Mengintip PSIM Yogyakarta: Korban Kebangkitan Lanjutan Persebaya atau Mimpi Buruk Terulang

oleh -391 Dilihat
ZE VALENTE
Ze Valente, eks pemain Persebaya, yang kini menjadi pemain kunci PSIM Yogyakarta (Foto IG PSIM)

KabarBaik.co- Laga Persebaya Surabaya menghadapi PSIM Yogyakarta putaran kedua Super League 2025/2026 memang masih cukup lama. Sepuluh hari lagi. Tepatnya 25 Januari, di Stadion Sultan Agung. Namun, jauh-jauh hari aroma pertandingan kedua tim legendaris itu sudha menghangat.

Perhatian publik tertuju pada satu pertanyaan besar. Akankah PSIM kembali menjadi mimpi buruk bagi Green Force, atau justru menjadi korban berikutnya kebangkitan Persebaya di bawah pelatih anyar Bernardo Tavares?

PSIM datang ke laga ini dengan modal konsistensi yang cukup solid sepanjang putaran pertama. Dari 17 pertandingan yang telah dijalani, Laskar Mataram mampu membukukan delapan kemenangan, sebuah catatan yang menempatkan mereka sebagai tim yang relatif stabil di papan klasemen.

Menariknya, kemenangan tersebut terbagi rata antara laga kandang dan tandang, masing-masing empat kali. Fakta ini menunjukkan bahwa PSIM bukan tim yang bergantung sepenuhnya pada atmosfer kandang, melainkan memiliki struktur permainan yang bisa bekerja di berbagai situasi.

Produktivitas PSIM juga terbilang efektif. Mereka menutup putaran pertama dengan torehan 23 gol dan 18 kali kebobolan, atau rata-rata mencetak lebih dari satu gol per pertandingan. Angka kebobolan yang tidak terlalu tinggi memperlihatkan bahwa PSIM mampu menjaga keseimbangan antara menyerang dan bertahan, sebuah karakter yang kerap menyulitkan lawan-lawannya.

Sebagian besar kemenangan PSIM diraih dengan margin tipis namun terkendali, menandakan kemampuan mengelola pertandingan ketika sudah unggul.

Di bawah arahan Jean-Paul van Gastel, PSIM bermain dengan struktur yang relatif konsisten. Peran gelandang kreatif seperti Ze Valente menjadi kunci dalam mengalirkan bola, sementara lini depan yang diisi Rafinha, Ezequiel Vidal, dan Nermin Haljeta memberi variasi dalam penyelesaian akhir.

Selain itu, keberadaan sejumlah pemain yang memiliki latar belakang Persebaya seperti Muhammad Iqbal, Reva Adi Utama, dan Kasim Botan menambah dimensi emosional sekaligus taktis dalam laga ini. Bahkan, aktor kunci Ze Valente juga eks Green Force. Mereka tidak hanya memahami tekanan menghadapi Persebaya, tetapi juga cukup mengenal karakter permainan mantan klubnya.

Di sisi lain, Persebaya datang dengan semangat baru setelah menunjuk Tavares sebagai pelatih kepala. Kehadiran pelatih asal Portugal tersebut membawa ekspektasi perubahan, terutama dalam organisasi permainan dan disiplin bertahan.

Namun, laga melawan PSIM ini menjadi tantangan tersendiri karena Persebaya masih berada dalam fase awal adaptasi terhadap sistem baru dan komposisi pemain yang mengalami perubahan di bursa transfer paruh musim.

Bermain di Stadion Sultan Agung jelas memberi keuntungan tersendiri bagi PSIM, walaupun statistik menunjukkan tidak selalu dominan di kandang. Namun, karakter permainan PSIM di kandang cenderung lebih sabar dan pragmatis. Mereka jarang memaksakan tempo tinggi, lebih memilih menunggu celah dan memanfaatkan kesalahan lawan. Gaya seperti ini berpotensi merepotkan Persebaya yang tengah mencoba membangun identitas baru di bawah Tavares.

Pertemuan ini pun diprediksi berjalan ketat. PSIM memiliki modal stabilitas dan kepercayaan diri seusai kemenangan di putaran pertama 0-1, sementara Persebaya membawa ambisi besar untuk memulai era baru dengan hasil positif.

Jika PSIM mampu mencetak gol lebih dulu, statistik putaran pertama menunjukkan mereka sangat sulit untuk dibalikkan. Sebaliknya, bila Persebaya mampu memaksakan ritme dan memanfaatkan kualitas pemain barunya, laga ini bisa menjadi titik balik bagi Bajul Ijo.

