KabarBaik.co, Malang – Suasana Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah di Kota Malang belum benar-benar usai. Memasuki hari kedua setelah Lebaran (H+2), denyut kebersamaan justru menemukan ruang lain. Bukan lagi di ruang tamu dengan hidangan opor dan rendang, melainkan di lorong-lorong pasar yang hangat dan penuh cerita.
Di Pasar Klojen, Minggu pagi (22/3), aroma masakan menggoda langsung menyambut siapa saja yang datang. Sejak pukul 09.00 WIB, pasar legendaris ini telah dipadati pengunjung. Mereka datang dengan satu tujuan yang sama: mencari rasa berbeda setelah dua hari berturut-turut menyantap menu khas Lebaran.
Fenomena “bosan opor” terasa nyata. Warga lokal hingga para pemudik yang pulang kampung ke Malang berbaur, menyusuri setiap sudut pasar yang kini tampil lebih rapi dan bersih. Pasar Klojen tak sekadar tempat belanja, melainkan telah menjelma menjadi destinasi wisata kuliner yang hidup.
Di beberapa titik, antrean mengular menjadi pemandangan biasa. Kedai mie ayam dan bakso menjadi salah satu primadona. Meja-meja penuh, sementara pengunjung lainnya rela berdiri menunggu giliran demi menikmati semangkuk hidangan hangat yang sederhana namun
dirindukan.
Tak jauh dari sana, kroket kentang Jawi juga tak kalah ramai. Camilan legendaris dengan isian daging ini diburu pembeli, bahkan banyak yang memborong untuk dijadikan oleh-oleh. Sementara itu, deretan minuman segar seperti es cendol dan smoothies menjadi pelepas dahaga di tengah cuaca Malang yang mulai menghangat.
Di sisi lain pasar, deretan oleh-oleh khas Malang seperti keripik tempe dan strudel juga laris diburu. Para pengunjung memanfaatkan momen Lebaran untuk membawa pulang sedikit kenangan rasa dari kota ini.
Transformasi Pasar Klojen yang kini lebih tertata turut menjadi daya tarik tersendiri. Kebersihan dan kenyamanan membuat pengunjung betah berlama-lama, bahkan datang bersama keluarga. “Lagi mudik ke Malang, sekalian kangen suasana pasar. Tapi sekarang tempatnya sudah bersih dan banyak pilihan makanan, jadi nyaman bawa anak-anak,” ujar Maya, pemudik asal Jakarta.
Hal serupa dirasakan Irma (40), warga Surabaya yang pulang kampung ke Malang. Baginya, Lebaran bukan hanya soal silaturahmi, tetapi juga perjalanan rasa yang penuh kenangan.
Selain berziarah ke Makam Islam Kasin, Irma menyempatkan diri berburu kuliner khas Malang yang sudah lama dirindukan. Mulai dari rawon legendaris Karoman (Mak Cem), cwimie di kawasan Pasar Besar, hingga jajanan manis seperti pukis dan terang bulan di kawasan Gajah Mada.
“Setiap Lebaran pasti disempatkan kulineran. Rasanya beda, ini yang ditunggu-tunggu,” tuturnya.
Ramainya Pasar Klojen di momen H+2 Lebaran menjadi bukti bahwa pasar rakyat tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Bukan hanya sebagai pusat ekonomi, tetapi juga ruang nostalgia, tempat di mana tradisi dan modernitas bertemu dalam satu meja makan.
Di tengah hiruk pikuk itu, satu hal terasa pasti: Lebaran tak melulu soal hidangan khas di rumah. Kadang, kebahagiaan justru ditemukan saat menyantap semangkuk mie ayam di pasar, ditemani tawa keluarga dan kenangan masa lalu yang kembali hidup. (*)






