KabarBaik.co, Nganjuk – Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang selama 4 bulan mangkrak di Nganjuk akhirnya dievakuasi. Limbah B3 tersebut dievakuasi dari 12 titik di Nganjuk.
“Setelah ditemukan pada Oktober tahun lalu, kita langsung mengambil langkah untuk melakukan pemeriksaan. Namun sayangnya, baik LH Kabupaten maupun Provinsi tidak memiliki laboratorium sendiri, sehingga sampel harus dikirim ke Banten,” ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) Nganjuk Sujito, Jumat (30/1)
Sujito mengatakan salah satu lokasi yang menjadi fokus adalah tanah kosong di areal persawahan Desa Putren, Sukomoro. Selain itu, ada dua titik lain yakni di Desa Kemlokolegi, Baron dan Desa Pecuk, Patianrowo.
Keberadaan limbah di kawasan persawahan sempat menjadi kekhawatiran bagi warga setempat, mengingat dampak potensialnya terhadap kesuburan tanah dan keamanan sumber air yang digunakan untuk pertanian.
Sujito menjelaskan proses uji laboratorium yang dilakukan di luar daerah menjadi faktor utama yang memperpanjang waktu penanganan.
Setelah melalui serangkaian analisis yang teliti, limbah tersebut resmi diklasifikasikan sebagai B3 dan ditemukan mengandung aluminium foil, dengan dugaan berasal dari industri yang berada di luar wilayah Nganjuk.
Penanganan limbah ini tidak dilakukan sendiri-sendiri. Sebuah kerja sama erat terbentuk antara Dinas LH Pemda Nganjuk, LH Provinsi Jawa Timur, BPBD, Kejaksaan, Polres Nganjuk, Satpol PP, dan Forum Pimpinan Camat (Forpimcam) untuk kasus limbah ini.

Koordinasi dilakukan untuk pengamanan lokasi agar tidak ada akses yang tidak sah, sekaligus mempersiapkan proses evakuasi yang aman dan terkontrol. Dimana di semua lokasi dipasang garis polisi
Setelah dievakuasi, seluruh limbah B3 akan dibawa ke pabrik semen untuk melalui proses penguraian yang sesuai standar. Pilihan ini diambil karena pabrik semen memiliki fasilitas yang mampu menangani limbah berbahaya tanpa menimbulkan dampak tambahan bagi lingkungan.
Sujito menambahkan bahwa proses yang memakan waktu empat bulan ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak.
“Kita menyadari bahwa keterbatasan fasilitas menjadi kendala utama, namun dengan kerja sama yang baik, kita tetap bisa mencapai tujuan untuk menangani limbah ini dengan benar,” ujarnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk tetap waspada dan tidak ragu untuk melaporkan setiap bentuk pembuangan limbah sembarangan yang ditemukan.
“Kita berharap kejadian seperti ini tidak terulang lagi, namun jika ada, kita siap untuk menangani dengan lebih cepat dan efektif berkat pengalaman yang telah kita dapatkan,” pungkas Sujito. (*)






