KabarBaik.co- Mbok Yem, nama aslinya Wakiyem, adalah sosok legendaris pemilik warung tertinggi di puncak Gunung Lawu sejak 1980-an yang menjadi pelipur lapar dan hangat bagi ribuan pendaki setiap tahun. Warungnya di ketinggian 3.150 mdpl menyediakan makanan hangat, jamu, dan pecel, bahkan pada suhu minus 5 °C dan angin kencang, dengan pelayanan hingga 200–300 pendaki per hari. Di usianya yang menginjak sekitar 82 tahun, Mbok Yem tetap setia berjualan dan melestarikan tradisi turun gunung dengan tandu saat awal Ramadan. Pada 23 April 2025, ia tutup usia di kediamannya di Dusun Dagung, Poncol, Magetan, setelah berjuang melawan pneumonia akut dan sempat dirawat di RSU Aisyiyah Ponorogo. Kepergiannya meninggalkan warung yang kini dikelola keluarga, cucu, dan kerabat dekatnya, serta kenangan mendalam bagi komunitas pendaki Indonesia. Berikut biodata Mbok Yem sebagai berikut:
- Nama Lengkap: Wakiyem, dikenal sebagai Mbok Yem
- Perkiraan Tahun Lahir: circa 1943 (berdasarkan usia 82 tahun pada April 2025)
- Usia saat Wafat: 82 tahun
- Tempat Tinggal: Dusun Dagung, Desa Gonggang, Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan, Jawa Timur
- Tanggal Wafat: 23 April 2025
- Penyebab Wafat: Pneumonia akut
Latar Belakang dan Awal Karier
Dari Penjual Jamu ke Pendiri Warung
Mbok Yem memulai kariernya sebagai penjual jamu yang rutin mencari bahan alami di lereng Gunung Lawu bersama mendiang suaminya pada dekade 1980-an .
Pada suatu pertemuan dengan pendaki yang kelelahan, ia terpanggil membuka warung kecil di Hargo Dalem, tepat di bawah puncak, yang kelak menjadi warung legendaris .
Sejak saat itu, warungnya berdiri dan terus berkembang, dilengkapi meja kayu sederhana dan peralatan masak tradisional .
Warung di Puncak Gunung Lawu
Lokasi dan kondisi ekstrem warung Mbok Yem beroperasi di ketinggian 3.150 meter di atas permukaan laut, hanya selisih 115 mdpl dari puncak Gunung Lawu . Setiap malam, suhu di area warung bisa turun hingga minus 5 °C disertai angin kencang, namun Mbok Yem tetap setia melayani pendaki .
Menu dan Pelayanan
Menu andalan warung meliputi nasi jagung, pecel, jamu tradisional, wedang jahe, dan minuman hangat lain untuk menghangatkan tubuh pendaki . Rata-rata jumlah pelanggan mencapai 200–300 orang per hari, meningkat tajam saat momen peringatan 17 Agustus dan bulan Suro .
Tradisi Ramadan
Setiap awal Ramadan, Mbok Yem melakukan tradisi turun gunung lebih awal—ditandu enam orang kerabat—untuk merayakan Lebaran bersama keluarga .
Pengakuan dan Legasi
Julukan “Legenda Gunung Lawu”
Karena dedikasinya tanpa lelah, Mbok Yem mendapat julukan “Legenda Gunung Lawu” dan menjadi ikon wajib bagi setiap pendaki yang mencapai puncak .
Media nasional seperti Kompas, Detik, dan RRI rutin meliput kisahnya, menegaskan perannya sebagai “ibu” bagi ribuan pendaki .
Keluarga dan Penerus
Mbok Yem memiliki beberapa anak dan cucu yang kerap membantu operasional warung; cucu keduanya, Umami, pernah menggelar pernikahan sederhana di puncak pada Juni 2020 .
Setelah wafatnya, kerabat dan anak-cucunya—termasuk Syaifudin—memastikan warung tetap buka dan melanjutkan tradisi pelayanan hangat bagi pendaki .
Kondisi Kesehatan & Pemakaman
Mbok Yem sempat dirawat di RSU Aisyiyah Ponorogo sejak Maret 2025 karena sesak napas dan tekanan darah rendah akibat pneumonia akut . Setelah dua minggu rawat inap dan menjalani rawat jalan, kondisinya memburuk sehingga memilih turun lebih awal dari puncak dengan tandu . Prosesi pemakaman digelar di TPU Dusun Dagung, Desa Gonggang, Poncol, Magetan, dengan prosesi memandikan dan penghormatan terakhir oleh warga setempat .
Refleksi dan Warisan
Kepergian Mbok Yem menandai berakhirnya satu era kehangatan di puncak Gunung Lawu. Sosoknya mengajarkan pentingnya ketulusan dalam melayani sesama, bahkan di titik paling ekstrem sekalipun. Warungnya yang kini dikelola keluarga menjadi saksi bisu perjuangan seorang wanita sederhana yang rela menembus dingin dan lelah demi menyambut setiap langkah puncak pendaki Indonesia.
Kisah Mbok Yem bukan sekadar cerita tentang seorang penjaja makanan di puncak gunung. Ia adalah simbol keteguhan, ketulusan, dan cinta yang mengakar dalam budaya pendakian Indonesia. Di tengah kabut dingin dan medan terjal, senyum dan sapaan hangatnya menjadi oase bagi para pendaki yang menapaki jalur spiritual dan fisik menuju puncak Lawu. Kepergiannya menyisakan duka mendalam, namun juga meninggalkan warisan semangat pelayanan tanpa pamrih yang akan terus dikenang lintas generasi. Semoga keteladanan hidupnya menginspirasi kita untuk selalu berbuat dengan hati, di manapun kita berada.








