KabarBaik.co, Jombang – Harapan besar menyertai musim panen padi pertama tahun 2026 di Jombang. Dinas Pertanian (Disperta) Jombang memproyeksikan produksi gabah meningkat seiring luas tanam yang optimal dan kondisi tanaman yang dinilai baik di hampir seluruh wilayah.
Kepala Disperta Jombang M Rony mengatakan pada Musim Tanam (MT) I 2026, luas panen ditargetkan mencapai sekitar 35.000 hektare. Panen raya diperkirakan berlangsung pada pertengahan Maret hingga awal April 2026.
“Sebaran tanaman hampir merata di seluruh kecamatan dan kondisinya cukup bagus. Ini menjadi indikator positif terhadap capaian produksi,” kata Rony, Kamis (12/2).
Dari sisi produktivitas, rata-rata hasil Gabah Kering Panen (GKP) diproyeksikan mencapai 7,5 ton per hektare. Jika dikonversi menjadi Gabah Kering Giling (GKG), hasilnya berkisar 6,24 ton per hektare. Angka tersebut disebut lebih baik dibanding periode sebelumnya.
Rony menyebut peningkatan produksi tak hanya berdampak pada penguatan ketahanan pangan daerah, tetapi juga berpotensi mendongkrak pendapatan petani. Disperta, lanjutnya, terus melakukan pendampingan teknis mulai dari proses budidaya hingga panen.
Secara tahunan, Jombang memiliki rata-rata luas panen sekitar 70.000 hektare. Pada 2025, realisasi luas tanam bahkan melampaui target pemerintah pusat. Dari target 81.000 hektare, Jombang mampu merealisasikan 86.000 hektare dengan produktivitas GKG 6,24 ton per hektare.
Total produksi saat itu mencapai lebih dari 446 ribu ton gabah kering giling atau setara sekitar 257 ribu ton beras. Sementara kebutuhan konsumsi beras masyarakat Jombang per tahun berada di angka sekitar 149 ribu ton.
Dengan demikian, Jombang mencatat surplus beras lebih dari 108 ribu ton.
“Surplus ini menjadi modal penting bagi ketahanan pangan daerah sekaligus kontribusi terhadap pasokan nasional,” ujarnya.
Menghadapi musim tanam berikutnya, Disperta juga mencermati prakiraan cuaca dari BMKG. Pada 2026, kondisi iklim diprediksi cenderung normal. Musim kemarau diperkirakan mulai akhir April atau awal Mei, sedangkan musim hujan kembali pada pertengahan Oktober.
Kondisi tersebut dinilai mendukung perencanaan tanam, baik untuk padi maupun komoditas lainnya.
“Selain padi, tanaman tembakau serta palawija seperti jagung, kedelai, dan semangka diperkirakan dapat tumbuh optimal pada musim kemarau mendatang,” pungkas Rony. (*)






