OLEH: M. SHOLAHUDDIN*)
JIKA lapangan digital kita hari ini banyak diwarnai Drachin (Drama China), lapangan hijau Super League kini tak ubahnya seperti Sambodromo di Rio de Janeiro yang dipindahkan ke garis khatulistiwa. Berdasarkan data terbaru per Januari 2026, tercatat lebih dari 62 talenta asal Brasil mengepung kompetisi kasta tertinggi kita. Dari kiper, lini belakang yang sunyi hingga ujung tombak yang riuh, aroma kopi Brasil tercium lebih tajam daripada sebelumnya dalam sejarah sepak bola Indonesia.
Terbaru, Persebaya Surabaya, klub dengan sejarah panjang dan fanatisme besar juga kembali mendatangkan dua “seniman” baru dari Negeri Samba. Yakni, Jefferson Silva, sang bek sayap dengan napas kuda, serta Bruno Paraiba, predator kotak penalti yang diproyeksikan menjadi mesin gol utama. Kehadiran mereka seolah menjadi instrumen baru yang melengkapi simfoni Samba yang sudah lebih dulu dimainkan oleh sang dirigen lapangan, Bruno Moreira.
Mengapa Brasil selalu menjadi kiblat yang tak pernah pudar? Di peta sepak bola dunia, Brasil adalah sebuah anomali yang indah. Jika sepak bola Jerman diibaratkan sebagai mesin presisi yang bekerja dengan logika sistematis, dan Italia adalah benteng granit dengan disiplin taktik Catenaccio yang kaku, maka Brasil adalah puisi yang mengalir. Mereka tidak sekadar bermain bola; mereka merayakannya.
Ada karakter unik, sebuah “DNA purba” yang tidak dimiliki negara lain, yang kini terpampang nyata di depan mata kita. Pertama, Ginga. Inilah “ruh” dari setiap gerakan. Ginga adalah gerak ritmis yang lahir dari rahim tradisi Capoeira. Bukan sekadar teknik menggiring bola, melainkan sebuah tarian tipu daya. Pemain Brasil bermain dengan seluruh anatomi tubuhnya, menggunakan gerakan bahu yang mengecoh dan kelenturan pinggul yang sanggup mematahkan logika mekanis pemain lawan.
Kedua, kreativitas di ruang kedap udara. Terbiasa tumbuh di gang-gang sempit favela dan lapangan beton futsal, pemain Brasil memiliki kemampuan “menyulap” ruang selebar daun kelor menjadi koridor peluang. Bagi mereka, kemelut di depan gawang bukanlah ancaman, melainkan panggung untuk melakukan improvisasi. Ketiga, alegria (keceriaan). Sepak bola bagi mereka adalah pesta rakyat. Tekanan ribuan suporter dan ekspektasi tinggi manajemen bukanlah beban yang menggelayuti kaki, melainkan musik yang memicu adrenalin untuk melakukan aksi-aksi akrobatik yang menghibur.
Dari Ibu Kota hingga Ujung Timur
Dominasi ini tidak hanya berpusat di Surabaya. Jika kita membedah peta kekuatan liga musim ini, hampir tidak ada jengkal tanah di lapangan yang luput dari jejak kaki para legiun Brasil. Persija Jakarta dan Arema FC bertransformasi menjadi episentrum kekuatan Amerika Latin di Indonesia. Dengan regulasi 11 pemain asing, kedua klub ini mengamankan mayoritas slotnya untuk pemain Brasil. Di Ibu Kota, kita melihat bagaimana Carlos Eduardo menjaga kesucian gawang, didukung oleh Thales Lira yang berdiri tegak bak menara di jantung pertahanan, hingga Gustavo Almeida yang menjadi momok bagi setiap kiper lawan.