Apapun hasilnya, duel di Sultan Agung nanti bukan sekadar pertandingan biasa. Namun, pertemuan antara konsistensi yang sudah terbangun dan harapan kebangkitan yang baru dirintis. Laga yang akan menentukan apakah PSIM kembali mempermalukan Persebaya, atau justru menjadi saksi besar awal perubahan besar di tubuh Bajul Ijo untuk menjejak ke habibat aslinya sebagai tim papan atas.

Terus Bertahan atau Sekadar Numpang Lewat

Terlepas dari persaingan di lapangan, keberadaan PSIM Yogyakarta di Super League musim ini merupakan puncak dari perjalanan panjang klub bersejarah yang sarat dinamika. PSIM berdiri pada 5 September 1929 dan tercatat sebagai salah satu klub tertua sekaligus anggota pendiri PSSI. Pada era Perserikatan, PSIM pernah menjadi kekuatan yang diperhitungkan dan memiliki posisi penting dalam lanskap sepak bola nasional.

Namun memasuki era kompetisi modern, perjalanan PSIM jauh dari kata mulus. Klub asal Yogyakarta ini lebih sering berkutat di kasta bawah, berpindah-pindah antara Divisi Utama, Liga 2, bahkan sempat terdegradasi ke level yang lebih rendah. Keterbatasan finansial, infrastruktur stadion, serta dinamika internal kerap menjadi hambatan PSIM untuk bersaing secara konsisten dengan klub-klub mapan Indonesia.

Meski demikian, identitas PSIM sebagai klub tradisional dengan basis suporter yang loyal tak pernah pudar. Setiap musim, PSIM tetap bertahan dengan pendekatan realistis, lebih mengutamakan stabilitas dibanding ambisi instan. Perlahan, perubahan mulai terlihat ketika klub mulai dikelola secara lebih profesional dalam beberapa tahun terakhir, terutama dari sisi organisasi dan manajemen.

PSIM saat ini berada di bawah naungan PT PSIM Jaya Yogyakarta sebagai badan hukum pengelola klub. Struktur ini menandai transisi PSIM ke arah pengelolaan modern yang sesuai dengan regulasi sepak bola profesional. Di pucuk pimpinan, Yuliana Tasno menjabat sebagai Presiden Klub, berperan dalam pengambilan keputusan strategis serta arah jangka panjang organisasi.

Di bawah kepemimpinan tersebut, PSIM mulai melakukan pembenahan bertahap. Klub menata ulang struktur manajemen, memperbaiki perencanaan keuangan, serta membangun tim dengan pendekatan yang lebih terukur. Alih-alih belanja besar-besaran, PSIM memilih kombinasi pemain berpengalaman, talenta lokal, dan pemain asing yang sesuai kebutuhan taktik.

Upaya tersebut akhirnya berbuah hasil ketika PSIM mampu menembus kasta tertinggi sepak bola nasional, yang kini bernama Super League. Promosi ini bukan sekadar pencapaian olahraga, tetapi juga simbol kebangkitan klub tradisional yang lama berjuang di pinggiran kompetisi elite.

Kini, PSIM berada di persimpangan penting dalam sejarah panjangnya. Kembalinya Laskar Mataram ke Super League bukan hanya tentang nostalgia atau romantisme klub tua, melainkan ujian nyata apakah fondasi yang dibangun dalam beberapa musim terakhir cukup kuat untuk menahan gempuran klub-klub mapan dengan sumber daya besar. Kompetisi kasta tertinggi tidak memberi banyak ruang bagi kesalahan, dan konsistensi akan menjadi mata uang utama untuk bertahan.

Di tengah gelombang badai Super League—persaingan ketat, tuntutan finansial, dan tekanan hasil instan—PSIM dituntut membuktikan bahwa kehadirannya bukan sekadar pelengkap. Setiap laga, termasuk duel melawan Persebaya Surabaya, akan menjadi ukuran sejauh mana PSIM mampu menjaga identitas permainan, disiplin taktik, dan mental bertanding di level elite.

Apakah PSIM sanggup bertahan dan menjelma sebagai kekuatan baru yang stabil, atau justru hanya singgah sebentar sebelum kembali terhempas ke kasta bawah? Jawabannya tidak akan ditentukan oleh satu pertandingan atau satu musim semata, melainkan oleh kemampuan klub ini mengubah momentum kebangkitan menjadi kesinambungan.

Super League akan menjadi panggung kejujuran, dan PSIM kini berdiri di bawah sorot lampu, diuji apakah benar telah siap menghadapi kerasnya kompetisi tertinggi, atau masih harus belajar bertahan di tengah badai. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.