KabarBaik.co – Di Jalan Mendut, Pacarkeling, Surabaya, terhampar sebuah lapangan sepak bola yang tampak biasa namun ternyata menyimpan sejarah yang luar biasa. Lapangan PJKA, begitu masyarakat mengenalnya, bukan sekadar tempat bermain bola. Di bawah hamparan rumputnya, tersimpan cerita masa lalu yang kelam dan penuh makna.
Yance Ignasius, penjaga lapangan berusia 45 tahun, duduk di bangku kayu sambil mengenang masa kecilnya. “Dulu, waktu saya masih SMP, lapangan ini sering disebut bekas kuburan orang Belanda. Pernah saat menggali tanah di belakang gawang, kami menemukan peti kayu yang diduga peti mati orang Belanda,” cerita Yance, Minggu (22/12).
Kala itu, niatnya sederhana, hanya ingin membuat gorong-gorong kecil di sisi lapangan. Namun, apa yang ditemukan membuatnya takjub.
Lapangan ini dulunya memang tempat peristirahatan terakhir warga Eropa yang tinggal di Surabaya pada masa kolonial. Seiring waktu, kuburan itu berubah menjadi lapangan sepak bola. Di atas tanah yang pernah menjadi tempat duka, kini anak-anak berlarian mengejar bola, membawa keceriaan baru.
Namun, lapangan PJKA bukan sekadar tempat bermain. Pada 1948, ketika Stadion Gelora 10 November masih dalam tahap pembangunan, lapangan ini menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) pertama. “Bayangkan, di lapangan sederhana ini, sejarah besar olahraga Indonesia pernah digoreskan,” katanya dengan bangga.
Tak hanya itu, lapangan ini juga menjadi tempat lahirnya bintang-bintang sepak bola Indonesia. Nama-nama besar seperti Bejo Sugiantoro dan Marselino Ferdinan pernah menjejakkan perjalanan karir di sini, melalui klub legendaris Indonesia Muda (IM). Hingga kini, beberapa klub lokal seperti Araya, Trijaya FC, dan Satria Muda masih rutin berlatih di lapangan ini.
Menurut Nur Setiawan, pemerhati sejarah Surabaya, lapangan ini juga memiliki nilai simbolis yang mendalam. “Pada awal abad ke-20, lapangan ini dikelola oleh Haji Mochamad Zein, seorang tokoh lokal yang mendirikan klub Patjar Keling Voetbal Bond. Klub ini menjadi tempat para pemuda Surabaya, atau arek-arek Suroboyo, menyalurkan semangat mereka melalui sepak bola,” jelasnya.
Sepak bola kala itu bukan sekadar olahraga, melainkan simbol perlawanan terhadap penjajahan. “Di lapangan ini, para pemuda Bumiputera membuktikan bahwa mereka mampu bersaing dengan tim-tim Eropa. Ini lebih dari sekadar permainan, ini adalah semangat kebangsaan,” lanjutnya.
Meskipun klub Patjar Keling Voetbal Bond kini hanya tinggal nama, semangat yang ditanamkan tetap hidup. Lapangan PJKA terus menjadi tempat bagi generasi baru untuk bermimpi dan berjuang, baik di dunia sepak bola maupun kehidupan.
“Lapangan ini mengajarkan kita bahwa dari sejarah kelam, kita bisa menciptakan sesuatu yang indah,” kata Yance sambil memandang anak-anak yang berlatih sore itu. Bagi Yance, menjaga lapangan ini bukan hanya pekerjaan, melainkan sebuah penghormatan terhadap sejarah.
Lapangan PJKA Pacarkeling adalah lebih dari sekadar tempat. Ia adalah saksi perjalanan waktu, dari kuburan Belanda, arena olahraga nasional, hingga simbol perjuangan lokal. Di tengah hiruk-pikuk Surabaya, lapangan ini terhampar sejarah, menyimpan cerita yang menginspirasi siapa saja yang mendengarnya. (*)








