KabarBaik.co – Putaran pertama BRI Super League 2025–2026 resmi berakhir. Sebanyak 18 kontestan telah menuntaskan 17 pertandingan. Laga penutup mempertemukan Persijap Jepara melawan Dewa United, Senin (12/1) malam. Kekalahan 0-3 membuat Persijap kian terpuruk di dasar klasemen dengan raihan sembilan poin.
Di papan atas, Persib Bandung kembali menegaskan statusnya sebagai penguasa paruh musim. Kemenangan prestisius 1-0 atas rival klasik Persija Jakarta di Stadion GBLA, Minggu (12/1), mengukuhkan Maung Bandung di puncak klasemen dengan 38 poin hasil 12 kemenangan, dua imbang, dan tiga kekalahan. Raihan tersebut hanya terpaut satu angka dari catatan paruh musim mereka musim lalu.
Sejarah mencatat, status juara paruh musim kerap menjadi fondasi Persib untuk melaju hingga tangga juara. Pertanyaannya kini, apakah dominasi tersebut kembali berlanjut dan menghadirkan gelar ketiga secara beruntun? Terlalu dini memang untuk memastikan, namun dengan kedalaman skuad yang mereka miliki, peluang itu terbuka lebar.
Namun, di balik sorotan pada Persib, satu nama lain perlahan menyimpan ancaman laten. Persebaya Surabaya.
Dalam lanskap persaingan sepak bola kasta tertinggi Indonesia sejak promosi pada 2018, Persebaya menjelma sebagai anomali yang sulit ditebak. Jika kompetisi dianalogikan sebagai lari maraton, Green Force bukan tipe pelari yang memimpin sejak start. Mereka justru kerap muncul sebagai “predator” yang menunggu momen, sebelum menerkam di fase akhir.
Karakter itulah yang membuat Persebaya layak menyandang julukan Sang Late Bloomer, bunga yang selalu mekar terlambat, namun mematikan.
Statistik memperkuat narasi tersebut. Pada musim 2018, sebagai tim promosi, Persebaya sempat terdampar di peringkat ke-13 saat paruh musim. Namun, putaran kedua menjadi panggung kebangkitan luar biasa, membawa mereka menembus lima besar. Pola serupa terulang pada 2019, ketika Persebaya melesat dari papan tengah dan finis sebagai runner-up, menghancurkan dominasi tim-tim elite di fase krusial liga.
Bagi publik Gelora Bung Tomo, posisi di tengah musim bukanlah vonis, melainkan sekadar angka yang siap “dirobek” di putaran kedua.
Kunci akselerasi Persebaya kerap terletak pada kecerdikan manajemen memanfaatkan bursa transfer paruh musim. Klub kebanggaan Arek-arek Suroboyo ini memiliki insting tajam dalam memoles pemain—nama-nama yang kerap biasa saja di putaran pertama, namun berubah menjadi fenomena liga di putaran kedua.
Taisei Marukawa, Marselino Ferdinan, Rizky Ridho, hingga David da Silva adalah potongan mozaik dari tradisi tersebut. Persebaya tahu kapan harus menekan pedal gas, tepat saat persaingan liga mencapai titik didih.
Meski sempat terguncang oleh inkonsistensi kepelatihan pada musim 2023–2024, Persebaya menunjukkan kematangan pada 2024–2025. Di bawah arahan Paul Munster, mereka bahkan mematahkan stigma slow starter dengan menempati posisi kedua di paruh musim, catatan terbaik dalam satu dekade terakhir.
Kini, awal 2026 kembali menempatkan Persebaya dalam skenario yang sangat familiar. Menyelesaikan paruh musim 2025–2026 di peringkat ketujuh, Bajul Ijo bersiap menyambut putaran kedua dengan nakhoda baru, Bernardo Tavares.
Bagi rival-rival di papan atas, posisi Persebaya saat ini sejatinya adalah alarm bahaya. Sejarah telah berulang kali mengajarkan bahwa Januari bukan fase terlemah bagi Green Force, melainkan titik awal untuk lompatan besar.
Sebagai bagian dari persiapan, Persebaya mulai mengintegrasikan tiga pemain asing anyar asal Brasil: Bruno Paraiba (striker), Jefferson da Silva (bek sayap kiri), dan Gustavo Fernandes (bek tengah). Tavares menegaskan, adaptasi pemain dan keseimbangan tim menjadi fokus utama jelang putaran kedua.
Selain pertimbangan teknis, perekrutan tersebut juga realistis secara finansial. Persebaya menaruh perhatian khusus pada sektor pertahanan, terutama postur dan kekuatan fisik, sembari membangun persaingan sehat di setiap posisi.
Publik Surabaya kini menanti satu pertanyaan besar. Apakah kutukan bagi lawan-lawannya akan kembali terulang? Akankah Sang Late Bloomer sekali lagi mekar paling indah di ujung musim, dan (mungkin) membawa trofi juara ke Kota Pahlawan?
Satu hal pasti, jika sejarah masih relevan sebagai penanda masa depan, Persebaya Surabaya bukanlah tim yang ingin dihadapi tim lain di putaran kedua. Wani! (*)
Berikut Klasemen Putaran I BRI Super League 2025-2026:
- Persib – 38 poin
- Borneo – 37 poin
- Persija Jakarta – 35 poin
- Malut United – 34 poin
- Persita – 31 poin
- PSIM Yogyakarta – 30 poin
- Persebaya – 28 poin
- Bali United – 27 poin
- Bhayangkara – 22 poin
- Arema – 21 poin
- Dewa United – 20 poin
- PSM – 19 poin
- Persik – 19 poin
- Madura United – 17 poin
- PSBS Biak – 16 poin
- Persis Solo – 10 poin
- Semen Padang – 10 poin
- Persijap – 9 poin