Di Malang, Singo Edan mengandalkan ketangguhan Lucas Frigeri di bawah mistar dan ketajaman Dalberto yang sejauh ini masih konsisten di puncak daftar pencetak gol. Tak mau ketinggalan, Malut United menyatukan dua kepingan puzzle mematikan, Ciro Alves dan David da Silva, yang chemistry-nya sudah teruji di kompetisi lokal. Sementara itu, Dewa United memercayakan visi permainannya kepada sang maestro Hugo Gomes (Jaja). Bahkan klub-klub seperti PSM Makassar, Persik Kediri, hingga Semen Padang pun turut memercayakan pos-pos vital tim mereka kepada talenta Brasil. Sebut saja Aloisio Neto, Leo Navacchio, hingga Arthur Augusto yang menjadi pilihan utama di posisinya masing-masing.
Di tengah gelombang besar ini, muncul kekhawatiran. Apakah pemain lokal akan tenggelam? Jawabannya bergantung pada perspektif. Alih-alih merasa terancam, pemain muda Indonesia seharusnya bertindak seperti pedagang cerdas yang sedang “mengulak” (belanja grosir) stok kompetensi terbaik. Kedatangan para pemain Brasil ini adalah kurikulum berjalan, sebuah “beasiswa Samba” yang hadir tepat di depan hidung para talenta muda kita.
Pemain muda kita tidak perlu lagi menabung bertahun-tahun atau terbang melintasi benua ke Santos atau Sao Paulo hanya untuk belajar cara melakukan flick bola yang mematikan atau menjaga ketenangan saat dikepung tiga pemain lawan. Guru-gurunya sudah ada di sini, berkeringat di lapangan latihan yang sama, dan bersaing dalam tensi pertandingan yang sama.
Mengulak ilmu berarti memiliki keberanian untuk mengamati dan bertanya. Bagaimana Jefferson Silva mengatur posisi tubuhnya saat bertahan? Bagaimana Bruno Paraiba menciptakan ruang kosong dalam hitungan detik? Sesi latihan harian kini menjadi laboratorium sepak bola terbesar di Asia Tenggara. Jika pemain lokal mampu “mencuri” resep latihan, kedisiplinan menjaga kebugaran, dan cara berpikir taktis para pemain Brasil ini, maka kualitas individu mereka akan terkerek secara otomatis.
Jangan melihat mereka sebagai tembok yang menghalangi jalan, tapi lihatlah mereka sebagai cermin. Jika mereka mampu berdansa dengan bola di bawah tekanan yang menyesakkan, mengapa kaki-kaki kita harus gemetar?
’’Invasi’’ pemain Brasil di Super League adalah sebuah ujian mental sekaligus peluang besar transformasi. Mempelajari Ginga bukan berarti kita harus kehilangan jati diri sebagai pemain Indonesia. Tujuannya adalah menyuntikkan keberanian, kreativitas, dan kegembiraan Brasil ke dalam karakter gigih dan pantang menyerah khas Nusantara.
Pemain lokal yang akan bertahan dan bersinar di masa depan bukanlah mereka yang mengeluh karena menit bermainnya tergerus oleh legiun asing. Mereka adalah para petarung yang mampu membuktikan bahwa mereka bisa bermain level dengan level bersama para maestro Samba. Jika proses “mengulak” ilmu ini berjalan dengan baik, maka beberapa tahun ke depan, dunia mungkin tidak hanya mengenal Samba dari Brasil, tapi juga sebuah gaya main baru yang lebih eksotis: Samba Nusantara.
Belajar dari Gus Dur, Main Samba Sampai Akhir
Siapa yang tak kenal KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)? Presiden ke-4 Republik Indonesia ini bukan hanya tokoh ulama dan politikus ulung, tapi juga penggemar berat sepak bola. Dari kolom-kolom analisisnya di koran hingga prediksi-prediksinya yang sering bikin geleng kepala, Gus Dur melihat sepak bola bukan sekadar olahraga, tapi cerminan kehidupan. Dan di situlah muncul “teka-teki” menarik yang pernah diajukannya: Mengapa orang-orang hebat yang biasanya berani “menyerang” dengan penuh gaya, justru jadi superdefensif saat taruhannya paling tinggi?
