KabarBaik.co – Di tengah hiruk-pikuk perkampungan Rangkah, Tambakrejo, Surabaya tersembunyi sebuah makam yang sarat dengan sejarah. Makam itu milik KH Mas Alwi bin Abdul Aziz, salah satu tokoh penting dalam pendirian Nahdlatul Ulama (NU). Meski dikelilingi rumah warga dan terletak di sebelah tempat pemakaman umum (TPU) Rangkah, makam ini masih menarik perhatian peziarah yang ingin mengenang jasa salah satu penggagas nama NU tersebut.
Untuk mencapai makam KH Mas Alwi, pengunjung harus melewati gang sempit sepanjang sekitar 120 meter dari Jalan Kenjeran, tepatnya di belakang TPU Rangkah. Makamnya sendiri dibatasi pagar hijau sederhana dengan luas kurang lebih 3,5 meter, menjadikannya tampak bersahaja namun penuh makna.
Ketua Ranting NU Tambakrejo, Ach Bakin Sholeh menjelaskan bahwa KH Mas Alwi adalah salah satu tokoh yang menggagas nama Nahdlatul Ulama pada awal pembentukan organisasi tersebut.
“Pada saat itu, banyak nama yang diajukan, tetapi yang dipilih adalah nama NU, gagasan dari KH Mas Alwi,” ungkap Bakin, Selasa (15/10).
Menurut Bakin, meskipun ada banyak tokoh yang terlibat dalam pendirian NU, gagasan KH Mas Alwi-lah yang akhirnya disepakati. Nama itu kini mewakili salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia yang berpengaruh hingga saat ini. KH Mas Alwi wafat pada tahun 1931, tak lama setelah berdirinya NU.
Selain dikenal sebagai penggagas nama NU, KH Mas Alwi memiliki perjalanan hidup yang menarik. Ia pernah merantau hingga ke Belanda, bahkan menikah di sana. Namun, karena situasi yang tidak memungkinkan, ia kembali ke Surabaya. Sesampainya di kampung halaman, ia memilih menyembunyikan diri dengan berjualan kopi di kawasan Ampel.
“Meskipun beliau pernah berkelana ke luar negeri, KH Mas Alwi tetap dikenal sebagai sosok yang sederhana. Setelah kembali ke Surabaya, beliau memilih hidup dalam kesederhanaan,” tambah Bakin.
Hal ini sejalan dengan nilai-nilai yang diajarkan dalam Nahdlatul Ulama, yakni keikhlasan dan pengabdian kepada masyarakat.
Bakin juga mengungkapkan bahwa makam KH Mas Alwi awalnya berada di kompleks yang luas, namun kini dikelilingi rumah warga.
“Dulu, kawasan ini merupakan lahan wakaf dari KH Hasan Gipo, Presiden Pertama NU atau Ketua Tanfidziyah NU,” ujarnya.
Meskipun demikian, tempat ini tetap dihormati oleh warga sekitar.
KH Mas Alwi bin Abdul Aziz juga dikenal memiliki garis keturunan langsung dari Nabi Muhammad SAW. Menurut Bakin, silsilah keluarga KH Mas Alwi bisa dilacak hingga ke Rasulullah, dan catatan silsilah tersebut ada di Pondok Pesantren Ndresmo, Surabaya.
Peziarah yang datang ke makam KH Mas Alwi tidak hanya ingin mengenang jasa-jasa beliau, tetapi juga untuk mendoakan ketenangan arwahnya.
“Banyak orang datang ke sini, termasuk santri dan anggota NU dari berbagai daerah, untuk ziarah dan berdoa,” pungkas Bakin. (*)






