Palang Terakhir Erick Thohir

oleh -1181 Dilihat
JERSEY BARU

HARI-hari terakhir ini dan ke depan, boleh jadi tidur Erick Thohir tak nyenyak. Atau, malah biasa-biasa saja. Toh, selama ini ujian-ujian sudah kerap menerpanya. Kita saja yang tidak mengetahui. Kini, ia tengah menghadapi salah satu ujian besar lagi dalam masa kepemimpinannya. Sebagai Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sekaligus Ketua Umum PSSI.

Anda sudah tahu ada apa 20 Maret 2025. Tinggal sepuluh hari lagi. Ya, Timnas Indonesia bakal melanjutkan kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia. Di bawah pelatih kepala dan asisten pelatih baru. Dari Shin Tae-yong (STY) ke Patrick Kluivert. Transisi dua pelatih hebat itu sempat diwarnai kegaduhan. Panjang. Terutama di media sosial.

Di tengah upaya membangun sepak bola nasional agar mampu bersaing di level internasional, belakangan sorotan pada sektor BUMN juga tengah mengemuka. Skandal megakorupsi di pusaran PT Timah, Pertamina, utang gajah bengkak di sejumlah BUMN, beberapa BUMN merugi, Danantara, dan lainnya terasa makin menguat.

Kombinasi tantangan tersebut menjadikan posisi Erick Thohir tidak mudah. Bahkan, sangat mungkin bakal menjadi palang terakhir baginya. Harapan publik akan kebangkitan sepak bola Indonesia, sekaligus mempertaruhkan reputasi dan kredibilitasnya sebagai seorang pemimpin di BUMN.

Diakui, Timnas Indonesia telah menunjukkan perkembangan yang menjanjikan dalam beberapa tahun terakhir. Dengan masuknya pemain-pemain naturalisasi dan perbaikan infrastruktur sepak bola nasional, optimisme menuju Piala Dunia 2026 semakin meningkat. Namun, tantangan besar tetap menghadang, terutama dalam menghadapi lawan-lawan tangguh di fase lanjutan kualifikasi.

Pada 20 Maret, Skuad Garuda akan bertandang ke Australia. Anda sudah tahu, selama ini kesebelasan asal Negeri Kanguru langganan lolos ke Piala Dunia. Tentu, Australia juga bakal berjuang sekuat tenaga mengalahkan Indonesia. Lalu, pada 25 Maret, Jay Idzes dkk akan menjamu timnas Bahrain. Berikutnya, berhadapan dengan China dan Jepang.

Sebagai Ketua Umum PSSI, Erick Thohir harus memastikan bahwa persiapan timnas berjalan optimal. Ini mencakup kesiapan taktik, pemusatan latihan yang ideal, serta dukungan penuh dari federasi. Selain itu, aspek mentalitas pemain dan keberlanjutan program pengembangan harus tetap menjadi fokus utama agar Indonesia tidak sekadar menjadi peserta, tetapi juga mampu bersaing dengan tim-tim elite Asia.

Di sisi lain, Erick Thohir tidak hanya bertanggung jawab atas nasib Timnas Indonesia. Namun, juga atas berbagai problematika BUMN yang sedang mengalami sejumlah ’’guncangan’’. Berbagai isu, mulai dari masalah keuangan di beberapa perusahaan plat merah hingga tata kelola yang tengah mendapat sorotan publik, menambah tekanan terhadapnya.

Sebagai Menteri BUMN, Erick Thohir dihadapkan pada ekspektasi tinggi. Menyeimbangkan perannya di dua bidang itu. Sama-sama menyangkut kepentingan nasional. Beragam kritik bahwa perhatiannya terbagi antara sepak bola dan BUMN menjadi tantangan yang harus dijawab dengan langkah konkret. Baik dalam menyelamatkan perusahaan negara maupun membawa Timnas Indonesia ke level lebih tinggi.

Dengan jadwal kualifikasi Piala Dunia 2026 yang semakin mepet, ketat, dan tuntutan untuk membenahi BUMN, Erick Thohir berada dalam posisi yang tidak mudah. Namun, sebagai sosok yang dikenal dengan pendekatan manajerialnya yang kuat, jam terbang tinggi, ia masih memiliki kesempatan untuk membuktikan. Bahwa, kepemimpinannya mampu membawa perubahan positif di kedua sektor tersebut.

