KabarBaik.co – Di tengah lautan ribuan guru yang memadati Wahana Ekspresi Poesponegoro (WEP) pada Peringatan HUT ke-75 Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI) PGRI, Rabu (20/8), satu sosok tampak menarik perhatian. Ia adalah segelintir laki-laki yang memilih jalannya di dunia yang sering disebut sebagai “taman bunga” dunia pendidikan taman kanak-kanak (TK).
Namanya Adi Suwarso. Seorang guru TK asal Desa Pasinan Lemahputih, Wringinanom, Gresik. Sejak 2013, ia telah mengabdikan diri, lebih dari 12 tahun, mendampingi anak-anak belajar, bermain, sekaligus menanamkan dasar kehidupan.
Namun, kisahnya tak dimulai dari ruang kelas. Tahun 2011, ia hanyalah seorang petugas kebersihan di sekolah itu. Sapu adalah temannya sehari-hari. Hingga suatu ketika, ketelatenannya dalam memberikan perhatiannya kepada anak-anak dan kontribusinya kepada sekolah, membuat para guru melihat ada sesuatu yang lebih dari dirinya, cinta yang tulus untuk dunia kecil penuh tawa itu.
“Awalnya di sana bukan sebagai pengajar tapi menjadi petugas bersih-bersih. Lalu saya diangkat karena saya telaten sama anak-anak, membantu-bantu para guru,” tuturnya sambil tersenyum.
Bagi Adi, pendidikan anak usia dini bukanlah urusan gender, melainkan urusan hati. “Kalau memang punya perhatian sama anak-anak, jangan minder. Percaya diri saja. Itu kuncinya,” pesannya, seolah menjadi cambuk bagi mereka yang masih ragu melangkah.
Baginya, momen paling berat bukanlah ketika menghadapi anak-anak yang rewel, melainkan saat perpisahan. “Dua tahun bersama anak-anak, lalu harus melepas mereka. Rasanya sedih sekali, sampai menangis kalau ingat momen itu,” ucapnya lirih.
Kalimat itu membuat perpisahan tampak seperti musim gugur, daun-daun kecil berjatuhan, sementara dirinya harus rela melepas meski masih ingin meneduhkan.
Hari itu, bersama seribu guru TK lainnya, Adi ikut menari Tari Dolanan Siwalan. Senyum lebarnya tak pernah lepas, setiap gerakannya mantap tanpa keraguan. Di antara lantunan musik dan sorak gembira, terlihat jelas bahwa kebahagiaan anak-anak adalah denyut nadi dalam kehidupannya.
Adi Suwarso bukan sekadar guru TK. Ia adalah saksi bahwa pengabdian sejati tak selalu lahir dari mimpi besar, melainkan dari ketulusan sederhana yang terus disirami cinta. Di tengah riuhnya perayaan, ia berdiri tegak, lelaki di antara bunga-bunga kecil yang sedang mekar.(*)






