh dalam keluarga, hingga minimnya pendampingan orang tua terhadap anak akibat tuntutan pekerjaan. Karena itu, Pemprov NTB mendorong pemerintah desa, kader Posyandu, dan Tim Penggerak PKK untuk berperan aktif melakukan deteksi dini sekaligus mendampingi keluarga dalam memenuhi kebutuhan gizi dan kesehatan anak.
“Kita harus memetakan hambatan yang dihadapi masyarakat, baik dari sisi kepedulian orang tua maupun akses terhadap pelayanan. Upaya pencegahan harus menjadi prioritas agar angka stunting tidak terus meningkat,” tegasnya.
Selain itu, pemerintah juga terus memperkuat langkah preventif melalui edukasi kesehatan reproduksi, pencegahan pernikahan usia dini, dan pembiasaan pola hidup sehat sebagai bagian dari strategi jangka panjang menekan kasus stunting.
Sementara itu, Ketua TP PKK Provinsi NTB, Sinta M. Iqbal, menekankan bahwa keberhasilan membangun keluarga tidak hanya menjadi tanggung jawab seorang ibu, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif seorang ayah dalam proses pengasuhan anak. Ia menyoroti fenomena fatherless parenting, yakni kondisi ketika ayah hadir secara fisik tetapi minim berinteraksi dan mendampingi tumbuh kembang anak.
“Permasalahan Desa Berdaya tidak semata-mata soal kesehatan. Pola pengasuhan juga sangat menentukan. Kehadiran ayah dalam kehidupan anak, meski hanya meluangkan waktu untuk mendengarkan cerita atau menemani sebelum tidur, dapat memberikan dampak besar terhadap tumbuh kembang mereka,” kata Sinta.
Ia juga mengingatkan pentingnya pengawasan terhadap anak-anak yang mulai mengalami gejala kekurangan gizi agar tidak berkembang menjadi stunting.
Desa Barabali dipilih sebagai lokasi peluncuran Program BKOW KUAT karena merupakan desa binaan BKOW Provinsi NTB. Berdasarkan data per 18 Juni 2026, dari sekitar 6.000 kepala keluarga yang dilayani oleh 115 kader di 23 Posyandu, masih terdapat 100 anak yang mengalami stunting.
Dalam kegiatan tersebut, pemerintah juga menghadirkan berbagai layanan bagi masyarakat, di antaranya senam bersama, pemeriksaan kesehatan gratis, pembagian tablet tambah darah bagi pelajar, penyaluran bantuan sembako untuk lansia, bantuan telur bagi anak stunting, hingga pelatihan pengolahan makanan bergizi melalui kolaborasi BKOW NTB dan IKABOGA Lombok Tengah.
Wakil Gubernur bersama Ketua TP PKK NTB juga meninjau bazar UMKM serta melakukan penanaman pohon sebagai simbol komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan. Melalui sinergi Program Desa Berdaya dan BKOW KUAT, Pemerintah Provinsi NTB berharap upaya pengentasan kemiskinan ekstrem, percepatan penurunan stunting, penguatan ekonomi keluarga, dan peningkatan kualitas pola asuh dapat berjalan secara terpadu sehingga mampu melahirkan generasi NTB yang sehat, tangguh, dan produktif. (*)






