KabarBaik.co – Kemeriahan dan rasa syukur menyelimuti lapangan olahraga Desa Sambirejo, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, Minggu (2/2). Ribuan warga berkumpul untuk menghadiri acara tahunan “Andum Apokat”, sebuah tradisi unik yang menjadi perayaan hasil panen alpukat di wilayah tersebut.
Acara ini dibuka oleh Pj Bupati Jombang Teguh Narutomo didampingi Ny. Irnie Victorynie Teguh Narutomo. Turut hadir Kepala OPD terkait lingkup Pemkab Jombang, Camat Wonosalam dan Forkopimcam, Kepala Desa Sambirejo, serta tokoh masyarakat dan petani setempat.
Andum Apokat merupakan tradisi turun temurun yang digelar setiap tahun sebagai ungkapan syukur atas melimpahnya hasil panen alpukat di Desa Sambirejo. Acara ini dimeriahkan dengan berbagai kegiatan, seperti kirab hasil bumi, pertunjukan seni tradisional, dan tentu saja, pembagian alpukat gratis kepada masyarakat.
Pj Bupati Jombang, dalam sambutannya, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya acara Andum Apokat. Ia berharap tradisi ini dapat terus dilestarikan dan menjadi daya tarik wisata bagi daerah Wonosalam.
“Kegiatan ini merupakan wujud syukur atas nikmat Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus sebagai upaya untuk mempromosikan potensi pertanian dan pariwisata di Kabupaten Jombang,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Desa Sambirejo Slamet, mengatakan bahwa Andum Apokat tahun ini merupakan yang terbesar sejak tradisi ini digelar. “Alhamdulillah, panen alpukat tahun ini sangat melimpah. Kami berharap acara ini dapat membawa berkah bagi seluruh masyarakat Sambirejo,” tuturnya.
Ribuan warga yang hadir tampak antusias mengikuti acara Andum Apokat. Mereka berebut alpukat yang dibagikan secara gratis. Tak hanya itu, mereka juga menikmati berbagai hiburan yang disuguhkan, seperti pertunjukan seni kuda lumping dan musik dangdut.
“Saya sangat senang bisa hadir di acara ini. Alpukatnya segar-segar dan enak,” ujar salah satu pengunjung, Sumiati.
Andum Apokat tidak hanya menjadi perayaan hasil panen alpukat, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi antar warga dan mempererat tali persaudaraan. Tradisi ini diharapkan dapat terus dilestarikan dan menjadi kebanggaan masyarakat Wonosalam. (*)







