KabarBaik.co, Bojonegoro – Pemkab Bojonegoro tengah serius menangani persoalan sampah hingga ke level desa. Upaya ini diperkuat melalui Surat Edaran (SE) Bupati Bojonegoro Setyo Wahono tentang pelaksanaan kerja bakti terjadwal di seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) hingga pemerintah desa.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bojonegoro, Luluk Alifah, menegaskan bahwa kerja bakti ini bukan sekadar kegiatan seremonial. Menurutnya, gerakan tersebut dirancang secara terstruktur untuk memastikan kebersihan lingkungan terjaga secara rutin dan berkelanjutan.
“Kerja bakti ini bukan sekadar seremonial. Ini adalah gerakan terstruktur untuk memastikan saluran drainase, area publik, dan titik rawan penumpukan sampah bersih secara rutin dan terkoordinasi,” ujar Luluk, Selasa (10/2).
Ia menjelaskan kebijakan ini sejalan dengan program nasional pengurangan dan penanganan sampah. Langkah ini dinilai Pemkab Bojonegoro dalam mewujudkan tata kelola lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Tak hanya itu, DLH juga menyusun sejumlah program strategis untuk mendorong pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Di antaranya melalui optimalisasi Bank Sampah dan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R), serta penguatan fasilitas pengolahan sampah di tingkat komunitas. Dengan begitu, sampah diharapkan dapat diselesaikan di lingkungan lokal tanpa terus membebani Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
“Keberhasilan pengurangan sampah di tingkat kabupaten memerlukan sinergi lintas sektor. Kami aktif berkolaborasi dengan OPD terkait dan pemerintah desa agar program ini benar-benar berjalan efektif di lapangan,” kata Luluk.
Ia menambahkan, partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci utama agar gerakan ini tidak berhenti di tataran kebijakan semata.
Melalui langkah-langkah tersebut, Pemkab Bojonegoro optimistis dapat menciptakan lingkungan yang lebih nyaman dan sehat.
Upaya ini menjadi semakin mendesak mengingat produksi sampah di Bojonegoro terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk. Pada akhir 2025, timbulan sampah diperkirakan mencapai sekitar 368 ton per hari. Secara tahunan, volume sampah juga menunjukkan tren naik, dari 189.402 ton pada 2020 menjadi 199.006 ton pada 2024.
Ironisnya, sekitar 90 persen sampah tersebut masih belum terkelola secara maksimal. Sumber utama sampah di kabupaten Bojonegoro sendiri berasal dari rumah tangga, aktivitas komersial, serta fasilitas umum. (*)






