PRESTASI tak pernah lahir kebetulan. Tapi, tumbuh dari sistem yang rapi, pembinaan berjenjang, serta kolaborasi banyak pihak. Jawa Timur menjadi satu bukti nyata bahwa manajemen olahraga yang terstruktur mampu melahirkan atlet-atlet juara. Di balik deretan medali PON hingga SEA Games, ada kerja KONI Jatim yang mungkin terdengar sunyi, yang kini dinakhodai M. Nabil.
Jatim terus menegaskan diri sebagai salah satu kekuatan utama olahraga nasional. Dalam berbagai ajang besar, mulai Pekan Olahraga Nasional (PON) hingga SEA Games, nama provinsi yang kini dipimpin Gubernur Khofifah Indar Parawansa ini konsisten berada di papan atas klasemen perolehan medali.
Di PON terakhir, misalnya. Kontingen Jatim menembus tiga besar nasional. Sementara di SEA Games 2025 Thailand, atlet-atlet asal Jatim menyumbangkan puluhan medali emas bagi Indonesia. Jatim menjadi salah satu kontributor terbesar bagi Merah Putih.
Capaian tersebut tentu bukan hasil kerja instan. Namun, buah dari proses panjang pembinaan, seleksi, serta pengelolaan organisasi olahraga yang sistematis. Di sinilah peran Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jatim menjadi krusial.
Sebagai induk pembinaan olahraga prestasi di daerah, KONI tidak hanya bertugas mengirim atlet ke kejuaraan. Lebih dari itu, organisasi ini merancang fondasi sejak hulu. Mulai pembibitan usia dini, pelatihan berjenjang, kompetisi rutin, hingga pematangan atlet menuju level nasional dan internasional. Sistem ini diperkuat melalui sinergisitas dengan cabang olahraga (cabor), pemerintah daerah, pelatih, sekolah, kampus, hingga klub-klub swasta.
Di bawah kepemimpinan M. Nabil, arah pembinaan olaharaga di Jatim belakangan ini kian jelas. Dalam setiap kesempatan, Nabil menekankan bahwa prestasi tidak cukup dibangun lewat pendekatan teknis semata, tetapi harus melalui ekosistem kolaboratif pentahelix. Yakni, melibatkan pemerintah, dunia pendidikan, dunia usaha, komunitas olahraga, dan media massa.
Pendekatan ini membuat pembinaan atlet di Jatim lebih terstruktur. Program pelatihan daerah (Pelatda) dijalankan lebih terukur, kompetisi tingkat kabupaten/kota digiatkan sebagai ruang seleksi alami, sementara perguruan tinggi seperti Unesa, ITS, UB, Unair, dan Unej, dan kampus-kampus lain didorong menjadi pusat pengembangan sport science. Dukungan sponsor swasta juga makin diperkuat untuk menunjang kebutuhan fasilitas dan kesejahteraan atlet.
Hasilnya terlihat nyata. Cabang-cabang olahraga seperti voli, pencak silat, panjat tebing, renang, bela diri, panahan, hingga bulu tangkis terus menyumbang medali. Banyak atlet Jatim yang tak hanya berjaya di level provinsi, tetapi juga menjadi tulang punggung tim nasional. Artinya, Jawa Timur bukan sekadar mengejar prestasi daerah, melainkan ikut menyuplai kekuatan besar untuk Garuda.
Dari dulu, Jatim memang dikenal sebagai lumbung atlet nasional. Bahkan, tidak sedikit yang menjadi legenda hidup. Beberapa di antaranya Rudi Hartono (bulu tangkis), Lilis Handayani (panahan), dan banyak lagi. Bahkan terkini ada nama Megawati Hangestri (bola voli). Label itu bukan tanpa alasan. Dari generasi ke generasi, atlet Jatim selalu muncul di panggung besar. Tradisi juara inilah yang dijaga oleh KONI.
Kinerja KONI Jatim tersebut pun mendapat pengakuan dari berbagai pihak. Dalam rangkaian Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Banten pada 8 Februari lalu, Ketua KONI Jatim M. Nabil menerima penghargaan dari Seksi Wartawan Olahraga (SWO) PWI Pusat. Penghargaan itu diserahkan langsung oleh Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir bersamaan dengan penghargaan kepada sejumlah atlet dan tokoh olahraga lainnya di Indonesia.
Penghargaan tersebut menjadi simbol apresiasi atas dedikasi KONI Jatim dalam membangun olahraga prestasi. Tidak hanya soal medali, tetapi juga tata kelola organisasi, konsistensi pembinaan, serta komitmen membangun sinergi lintas sektor.
Bagi Nabil, penghargaan itu bukan tujuan akhir. Alumnus Unejustru melihatnya sebagai tantangan baru untuk memperkuat kolaborasi ke depan. Menurutnya, potensi olahraga Jawa Timur masih sangat besar jika semua elemen bergerak bersama.
