DI ATAS kertas, Iran adalah “raja” dunia. Berdiri di atas cadangan gas alam terbesar kedua dan minyak mentah keempat di bumi. Namun, di gang-gang sempit Teheran hingga pasar-pasar di Tabriz, aroma kemakmuran itu seperti tertutup oleh kepul asap gas air mata dan teriakan getir warganya yang terhimpit inflasi.
Di panggung peradaban global, Iran bukan sekadar negeri dengan sejarah Persia yang agung. Namun, juga ’’panggung drama’’ di mana kekayaan alam melimpah bertabrakan keras dengan tembok ideologi dan aroma represi.
Gejolak yang tengah terjadi dan menelan ribuan korban jiwa, disebut bukan peristiwa tunggal. Tapi, akumulasi dari luka yang gagal mengering. Pemicunya klasik namun mematikan. Yakni, ekonomi. Ketika nilai mata uang Rial jatuh ke titik nadir, harga roti dan obat-obatan melambung, maka rakyat dipaksa memilih antara diam dalam kelaparan atau berteriak meski taruhannya nyawa.
Namun, di balik tuntutan ekonomi, ada juga bara yang disulut kematian Mahsa Amini pada 2022 silam. Kemarahan atas aturan hijab wajib dan kekerasan “Polisi Moral”, belakangan telah berevolusi menjadi tuntutan hak asasi manusia yang lebih luas. Bagi generasi muda Iran, perjuangan tersebut bukan lagi soal potongan kain di kepala. Tapi, hak untuk menentukan hidup mereka sendiri di era digital yang terkoneksi.
Dua Matahari dalam Satu Langit
Memahami Iran berarti juga memahami ’’dualitas’’ kepemimpinannya. Di satu sisi, ada Masoud Pezeshkian, sang Presiden moderat yang memenangkan kursi lewat janji reformasi dan keterbukaan terhadap Barat. Pezeshkian adalah wajah “harapan” bagi mereka yang mendambakan berakhirnya sanksi internasional.
Namun, di atas Presiden, berdiri pula Ayatollah Ali Khamenei, Sang Pemimpin Agung. Dengan kendali penuh atas militer dan peradilan, Khamenei adalah penjaga gerbang revolusi yang melihat keterbukaan sebagai ancaman. Pezeshkian mungkin memegang kemudi birokrasi, tetapi Khamenei memegang kompas ideologi. Benturan antara “keinginan rakyat” yang diwakili Presiden dan “stabilitas rezim” yang dijaga Pemimpin Agung inilah yang disebut banyak pihak telah menciptakan kebuntuan politik menahun.
Kini, Iran berada di persimpangan jalan paling krusial dalam sejarah modernnya. Sejumlah kalangan menyebut, ada tiga faktor yang akan menentukan masa depannya. Pertama, diplomasi nuklir. Jika Pezeshkian berhasil meyakinkan faksi konservatif untuk bernegosiasi dengan Barat dan mencabut sanksi, ekonomi Iran bisa bernapas kembali. Kedua, suksesi kepemimpinan. Mengingat usia Ali Khamenei yang sudah sepuh, transisi kekuasaan di masa depan akan menjadi momen paling rapuh sekaligus peluang bagi perubahan besar.
Ketiga, resiliensi masyarakat. Generasi Z Iran adalah kelompok yang terdidik dan melek teknologi. Mereka tidak lagi bisa dibungkam hanya dengan retorika anti-Barat.
Yang pasti, Iran adalah negeri yang sedang bergulat dengan identitasnya sendiri. Negeri kaya namun seperti terisolasi, memiliki tradisi demokrasi namun terikat teokrasi. Masa depannya tidak hanya bergantung pada seberapa banyak minyak yang bisa mereka jual, tetapi pada seberapa berani para pemimpinnya mendengar suara-suara dari jalanan sebelum suara itu berubah menjadi gemuruh yang tak lagi bisa dibendung.
Jejak Cahaya dari Tanah Persia
Bagi banyak umat Islam di Indonesia, nama-nama seperti Ibnu Sina atau Imam Al-Ghazali bukanlah nama asing. Mereka adalah sosok yang pemikirannya dipelajari di pesantren-pesantren, karya kedokterannya disebut dalam buku sekolah, dan kutipan sufinya menghiasi media sosial kita. Namun, jarang yang menyadari bahwa raga para raksasa peradaban ini beristirahat dengan tenang di Iran.