Bayangkan saja, seperti dalam final Piala Dunia 1994 antara Brasil dan Italia. Gus Dur menulis di artikel berjudul Mengendalikan Tapi Kalah (Kompas, 19 Juli 1994). “Salah satu teka-teki yang sulit dijawab dalam dunia sepak bola adalah mengapa seorang pelatih sekaligus seorang pengatur strategi, dengan kecenderungan-kecenderungan menyerang dapat saja tiba-tiba menjadi begitu defensif.”
Pelatih Brasil Carlos Alberto Parreira, yang biasa main samba penuh flair, tiba-tiba kunci rapat pertahanan. Begitu juga Arrigo Sacchi dari Italia, revolusioner total football di AC Milan, malah pakai taktik “penjenuhan lapangan tengah” untuk matikan duet maut Romário-Bebeto. Hasilnya? Pertandingan anti-klimaks, tapi Brasil juara lewat penalti.
Teka-teki ini bukan cuma soal bola. Gus Dur, dengan gayanya yang filosofis, seolah mengajak kita melihat lebih dalam. Sejatinya, itulah pola manusiawi di kehidupan sehari-hari. Di karir, misalnya. Banyak orang yang di awal perjuangan superagresif, ganti kerja demi naik level, ambil risiko proyek gila, berani speak up. Tapi, begitu sudah jadi bos besar atau eksekutif, eh tiba-tiba bermain aman. Takut salah langkah, lebih sibuk melindungi posisi daripada inovasi baru. Mirip pelatih yang sudah dekat trofi, langsung “park the bus” biar tidak kebobolan.
Lalu, di urusan harta. Dulu waktu modal kecil, berani investasi spekulatif, saham volatil, crypto, bisnis baru. Rugi 50 persen? Santai, besok untung lagi. Tap, setelah hartanya miliaran, ganti strategi. Pindah ke deposito aman, obligasi, emas. Fokusnya “jangan sampai hilang” daripada “tumbuh gila-gilaan”. Ini defensif banget kan? Seperti Parreira yang takut kehilangan gelar setelah 24 tahun puasa.
Yang paling kentara di kekuasaan atau politik. Politisi ’’oposisi’’ biasanya vokal, kritis, janji reformasi. Tapi, begitu duduk di kursi kuasa, tiba-tiba kompromistis, menghindari konflik, berdalih menjaga stabilitas. Prioritas “jangan lengser” mengalahkan “ubah sistem menjadi lebih cantik”. Di Indonesia, banyak contoh kandidat yang saat kampanye penuh api, tapi setelah menang, lebih hati-hati daripada kucing basah.
Nah, di sinilah Gus Dur berbeda dari yang lain. Dia justru main samba sampai akhir! Saat jadi Presiden di tengah krisis multidimensi, ekonomi terpuruk, separatisme, konflik agama, Gus Dur memilih tidak defensif. Malah “menyerang” dengan cara unik. Dekrit bubarkan DPR, kunjungi Israel saat itu kontroversial, peluk tokoh-tokoh yang dibenci banyak orang, dan humornya yang membuat tegang menjadi cair. Gus Dur tetap otentik, ekspresif, inklusif, meski taruhannya nyawa politiknya sendiri. Hasilnya? Legacy-nya abadi, meski masa jabatannya singkat.
Pesan dari teka-teki Gus Dur, hidup ini seperti sepak bola. Kebanyakan orang memilih “mengendalikan tapi kalah” dalam jiwa, hilang esensi diri demi aman. Tapi, Gus Dur mengajarkan kita bermain samba. Tetap berani, kreatif, dan autentik, walau di puncak taruhan. Karena pada akhirnya, yang dikenang bukan cuma kemenangan, tapi gaya bermainnya. Siapa tahu, prediksi Gus Dur soal Timnas Indonesia lolos Piala Dunia kelak terbukti dan itu mungkin dengan gaya Samba Nusantara. (*)
—
*) M. SHOLAHUDDIN, Penulis Tinggal di Gresik Jawa Timur