Ke depan, KONI Jatim menargetkan penguatan sistem pembibitan sejak usia sekolah, peningkatan kualitas pelatih melalui pelatihan sport science, serta digitalisasi data atlet agar pemantauan performa lebih presisi. Kompetisi-kompetisi lokal juga akan terus digelar sebagai panggung regenerasi.
Langkah tersebut penting agar prestasi tidak bergantung pada satu generasi. Regenerasi atlet harus berjalan alami dan berkesinambungan. Dengan begitu, Jawa Timur tidak hanya kuat hari ini, tetapi juga tetap dominan dalam satu dekade mendatang.
Di tengah persaingan olahraga nasional yang kian ketat, model pembinaan Jatim bisa menjadi rujukan. Perpaduan manajemen profesional, dukungan pemerintah daerah, keterlibatan kampus, dan peran media menciptakan ekosistem yang sehat bagi atlet untuk berkembang.
Pada akhirnya, prestasi olahraga memang bukan semata urusan podium. Ia adalah cerminan bagaimana sebuah daerah mengelola potensi manusianya. Dan sejauh ini, di bawah kendali M. Nabil, KONI Jawa Timur menunjukkan bahwa sistem yang kuat akan selalu melahirkan juara.
Jatim bukan hanya peserta kompetisi. Jatim adalah penyuplai prestasi bagi Indonesia. Dan cerita itu masih akan terus berlanjut.
Membangun Juara Seutuhnya: Dari Podium ke Masa Depan
Namun bagi M. Nabil, prestasi olahraga tidak berhenti ketika medali dikalungkan di leher atlet. Ia melihat ada persoalan yang kerap luput dari perhatian publik: kehidupan atlet setelah masa emas berlalu.
Selama ini, pembinaan olahraga sering kali hanya berfokus pada aspek fisik, teknik, dan taktik. Atlet dilatih keras untuk menang, dipersiapkan menghadapi kompetisi, lalu diberi bonus ketika berprestasi. Tetapi setelah itu, tidak semua dari mereka benar-benar siap menjalani fase kehidupan berikutnya.
Padahal, nominal bonus yang diterima atlet berprestasi terkadang tidak kecil. Bahkan, ada atlet Jawa Timur yang total bonusnya mencapai hingga Rp 4 miliar dari satu event. Angka fantastis itu, jika dikelola dengan baik, seharusnya cukup menjadi fondasi ekonomi jangka panjang. Namun, realitas di lapangan sering berbeda.
“Jangan sampai dapat sekarang, habis sekarang,” begitu kira-kira prinsip yang terus diingatkan Nabil.
Memang, banyak atlet—terutama yang berasal dari daerah—belum memiliki literasi keuangan dan manajemen hidup yang memadai. Ketika dana besar datang secara tiba-tiba, tanpa pendampingan, uang tersebut rentan habis untuk konsumsi sesaat. Investasi tak terarah, pengeluaran impulsif, hingga kurangnya perencanaan masa depan kerap menjadi jebakan. Akibatnya, saat karier meredup atau cedera datang, sebagian atlet justru menghadapi kesulitan ekonomi.
Dari kegelisahan itulah, pihaknya telah merancang pendekatan baru dalam pembinaan. Bukan hanya membentuk atlet yang kuat secara fisik, tetapi juga matang secara mental dan finansial.
Pendampingan atlet itu seperti mnggandeng psikolog, ahli manajemen, serta konsultan perencanaan keuangan. Para atlet tidak hanya berlatih di lapangan, tetapi juga dibekali edukasi tentang pengelolaan bonus, investasi, perencanaan karier pasca-pensiun, hingga pembentukan pola hidup yang sehat dan berkelanjutan.
Pendekatan tersebut menempatkan atlet sebagai manusia seutuhnya, bukan sekadar mesin peraih medali.
Pendampingan psikologis juga menjadi perhatian penting. Tekanan kompetisi, sorotan publik, hingga perubahan hidup mendadak setelah menerima bonus besar kerap memengaruhi stabilitas mental atlet. Dengan dukungan profesional, mereka diharapkan mampu mengambil keputusan lebih rasional dan terukur.
Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari visi besar ekosistem pentahelix yang diusung KONI Jatim. Dunia akademik berkontribusi lewat kajian sport science dan literasi keuangan, praktisi manajemen membantu perencanaan usaha atau investasi, sementara pemerintah dan komunitas olahraga memastikan keberlanjutan program.
Bagi Nabil, keberhasilan sejati bukan hanya ketika atlet berdiri di podium, melainkan ketika mereka tetap sejahtera bertahun-tahun setelah pensiun.
Sebab, pada akhirnya, prestasi olahraga bukan semata tentang kemenangan hari ini. Namun, tentang masa depan para juara itu sendiri. Dan, di Jawa Timur, pembinaan kini diarahkan untuk memastikan para atlet tidak hanya hebat saat bertanding, melainkan juga tangguh dalam menjalani kehidupan. (*)






