KabarBaik.co – Aktivitas transportasi di Jawa Timur menunjukkan perlambatan pada November 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat penurunan pergerakan penumpang di hampir seluruh moda transportasi, baik udara, laut, maupun kereta api, seiring dengan melemahnya arus logistik dan mobilitas masyarakat.
Kepala BPS Jawa Timur, Zulkipli, menjelaskan bahwa jumlah penumpang domestik yang datang melalui seluruh bandara di Jawa Timur pada November 2025 tercatat sebanyak 472,35 ribu orang. Angka tersebut turun 8,62 persen dibandingkan Oktober 2025.
“Jumlah penumpang yang berangkat dari bandara di Jawa Timur juga mengalami penurunan sebesar 7,79 persen, dari 530.061 orang pada Oktober menjadi 488.756 orang pada November,” ujar Zulkipli di Surabaya, Kamis (8/1).
Bandara Internasional Juanda masih menjadi pintu utama pergerakan udara di Jawa Timur. Pada November 2025, bandara ini menguasai 94,91 persen total kedatangan penumpang domestik dan 94,90 persen total keberangkatan penumpang domestik di Jawa Timur.
Secara tahunan, Bandara Juanda sebenarnya masih mencatat pertumbuhan positif. Kedatangan penumpang meningkat 2,85 persen dan keberangkatan tumbuh 16,28 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun, secara bulanan, pergerakan penumpang di bandara ini terkoreksi cukup dalam, masing-masing turun 8,70 persen untuk kedatangan dan 7,96 persen untuk keberangkatan.
Dari sisi logistik udara, aktivitas bongkar barang penerbangan domestik pada Oktober hingga November 2025 juga menurun 1,47 persen, dari 1.359.120 kilogram menjadi 1.339.123 kilogram. Secara tahunan, penurunan tercatat sebesar 0,22 persen. Penurunan terbesar dialami Bandara Abdurahman Saleh, yang terkontraksi hingga 19,24 persen.
Sementara itu, muat barang ekspor internasional melalui Bandara Juanda turun cukup signifikan, yakni 11,40 persen dari 897.456 kilogram menjadi 795.105 kilogram. Penurunan ini sejalan dengan berkurangnya frekuensi penerbangan ekspor, dari 604 penerbangan pada Oktober menjadi 586 penerbangan pada November 2025.
Kondisi serupa juga terjadi pada sektor pelayaran. Jumlah kapal singgah pelayaran domestik pada November 2025 turun 4,95 persen secara bulanan dan melemah 1,03 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pelabuhan Tanjung Perak tetap menjadi tulang punggung logistik maritim Jawa Timur, meski mencatat penurunan tipis jumlah unit kapal, yakni 0,68 persen secara bulanan dan 4,59 persen secara tahunan.
Untuk pelayaran penumpang domestik, kedatangan penumpang pada Oktober hingga November 2025 turun cukup tajam, yakni 22,99 persen, dari 93.614 orang menjadi 72.089 orang. Meski demikian, secara tahunan, jumlah tersebut justru meningkat 22,14 persen. Pelabuhan Tanjung Perak kembali mendominasi dengan kontribusi 50,86 persen dari total kedatangan penumpang domestik di Jawa Timur.
Pelayaran penumpang internasional di Jawa Timur yang seluruhnya dilayani melalui Pelabuhan Tanjung Perak menunjukkan tren sebaliknya. Pada November 2025, kedatangan penumpang internasional mencapai 2.862 orang, melonjak 222,66 persen dibandingkan November 2024.
Adapun jumlah keberangkatan penumpang pelayaran domestik pada November 2025 tercatat sebanyak 72.640 orang, turun 22,13 persen dibandingkan Oktober. Sektor bongkar barang domestik juga mengalami kontraksi sebesar 13,63 persen secara bulanan dan turun 5,03 persen dibandingkan November 2024.
Di sektor perkeretaapian, jumlah penumpang kereta api di Jawa Timur pada periode Oktober–November 2025 turun 3,61 persen, dari 2.285.254 menjadi 2.202.700 penumpang. Penurunan terjadi baik pada layanan kelas lokal maupun kelas utama.
Penumpang kereta kelas lokal mencatat penurunan paling signifikan, yakni 5,43 persen, dari 1.471.777 menjadi 1.391.903 penumpang. Sementara itu, kelas utama relatif stabil dengan penurunan tipis sebesar 0,33 persen.
“Kelas lokal tetap mendominasi kontribusi penumpang kereta api di Jawa Timur dengan porsi 60,2 persen dari total penumpang,” kata Zulkipli.
Secara keseluruhan, BPS menilai penurunan aktivitas transportasi pada November 2025 mencerminkan normalisasi mobilitas pasca periode ramai serta pelemahan sementara arus barang dan penumpang di Jawa Timur.






