KabarBaik.co- Bola salju Muktamar Luar Biasa (MLB) Nahdlatul Ulama (NU) terus menggelinding. Meski ada reaksi-reaksi penolakan dari sejumlah pihak, namun Presidiun Penyelamat Organisasi tetap bergeming. Mereka terus bergerak maju mempersiapkan pelaksanaan MLB tersebut. Termasuk memohon doa dan restu dari para ulama sepuh.
Salah seorang ulama sepuh itu adalah KH Ahmad Muhtadi atau Abuya Muhtadi Dimyathi Al-Bantany. Beliau merupakan putra dari Abuya Dimyathi bin M. Amin Al-Bantany. Sedangkan ibunya adalah Asma’ binti ‘Abdul Halim Al-Makky. Selama ini, Abuya Muhtadi dikenal sebagai salah seorang ulama khas karena penguasan dan kedalaman ilmunya.
Dari kiriman video yang diterima KabarBaik.co Sabtu (4/9), yang datang sowan ke Abuya Muhtadi Ketua Sterring Committee (SC) MLB KH Imam Baihaqi, yang juga kerabat dari Mbah KH Maimoen Zubair, Sarang, Jawa Tengah.
Dalam pertemuan itu, Abuya Muhtadi mendoakan dan meminta presidium untuk terus maju demi menyelamatkan Nahdlatul Ulama yang berarti kebangkitan ulama. Bukan NU. ‘’Nahdlatul Ulama beda dengan NU. Kalau NU itu Numpang Urip,’’ ungkap Abuya.
Abuya Muhtadi juga mengibaratkan Nahdlatul Ulama itu seperti ayam kampung, sedangkan NU itu ayam negeri. ‘’Yang enak yang mana? Yang enak yang matang dan ada bumbunya. Cuma, kalau ayam kampung itu ada vitaminnya. Terus maju, pelan-pelan. Insya Allah. Di mana NU, di mana Nahdlatul Ulama, itu nanti ketahuan,’’ kata ulama asal Banten itu.
Seperti diberitakan sebelumnya, beberapa waktu lalu Presidiun Penyelamat Organisasi MLB NU melakukan konsolidasi nasional bersama puluhan kiai dan tokoh dari berbagai daerah di Cirebon, Jawa Barat. Rapat konsolidasi itu merupakan tindak lanjut pertemuan di kompleks Pesantren Syaikhona Kholil, Bangkalan, Madura. Agendanya persiapan pelaksanaan MLB setelah mendapatkan banyak pandangan dan saran dari warga serta pengurus NU melalui layanan hotline yang mereka buka sejak 6 September lalu.
Dalam pandangan Presidium Penyelamat Organisasi, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) produk Muktamar Lampung 2021 telah banyak melakukan pelanggaran. Baik itu Qonun Asasi maupun AD/ART. Mulai pecat-memecat, pembekuan pengurus, intervensi Pansus Haji DPR RI, politik transaksional soal izin tambang dan jabatan, dan beberapa penyimpangan lainnya. Karena itu, MLB menjadi solusi dan hal itu sesuai dengan konstitusi NU.
Presidium juga telah membentuk SC maupun OC untuk menggelar Pra dan MLB tersebut. Rencananya, MLB akan digelar pada awal Oktober. Namun, rencana itu mendapat reaksi dari sejumlah pengurus cabng (PC). Beberapa di antaranya dari PC di Jawa Barat. Selain itu, tiga pimpinan badan otonomo NU, yakni GP Ansor, Banser, dan Pagar Nusa, Cirebon, dalam pernyataan resminya juga menentang rencana MLB NU. Bahkan, mereka mengancsm akan membubarkan MLB jika benar-benar dilaksanakan.
Menanggapi penolakan, KH Abdussalam Shohib sebagai sekretaris SC MLB, menyatakan, pihaknya tidak akan terpancing. Pengasuh Ponpes Mambaul Maarif, Denanyar, Jombang, itu merespons dengan santai. ‘’Nanti, mereka (GP Ansor, Banser, dan Pagar Nusa, Red) perlu diajak ngopi dan mengaji,’’ ujar cucu KH Bisri Syansuri, salah seorang muassis (pendiri) NU itu.
Menurut Gus Salam, panggilan akrabnya, MLB yang akan digelar itu berbasis ilmiah dan akhlak. Dia juga memastikan, tidak akan berhenti berjuang demi kebaikan Nahdlatul Ulama, warga Nahdliyyin maupun masyarakat Indonesia pada umumnya. ’’Segala ancaman, intimidasi, dan kekerasan, jangan dibalas dengan hal sama. Tapi, direspons dengan kelembutan, kasih sayang, dan kebijaksanaan,’’ ujarnya.
Dia berharap, GP Ansor, Banser, dan Pagar Nusa lebih bijaksana. Gus Salam pun mengingatkan, tugas GP Ansor, Banser, dan Pagar Nusa adalah menjaga ulama baik struktural maupun kultural tanpa membeda-bedakan ijtihad dalam berorganisasi. “Saya yakin sahabat-sahabat Ansor, Bansor, Pagar Nusa, akan selalu bersikap dengan berlandaskan hati nurani, keilmuan, akhlakul karimah sebagai aktualisasi dari prinsip-prinsip Nahdlatul Ulama,” tuturnya.
Gus Salam juga menyampaikan, perbedaan pendapat serta dinamika dalam bersikap terkait PBNU dan Organisasi NU itu wajar dan bukan merupakan kali pertama terjadi. ‘’Sebut saja, antara Gus Dur, Kiai Hasyim Muzadi, Kiai Said, dan Gus Solah di masa lalu. Alhamdulillah, Ansor, Banser, dan Pagar Nusa selalu berada di tengah. Nah, saya yakin, saat ini juga sama,” ungkapnya. (*)