Menelusuri makam tokoh-tokoh ini bukan sekadar wisata sejarah, melainkan perjalanan menyusuri akar ilmu pengetahuan dan spiritualitas yang hingga kini masih terasa dekat dengan kita di Nusantara.
1. Ibnu Sina (Avicenna): Sang Guru Para Dokter
Di kota Hamedan, berdiri sebuah monumen megah dengan tiang-tiang tinggi yang menjulang ke langit. Itulah makam Ibnu Sina, pria yang dijuluki The Prince of Physicians. Bagi santri atau pelajar di Indonesia, Ibnu Sina adalah bukti bahwa Islam pernah memimpin dunia dalam sains. Di makamnya, terdapat perpustakaan dan museum yang menyimpan ribuan manuskrip kedokteran. Ziarah ke sini mengingatkan kita bahwa bagi Ibnu Sina, mengobati fisik manusia adalah bagian dari ibadah kepada Tuhan.
2. Imam Al-Ghazali: Sang Penjaga Hati
Siapa yang tidak mengenal kitab Ihya Ulumuddin? Kitab ini adalah bacaan wajib di hampir seluruh pesantren di Indonesia. Penulisnya, Imam Al-Ghazali (Hujjatul Islam), dimakamkan di Tus, sebuah kota kuno dekat Masyhad.
Meski situs makamnya sempat hancur akibat invasi Mongol di masa lalu, penemuan kembali lokasi makamnya menjadi kabar gembira bagi dunia Islam. Bagi peziarah asal Indonesia, mengunjungi Tus adalah bentuk penghormatan kepada guru besar yang telah mengajarkan cara membersihkan jiwa dan menyeimbangkan akal dengan iman.
3. Al-Khwarizmi &=dan Omar Khayyam: Arsitek Logika
Dunia modern berutang besar pada tanah ini. Di Nishapur, terdapat makam Omar Khayyam, seorang jenius yang puisinya mendunia namun otaknya adalah mesin matematika yang luar biasa. Tak jauh dari pengaruh budaya Persia, lahir pula Al-Khwarizmi, sang penemu Aljabar.
Tanpa mereka, tidak akan ada teknologi digital atau ponsel pintar yang kita gunakan hari ini. Makam Omar Khayyam yang memiliki desain geometris rumit adalah representasi visual dari keindahan angka-angka yang ia temukan.
4. Saadi dan Hafez: Pujangga Cinta Ilahi
Jika Anda pergi ke kota Shiraz, Anda akan menemukan dua makam yang lebih mirip taman surga daripada pemakaman: Makam Saadi dan Hafez.
Di Indonesia, puisi-puisi sufi mereka sering dikutip dalam khutbah atau tulisan sastra. Orang Iran memperlakukan makam mereka dengan sangat romantis—mereka datang untuk membaca puisi, merenung, atau sekadar mencari inspirasi. Keindahan makam ini mencerminkan pesan mereka: bahwa Islam adalah agama yang penuh cinta dan kedamaian.
Iran mungkin terasa jauh secara geografis, namun secara intelektual, mereka sangat dekat. Ada beberapa alasan mengapa tokoh-tokoh di atas begitu “hidup” di Indonesia. Pertama, akar literasi: Banyak istilah dalam bahasa Indonesia seperti ilmu, majelis, kitab dan cara berpikir ulama Nusantara dipengaruhi oleh literatur yang ditulis oleh tokoh-tokoh di atas.
Kedua, simbol persatuan: Meskipun ada perbedaan mazhab secara politik, dalam hal ilmu pengetahuan (sains, kedokteran, dan tasawuf), tokoh-tokoh ini adalah milik seluruh umat Islam tanpa terkecuali. Ketiga, warisan arsitektur: Keindahan makam-makam di Iran dengan dekorasi mozaik birunya sering kali menjadi inspirasi bagi arsitektur masjid-masjid besar di Indonesia.
Jadi, makam-makam tokoh besar di Iran adalah saksi bisu bahwa Islam pernah mencapai puncak keemasan karena keberanian tokoh-tokohnya dalam berpikir dan meneliti. Menatap masa depan Iran yang penuh gejolak hari ini, keberadaan makam-makam ini seolah menjadi pengingat bagi dunia bahwa di tanah ini, ilmu pengetahuan dan spiritualitas pernah bersatu untuk menerangi peradaban dunia.
Damailah dunia. (*)







