Mewarisi Jiwa Pelita dari Ulama Pengasuh Pesantren Terpencil di Ujung Timur Pulau Madura

oleh -746 Dilihat
WhatsApp Image 2025 10 19 at 13.17.36
KH Ad-Dailamy Abu Hurairah memimpi upacara perayaan HUT Kemerdekaan RI beberapa waktu lalu. (Foto: Hairul Faisal)

KabarBaik.co – Sulawesi, Sumatera, Kalimantan, Bali, Papua, NTT, NTB, dan hampir seluruh kabupaten/kota di Pulau Jawa terdapat jejak dan kiprah alumni Pesantren Abu Hurairah. Sejak dilepas untuk kali pertama pada tahun 1982, ribuan alumni pesantren yang berada di wilayah Kepulauan Sapeken, Kabupaten Sumenep, Madura ini, terus konsisten mewarnai peta dakwah dan pendidikan di tanah air. Iman, ilmu, adab, dan semangat yang disematkan di jiwa alumni oleh pengasuh pesantren, KH Ad-Dailamy Abu Hurairah, turut mengokohkan pijakan kaki mereka di jalan penuh tantangan.

Cukup beralasan jika usulan agar ‘Abu Hurairah’ dijadikan nama untuk masjid dan pesantren oleh Ustad Mab’utsyi Ibnu Hajar yang berangkat dari ijtihad dan semangat jihad. Sebab, selain faktor historis, karena KH Abu Hurairah, orang tua KH Ad-Dailamy Abu Hurairah, sebagai pelopor gerakan dakwah dan pendidikan di Kepulauan Sapeken, juga karena aspek ideologis, agar santri mewarisi semangat dakwah sahabat mulia, Abu Hurairah, yang terkenal cerdas dan gudang ilmu. Pilihan yang diamini para pendiri pesantren termasuk KH Ad-Dailamy.

Bersama pesantren yang dirintisnya sejak 1976, KH Ad-Dailamy berhasil membentangkan jalan cahaya di berbagai aspek. Bidang pendidikan dan dakwah tak henti disokong dengan pasukan terbaiknya hingga kini. KH Ad-Dailamy bahkan pernah menjadi bagian dari grup musik orkes kampung karena ingin mendakwahi para personelnya. Baginya, dakwah tidak cukup hanya dengan ceramah dan tausyiah di mimbar-mimbar masjid dan pengajian di rumah-rumah warga.

Berbagai tantangan dilalui KH Ad-Dailamy bersama para ustad dan santri-santrinya. Mulai dari penyiksaan fisik dan intimidasi dari oknum pemerintah hingga ancaman pembunuhan dari pihak-pihak yang merasa terusik dengan dakwahnya. Meski begitu, tekadnya untuk terus menyalakan pelita di tengah kegelapan tidak pernah surut. Bahkan, gagasan besar untuk kemaslahatan agama dan sesama terus dia hadirkan. Termasuk untuk urusan lingkungan hidup dan pelayanan kesehatan kepada warga Kepulauan Sapeken.

Jejak dan sepak terjang KH Ad-Dailamy tidak hanya sebagai bacaan untuk mengenang peristiwa masa lalu, melainkan sebagai tuntunan bagi generasi saat ini yang berhasrat menghadirkan cahaya untuk umat dan bangsa ini di jalan panjang perjuangan. Apalagi kisah juangnya turut diwarnai dengan tradisi sarat hikmah di tengah masyarakat yang saat ini mulai tergerus zaman. Tanpa jiwa pelita, rasanya tidak akan ada kado istimewa dari sejarah untuk hari ini dan masa depan.

Kalimat yang berulang kali KH Ad-Dailamy dengungkan ke sanubari para santrinya adalah rasa bangga terhadap perasaan peduli pada agama dan sesama. Mengajarkan manusia tentang syariat dan mengajak mereka ke jalan Tuhannya. Sebab, itulah puncak dan sebaik-sebaik rasa bagi seorang muslim. ”Seperti yang difirmankan Allah dalam Alquran, dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, ‘Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim,” kata KH Ad-Dailamy. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Hairul Faisal


No More Posts Available.

No more pages to load.