Jika Timnas Indonesia berhasil melaju lebih jauh dalam kualifikasi, ini tidak hanya akan menjadi sejarah bagi sepak bola nasional. Tetapi juga meningkatkan citra kepemimpinannya. Sebaliknya, jika terjadi kegagalan, maka mesti bersiap menghadapi tsunami kritik. Erick Thohir kini seolah berdiri di persimpangan jalan. Membawa kejayaan sepak bola Indonesia dan menghadapi konsekuensi dari guncangan di sektor BUMN yang dapat memengaruhi reputasinya di panggung nasional.

Sepak Bola dan Politik

Sepak bola bukan sekadar olahraga. Sepak bola telah lama menjadi lebih dari sekadar olahraga. Di berbagai belahan dunia, sepak bola sering kali berkelindan dengan politik. Diakui atau tidak, langsung atau tidak langsung, banyak tokoh yang menggunakan sepak bola sebagai sarana untuk meningkatkan citra dan popularitasnya. Keberhasilan timnas atau klub yang memiliki basis massa besar dapat dimanfaatkan sebagai alat legitimasi politik.

Ketika sebuah negara berhasil memenangkan turnamen besar, tokoh politik sering kali dikaitkan dengan keberhasilan tersebut. Bahkan, andaikan peran mereka dalam kesuksesan itu relatif kecil sekalipun.

Di beberapa negara, sepak bola juga digunakan sebagai alat propaganda untuk memperkuat nasionalisme. Rezim-rezim otoriter di masa lalu menjadikan sepak bola sebagai simbol kekuatan dan kebanggaan nasional untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari isu-isu sosial dan ekonomi yang lebih besar.

Tidak jarang terjadi intervensi politik dalam pengelolaan sepak bola, baik dalam pemilihan ketua federasi, penyelenggaraan kompetisi, hingga keputusan-keputusan besar yang berkaitan dengan kebijakan sepak bola nasional. Pemerintahan di berbagai negara memiliki pengaruh besar dalam pemilihan pengurus federasi sepak bola atau dalam keputusan strategis terkait kompetisi dan infrastruktur olahraga.

Memang, FIFA, sebagai badan sepak bola dunia, secara tegas melarang intervensi politik dalam sepak bola. Beberapa federasi sepak bola bahkan pernah mendapatkan sanksi dari FIFA akibat terlalu banyaknya campur tangan pemerintah dalam pengelolaan olahraga ini. Namun, kenyataannya, sulit untuk benar-benar memisahkan kedua hal ini.

Banyak politisi atau pemimpin negara yang juga terlibat langsung dalam dunia sepak bola. Baik sebagai pemilik klub, ketua federasi, maupun sebagai tokoh yang berpengaruh dalam industri sepak bola. Silvio Berlusconi, misalnya. Mantan Perdana Menteri (PM) Italia yang juga merupakan pemilik AC Milan, serta Presiden Argentina, Mauricio Macri, yang sebelumnya menjabat sebagai presiden klub Boca Juniors.

Ketika sepak bola dikaitkan dengan politik, dampaknya bisa positif maupun negatif. Jika dikelola dengan baik, keterlibatan politik dapat membantu perkembangan sepak bola, seperti dalam hal pendanaan, infrastruktur, dan kebijakan yang mendukung industri olahraga ini. Namun, jika politik terlalu mendominasi, sepak bola bisa kehilangan independensinya dan menjadi alat kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.

Kasus suap, korupsi, dan konflik kepentingan juga sering terjadi ketika politik terlalu masuk ke dapur. Mencampuri sepak bola. Hal ini dapat merusak kredibilitas olahraga tersebut dan membuat penggemar kehilangan kepercayaan terhadap pengelolaan sepak bola di negara mereka.

Kita percaya, sejauh ini Erick Thohir sangat memahami itu semua. Mengguruinya, sama dengan menggarami lautan. Mengajari bebek berenang. Yang penting, publik sepak bola di Tanah Air tengah menggantungkan asa kepada Erick Thohir di tengah riuh problematika di BUMN. Memberika support. Kita juga berdoa, semoga Tuhan Yang Maha Esa, mengabulkan asa tersebut. Paling untuk tidak kali ini saja. Ke depan, tentu mesti ikhtiar lagi, berupaya lagi, dan berdoa lagi.

Di tengah tantangan dan tekanan itu, kita pun ikut riang ketika Erick Thohir dalam cuitannya bergembira, betapa antusiasisme rakyat Indonesia terhadap sepak bola luar biasa. Alhamdulillah, tiket sudah sold out! (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini



No More Posts Available.

No more pages to load.