KabarBaik.co, Gresik – Di tengah gemerlap prestasi voli putri Indonesia, ada satu sosok yang diam-diam menjadi pilar tak tergantikan. Yakni, Mediol Stiovanny Yoku atau akrab dipanggil Medi Yoku. Ia mungkin tidak selalu menghiasi headline internasional, tetapi konsistensi, loyalitas, dan kerja kerasnya membuatnya menjadi kapten yang tak tergantikan, dengan akar yang kuat dari tanah Papua.
Medi lahir di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, 1 September 1999. Sejak kecil, ia telah terpapar dunia voli, mengikuti jejak mama dan papa yang dulu aktif sebagai pemain voli lokal. “Karena mama papa saya dulu pemain voli juga di Papua, saya jadi tertarik ikut voli dari kecil,” ungkapnya dalam salah satu wawancara lama.
Cerita Medi lebih dari sekadar warisan keluarga. Ia menjadi inspirasi nyata bagi anak-anak, bahkan dari daerah terpencil sekalipun. Olahraga bisa menjadi jalan masa depan, dan semua dimulai dari rumah. Tantangannya bukan soal bisa atau tidak, tetapi soal mau atau tidak.
Perjalanan karier Medi penuh ketangguhan. Pada 2016, ia mewakili Papua di Pekan Olahraga Nasional (PON). Dua tahun kemudian, hijrah ke Jawa Timur demi studi dan karier profesional. Adaptasi bukan hal mudah. Budaya dan lingkungan baru tentu menghadirkan tantangan tersendiri, Namun, Medi berhasil menyesuaikan diri.
Medi memulai debut di Proliga bersama Jakarta BNI 46. Lalu, sejak 2019 memilih menetap di tim kebanggaan Jawa Timur, Gresik Petrokimia Pupuk Indonesia, yang kini bertransformasi menjadi Gresik Phonska Plus Pupuk Indonesia. Loyalitasnya jarang terlihat di dunia profesional. Tetap di satu klub, selalu menjadi andalan, dan kerap mengenakan ban kapten.
Prestasi domestiknya tak kalah gemilang. Medi meraih gelar MVP Livoli Divisi Utama 2025 dan Best Outside Hitter di musim yang sama, lalu berlanjut dengan penghargaan serupa pada musim 2025/2026. Di Proliga, ia konsisten menjadi top scorer tim, termasuk kontribusi krusial pada musim 2026 yang masih berjalan.
Medi sempat dinominasikan ke GS Caltex Seoul KIXX untuk V-League Korea 2023/24. Namun, batal karena perubahan strategi klub bersangkutan. Ada hikmah. Medi justru bangkit lebih kuat di tanah air. Bukti bahwa sukses tidak harus selalu menembus luar negeri. Konsistensi di liga domestik pun bisa mengharumkan nama bangsa.
Di level timnas, Medi menjadi mesin serang andal sejak 2023. Merah putih meraih medali perunggu SEA Games 2025 di Thailand, sebuah pencapaian bersejarah bagi voli putri Indonesia. Khususnya perwakilan dari Papua. Selain Medi, ada Pascalina Mahuze.
Di AVC Women’s Nations Cup 2025, Medi finis peringkat kedua top scorer dengan 101 poin, di bawah Ersandrina Devega (126 poin). Indonesia finis peringkat 5 di Asia, dengan smes keras, servis mematikan, dan ketangguhan bertahan—dan Medi menjadi salah satu kunci keberhasilan tim.
Di balik prestasi tersebut, Medi dikenal rendah hati dan fokus. Latihan keras ala pelatih Marcos Sugiyama untuk SEA Games 2025 ia jalani tanpa keluh. Di lapangan, ia pencetak poin genting sekaligus penjaga area saat tertekan. Di luar lapangan, ia adalah putri Papua yang membanggakan dan menjadi teladan nyata bagi generasi muda. Termasuk dari daerah-daerah.
Medi bukan sekadar pemain voli. Ia kapten yang konsisten dan inspirasi akar rumput, membuktikan bahwa kerja keras, loyalitas, dan dukungan keluarga bisa mengubah mimpi menjadi prestasi tanpa kehilangan identitas. Di era voli putri Indonesia yang semakin bersinar, namanya layak disebut, bukan karena sensasi, tetapi karena ketulusan dan prestasi nyata.
Meski kerap menjadi sasaran label “sombong” dari sebagian hatters di media sosial, kenyataannya Medi merupakan sosok yang tegas, berkarekter, dan benar-benar fokus. Gaya bermain yang serius, mungkin membuatnya terkadang jarang tersenyum di depan kamera. Tetapi, sejatinya itu bukan cerminan pribadinya. Medi selalu mengakui peran tim, doa, dan dukungan keluarga, terutama sang mama yang menjadi inspirasinya sejak kecil.
Selama Proliga 2026, peran Medi nyaris tidak tergantikan. Dari riuh tribun penonton, banyak yang menyebutnya seperti nggak punya udel, seolah stamina dan semangatnya tak pernah habis. Terus menyala-nyala. Dari Sentani, Papua, hingga panggung nasional dan dunia, Medi menjadi bukti nyata bahwa akar rumput bisa menumbuhkan pahlawan olahraga yang membanggakan Nusantara. (*)






