KabarBaik.co – Terobosan di dunia pertanian organik terus berkembang dan kian menjanjikan. Kali ini datang dari kolaborasi Yayasan Bimasakti Peduli Negeri bersama Askara yang mengembangkan sistem pertanian ramah lingkungan tanpa pestisida sintetis.
Inovasi tersebut memanfaatkan limbah kotoran sapi yang diolah melalui budidaya cacing Africa Net Crawler (ANC) di salah satu greenhouse milik Yayasan Bimasakti, Desa Claket, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto.
Limbah peternakan yang selama ini dipandang tak bernilai, kini justru berubah menjadi pupuk organik premium berupa kascing kotoran cacing yang kaya nutrisi dan diminati pasar internasional, termasuk Korea Selatan.
Wahyu Tri, pengelola budidaya cacing ANC, menjelaskan bahwa proses pengolahan dilakukan secara alami tanpa bahan kimia. Kotoran sapi dari peternak lokal dikumpulkan, lalu menjadi media hidup cacing hingga menghasilkan kascing bertekstur halus menyerupai pasir.
“Jadi kotoran sapi yang biasanya dibuang peternak kami tampung, kemudian kami beri cacing. Hasil akhirnya kascing seperti ini. Permintaan dari Korea Selatan mencapai 100 ton per bulan, tapi saat ini kami belum mampu memenuhinya,” ujar Wahyu saat ditemui di lokasi, Sabtu (17/01).
Menurutnya, kascing memiliki kualitas jauh lebih unggul dibanding pupuk kompos biasa. Proses biologis alami dalam siklus hidup cacing menjadikan pupuk ini sebagai penyubur tanah yang sangat efektif.
“Secara siklus hidup, kascing ini penyubur tanah paling bagus. Kami memproduksi kompos secara mandiri, tidak seperti kebanyakan petani,” jelasnya.

Budidaya cacing ANC sendiri tergolong mudah dan berbiaya rendah. Perawatan utama hanya memastikan cacing tidak terpapar sinar matahari langsung. Media cukup dijaga kelembapannya dengan penyemprotan air bila mulai mengering.
“Yang penting ada naungan. Kalau terlalu panas dan kering, kita semprot air. Pakannya dua hari sekali dari bahan yang sudah difermentasi,” tambahnya.
Tak hanya kascing, cacing ANC juga memiliki nilai ekonomi tersendiri. Namun hingga kini pemanfaatannya masih terbatas untuk kebutuhan umpan pemancing. Padahal, cacing ANC berpotensi diolah menjadi produk kering untuk bahan pengobatan herbal.
“Kalau cacingnya sendiri sebenarnya bisa dikeringkan jadi obat. Tapi sementara ini kami fokus ke kascing karena permintaannya sangat tinggi,” ujarnya.
Selain menyasar pasar ekspor, kascing produksi Askara juga telah dimanfaatkan petani lokal. Awalnya, kascing dibagikan secara gratis sebagai uji coba ke sejumlah kebun warga.
“Warga sekarang banyak yang minta. Kami kasih tester di kebun mereka, hasilnya di tanaman seledri dan tanaman lain jauh lebih maksimal,” kata Wahyu.
Meski peluang pasar global terbuka lebar, keterbatasan kapasitas produksi masih menjadi tantangan utama. Ke depan, pengelola berharap budidaya cacing ANC dapat dikembangkan lebih luas agar mampu memenuhi permintaan ekspor sekaligus memperkuat pertanian organik dan ramah lingkungan di dalam negeri. (*)







