Mendaki Tektok Secepat Denyut Jantung, Hilang dalam Kabut Gunung Slamet

oleh -500 Dilihat
GUNUNG SLAMET
Gunung Slamet (Foto Antara)

KabarBaik.co- Kabut turun lebih cepat dari langkah kaki. Di lereng Gunung Slamet yang rimbun dan terjal, dua remaja memilih menantang puncak setinggi 3.428 meter (mdpl) dengan cara cepat. Para penghobi menyebutnya dengan tektok. Naik dan turun dalam satu hari. Gunung tertinggi di Jawa Tengah itu tak memberi ruang untuk kesalahan. Satu pendaki kembali. Satu lainnya lenyap, ditelan hutan, cuaca, dan waktu.

Adalah Syafiq Ridhan Ali Razan, 18, hingga kini belum juga ditemukan. Operasi pencarian oleh tim gabungan telah resmi dihentikan, setelah delapan hari penyisiran intensif. Lereng Slamet, dengan jalur bercabang, vegetasi rapat, jurang curam, dan cuaca yang mudah berubah, menjadi teka-teki besar bagi ratusan personel pencari.

Cerita bermula saat Syafiq dan rekannya, Himawan Choidar Bahran, berangkat dari basecamp Dipajaya, Pemalang, pada Jumat malam, 27 Desember 2025. Rencana mereka sederhana: mencapai puncak, lalu turun kembali di hari yang sama. Pendakian tektok, cepat, ringan, tanpa bermalam.

Namun rencana itu runtuh di tengah perjalanan. Cedera kaki membuat Himawan tak mampu melanjutkan langkah. Dalam kondisi terbatas, Syafiq memilih turun seorang diri, bergegas mencari bantuan. Keputusan itu diambil tanpa perbekalan memadai, tanpa perlengkapan survival, dan di tengah cuaca pegunungan yang tak pernah benar-benar bisa ditebak.

Yang ditemukan petugas lebih dulu justru Himawan. Dia dijumpai seorang diri. Berada di luar jalur resmi, dalam kondisi lemas. Sedangkan Syafiq tidak bersamanya. Pelajar SMA di Magelang itu telah turun lebih dahulu, berniat meminta bantuan, menolong teman dekatnya. Nahas, sejak saat itu, jejaknya terputus.

Tim pencari menyisir jalur Dipajaya hingga puncak, meluas ke Gunung Malang, sungai-sungai, dan hutan belantara di lima kabupaten. Kabut tebal, hujan, dan badai kerap memaksa pencarian dihentikan sementara demi keselamatan. Di tengah upaya itu, pencari disebut sempat dua kali berpapasan dengan satwa liar di kawasan sungai. Macan kumbang. Namun, tanda-tanda keberadaan Syafiq tak kunjung ditemukan.

SYAFIQ
Syafiq Ridhan Ali Razan (Foto IST)

Luasnya kawasan Gunung Slamet dan rapatnya vegetasi membuat identifikasi lokasi korban menjadi sangat sulit. Di ketinggian tertentu, hutan masih menutup pandangan terhadap tebing dan jurang. Saat hujan turun, kontur medan menghilang. Jejak kaki bisa lenyap dalam hitungan menit.

Tragedi itu pun kembali menyoroti pendakian tektok. Metode cepat yang kian populer seiring tren trail run. Di atas kertas, tektok tampak efisien. Namun di gunung seperti Slamet, keputusan itu menuntut kesiapan fisik, mental, navigasi perhitungan waktu yang presisi, serta kemampuan bertahan hidup jika rencana gagal. Kesalahan kecil dapat berujung fatal.

Gunung Slamet dikenal memiliki karakter cuaca ekstrem. Terutama di atas 2.000 mdpl. Dalam hitungan menit, langit cerah bisa berubah menjadi kabut tebal, hujan deras, bahkan badai. Kondisi ini makin berisiko di musim penghujan, ketika jalur licin dan jarak pandang sangat terbatas.

Sebelumnya, di tengah kerasnya medan dan sunyinya hutan, terselip satu pesan yang kini menjadi jejak terakhir Syafiq. Sejumlah media menyebut, pesan itu masuk ke ponsel ibunya, Utari. Singkat. Disertai sebuah foto basecamp pendakian. “Bu, aku nyasar tekan Gunung Slamet.”

Sang ibu terdiam. Dia ingat betul, izin yang diminta anaknya adalah mendaki Gunung Sumbing. Bukan Slamet. Namun, belakangan baru diketahui, Syafiq dan temannya mengubah tujuan. Mereka memilih Slamet, tanpa rencana bermalam, tanpa persiapan panjang. Dan, Syafiq berjanji akan pulang Minggu sore. Namun, ternyata Minggu berlalu tanpa kabar.

Teleponnya tak lagi aktif. Pesan tak terkirim. Kecemasan di rumah perlahan berubah menjadi ketakutan. Sang ayah, Dhani Rusman, mulai mencari nomor basecamp satu per satu dari internet. Berpindah dari harapan kecil ke harapan berikutnya. Hingga akhirnya diketahui jalur Dipajaya, Pemalang.

Dhani tahu betul, anaknya tidak membawa bekal untuk bermalam. Senin, 29 Desember 2025, Dhani datang langsung ke posko. Sore harinya, pencarian dimulai. Hari demi hari berlalu. Ratusan personel menyisir jalur, jurang, sungai, dan hutan belantara. Hingga ke puncak. Hasilnya tetap sama. Nihil. Operasi pencarian resmi pun ditutup Jumat (9/1) lalu, dengan pemantauan berlanjut jika ada petunjuk baru.

”Syafiq, pulanglah Nak..!” suara itu terdengar beberapa kali dalam video yang beredar selama proses pencarian.

Kini, yang tersisa hanyalah satu pesan singkat. Kalimat sederhana dari seorang anak kepada ibunya, yang tak pernah dimaksudkan sebagai perpisahan. Di lereng Gunung Slamet, pesan itu menggantung di antara kabut, hujan, dan sunyi hutan. Seperti menjadi pengingat bahwa di balik setiap pendakian ada keluarga yang menunggu, di balik setiap langkah cepat ada risiko yang tak selalu terlihat.

Gunung tak pernah bisa ditaklukkan oleh niat baik semata, apalagi oleh waktu yang dipercepat. Syafiq berangkat dengan keyakinan akan pulang. Dia melangkah dengan keberanian khas usia muda, membawa tanggung jawab pada temannya, dan kepercayaan bahwa ia mampu. Namun, alam berjalan dengan ritmenya sendiri. Tak peduli rencana, tak peduli batas usia.

Dan, selama kabut masih turun di Slamet, pesan itu akan terus bergema. Bukan hanya sebagai jejak terakhir seorang pendaki muda, melainka juga sebagai peringatan sunyi bahwa setiap perjalanan ke gunung selalu menyisakan satu pertanyaan paling sederhana. Apakah semua sudah cukup siap untuk kembali? (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi


No More Posts Available.

No more pages to load.